Presiden Prabowo Subianto dalam pidato di sidang tahunan MPR, Jumat (14/8/26), mengklaim sejumlah keberhasilan dua tahun masa pemerintahannya, seperti Indonesia sudah swasembada pangan maupun kesuksesan transisi energi. Prabowo klaim, swasembada pangan hanya perlu waktu satu tahun, lebih cepat dari yang perkiraan. “Swasembada pangan yang kita targetkan tercapai dalam empat tahun, ternyata berhasil kita capai dalam waktu satu tahun di tengah dunia sekarang yang sangat khawatir terhadap kelaparan massal,” kata Prabowo dari teks lengkap pidatonya. Tahun ini, katanya, swasembada delapan komoditas pangan tercapai, antara lain, beras, jagung, gula, daging ayam, telur ayam, bawang merah, cabai besar, dan cabai rawit. Berbagai kalangan dari organisasi masyarakat sipil sampai akademisi menyoroti klaim Prabowo itu. Isnawati Hidayah, Menteri Pertanian dan Kedaulatan Pangan Kabinet Bayangan mengkritik klaim Prabowo soal swasembada pangan yang hanya mengandalkan angka-angka agregat terhadap delapan komoditas. Dia bilang, Prabowo melupakan fakta penting kondisi pertanian Indonesia, bahwa ada 17 juta petani gurem yang hanya mengelola lahan di bawah 0,5 hektar. “Itu pun bisa saja lahan milik orang. Mereka hanya sebagai buruh atau mereka bertani cuma untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari,” ujar Isnawati dalam konferensi pers Kabinet Bayangan. Dia juga mengatakan, petani yang merupakan produsen pangan justru hidup dalam kemiskinan. Sekitar 47,94% penduduk miskin ekstrem berada di sektor pertanian. Anggaran ratusan triliun yang negara gelontorkan atas nama swasembada pangan, tidak berdampak positif bagi kehidupan petani gurem. Pemerintah, katanya, mengalokasikan anggaran ketahanan dan swasembada pangan dalam RAPBN 2027 sebesar Rp195,3 triliun. Angka ini naik 2,3% dari outlook APBN 2026 sebesar Rp190,9 triliun. Anggaran itu teralokasi antara lain…This article was originally published on Mongabay
Mencermati Pidato Prabowo soal Pangan, Energi sampai Bisnis Karbon
Mencermati Pidato Prabowo soal Pangan, Energi sampai Bisnis Karbon





Comments are closed.