Waktu baru beranjak mendekati pukul 05.58 WITA. Warga di Kota Maumere pun baru memulai aktivitas saat tanah di Nusa Tenggara Timur (NTT) tiba-tiba berguncang. Sontak, peristiwa yang berlangsung hingga beberapa menit itu membuat warga berhamburan keluar rumah. “Warga berhamburan ke luar rumah. Banyak yang langsung mengemas barang-barang dan melarikan diri menggunakan sepeda motor dan mobil,” ujar Riski Parera, warga Kota Maumere, Sabtu (15/8/25). Hanya dalam hitungan menit, Jalan Raya Trans Flores penuh ribuan warga yang berlarian menuju perbukitan. Bayang-bayang tsunami yang terjadi 1992 mendorong mereka segera mencari tempat dataran tinggi. Pagi itu, gempat berkekuatan 7, 2 skala richter mengguncang NTT. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut perisitwa itu berpotensi memicu tsunami, sesaat setelah kejadian. Sekitar pukul 07.30, peringatan dini tsunami BMKG cabut. Meski begitu, sebagian besar warga masih belum berani kembali pulang. “Kami belum berani ke rumah karena masih trauma dengan gempa dan tsunami tahun 1992,” sebut Siti Zulfiah Bira, warga Kelurahan Kota Uneng kepada Mongabay. Tempat tinggalnya tak jauh dari pantai membuat dia memilih bertahan di lapangan Kantor Kwarcab Sikka, salah satu tempat pengusian yang pemerintah siapkan. Bersama ribuan warga lain, dia dan anggota keluarganya memilih bertahan di pengungsian. Suasana pelayanan dukungan psikososial melalui kegiatan trauma healing serta kehadiran perpustakaan keliling di pengungsian GOR Samador, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (18/8). Foto: Pusdatin BNPB. Trauma tsunami 1992 Kendati saat gempa dan tsunami 1992, Siti masih dapat mengingat suasa mencekam kala itu. Trauma akan peristiwa itu pula yang membuatnya tak berani pulang sebelum kondisi benar-benar aman. “Gempa susulan…This article was originally published on Mongabay
Ketika Gempa Dahsyat Hantam Nusa Tenggara Timur
Ketika Gempa Dahsyat Hantam Nusa Tenggara Timur





Comments are closed.