Bulunya didominasi warna cokelat keabu-abuan. Suaranya pun tidak semerdu burung kicau. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, uncal enggano menjalankan pekerjaan penting: membantu hutan tumbuh kembali. Uncal enggano (Macropygia cinnamomea) merupakan burung endemik yang hanya ditemukan di Pulau Enggano, Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. Pulau seluas sekitar 40 ribu hektar ini diakui secara internasional sebagai Daerah Penting bagi Burung dan Keanekaragaman Hayati. Burung yang masih satu keluarga dengan merpati ini lebih dikenal sebagai penghuni hutan. Di habitat alaminya, uncal enggano sering terlihat berpasangan dan memakan buah-buahan liar. Salah satu makanan yang disukainya adalah buah pohon nelung, sebutan lokal untuk pohon yang menghasilkan buah kecil seukuran jagung. Uncal juga mampu menyesuaikan diri dengan perubahan bentang alam. Burung ini mulai terlihat di kebun warga yang berbatasan dengan hutan. Ketika mencari makan di lahan pertanian, beberapa individu dapat berkumpul di tempat yang sama. Mereka memakan jagung, padi, dan pisang. Lalu, bagaimana burung ini membantu meregenerasi hutan? Uncal tidak menetap pada satu pohon atau satu lokasi. Seperti merpati hutan lainnya, burung ini memiliki daya jelajah cukup luas dan berpindah mengikuti musim buah. Ketika satu pohon selesai berbuah, uncal akan bergerak mencari sumber makanan berikutnya. Selama perjalanan itulah biji tumbuhan ikut berpindah. Uncal cenderung menelan buah-buahan kecil secara utuh, bukan memecahkan bijinya. Sebagian biji memang rusak ketika melewati saluran pencernaan. Namun, sebagian lainnya tetap utuh dan keluar bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induknya. Biji juga dapat jatuh ketika burung bertengger atau saat memberikan makanan kepada anaknya. Jika kondisi lingkungan sesuai, biji tersebut…This article was originally published on Mongabay
Hutan dan Uncal Enggano yang Tidak Bisa Dipisahkan
Hutan dan Uncal Enggano yang Tidak Bisa Dipisahkan





Comments are closed.