Tempo hari, saya dikunjungi para mahasiswa yang bergabung dalam Forum Komunikasi Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Hadis. Mereka berasal dari berbagai kampus Perguruan Tinggi negeri maupun swasta di Jawa. Dalam pertemuan itu, kita berbincang mengenai isu-isu kontemporer berkaitan Al-Quran yang perlu dibahas di ruang kelas dan forum akademik.
Saya senang dengan kunjungan para mahasiswa tadi. Ini mengingatkan saya di mana dalam beberapa dekade ini, saya diajak terlibat di berbagai komunitas sosial, mulai dari yang bersifat akademik hingga primordial, karena kesamaan asal tanah kelahiran, sekolah, pondok pesantren, organisasi, hingga trah keluarga. Bahkan, juga ada komunitas yang diikat oleh kesamaan hobi. Tujuannya juga beraneka rupa, mulai sekadar klangenan, keguyuban, hingga visi agama, kemaslahatan dan kemanusiaan.
Fenomena ikatan komunal macam ini semakin menguat ketika era digital datang. Aneka rupa aplikasi, seperti WhatApp, Telegram, dan instagram menjadi bagian ruang utama yang memberikan kemudahan dalam mengekspresikannya. Di grub-grub WhatApp, misalnya, orang bukan hanya bisa saling bertukar informasi tetapi juga mengungkapkan perasaan, pendapat, maupun kritik.
Dari sudut pandang sosiologis fenomena macam itu hal biasa, karena manusia adalah makhluk yang selalu mencari kebersamaan dengan aneka rupa ikatan. Sejak lahir, manusia tidak pernah hidup sendirian. Ia tumbuh dalam keluarga, belajar dalam komunitas, bekerja dalam organisasi, dan menemukan identitasnya dalam berbagai kelompok sosial. Karena itulah, sepanjang sejarah peradaban, manusia terus membangun perkumpulan, paguyuban, organisasi, komunitas, hingga pembentukan bangsa dan negara.
Di balik setiap perkumpulan itu, selalu ada sesuatu yang menyatukan, misalnya kesamaan keyakinan, profesi, cita-cita, kepentingan, hobi, asal-usul, atau bahkan pengalaman hidup. Kesamaan ini menjadi semacam lem perekat sosial yang membuat orang merasa memiliki perkumpulan itu sebagai rumah bersama.
Namun di balik hasrat untuk berkumpul macam itu, ternyata manusia juga bisa mengidap paradoks. Pada kenyataannya, mereka tidak hanya pandai membangun titik temu, tetapi juga sering menciptakan titik tengkar dan titik silang. Perkumpulan yang awalnya dilahirkan untuk memperkuat solidaritas, dalam perkembangannya tidak jarang berubah menjadi arena persaingan, pertentangan, bahkan perpecahan dan jalan mengeksklusi.
Mengapa hal macam ini terjadi? Mengapa manusia yang sejak awal tumbuh di alam yang saling membutuhkan justru sering bertikai dengan sesamanya?
Sejak zaman Yunani kuno, filsuf seperti Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politikon, makhluk yang hanya dapat berkembang dalam kehidupan bersama. Manusia tidak cukup hanya hidup secara biologis; ia membutuhkan pengakuan, kasih sayang, rasa aman, dan makna hidup yang hanya dapat diperoleh melalui relasi sosial.
Dalam perspektif sosiologi, perkumpulan macam di atas lahir karena manusia memiliki kebutuhan untuk membangun identitas kolektif. Ketika seseorang bergabung dalam sebuah kelompok, ia tidak hanya mendapatkan teman atau jaringan, tetapi juga memperoleh jawaban atas pertanyaan mendasar: “Siapa saya?”
Karena itu, organisasi keagamaan, kelompok profesi, komunitas budaya, organisasi mahasiswa, bahkan kelompok pecinta tanaman atau olahraga, pada dasarnya adalah cara manusia membangun rasa memiliki dan cara bereksistensi. Dalam kebersamaan yang demikian, manusia menemukan kekuatan yang tidak dimilikinya ketika sendirian.
Masalah muncul ketika identitas yang semula berfungsi sebagai perekat berubah menjadi tembok pemisah. Ini terjadi karena ego dan kepentingan sesaat yang sempit mulai menjadi sabuk pengikat utama. Yang tumbuh dalam diri mereka cara pikir dan kecenderungan membagi dunia secara binner, menjadi “kami” dan “mereka”. Kelompok sendiri dianggap lebih baik, lebih benar, lebih mulia, atau lebih layak dibanding kelompok lain. Atau dalam konteks politik karena kontestasi kepentingan dan keuntungan politik. Terjadi ingroup bias.
Pada tahap tertentu, di sini solidaritas internal justru tumbuh melalui penciptaan musuh bersama. Sebuah kelompok merasa semakin kuat ketika memiliki pihak yang dianggap berbeda atau berlawanan, bukan karena ikatan kemanusiaan atau keadilan sebagai visi bersama. Di sinilah titik temu perlahan berubah menjadi titik tengkar yang disatukan oleh kepentingan, bukan oleh kebenaran, apalagi kemaslahatan.
Seseorang yang awalnya bangga terhadap komunitasnya mulai memandang rendah komunitas lain. Kesetiaan berubah menjadi fanatisme. Komitmen berubah menjadi kultus dan berorientasi politis. Perbedaan yang seharusnya menjadi kekayaan dipersepsikan sebagai ancaman.
Ironisnya, konflik macam ini sering kali tidak lahir karena perbedaan, melainkan karena kedekatan yang terlalu dekat dan lekat. Banyak pertikaian paling keras justru terjadi di antara mereka yang memiliki akar yang sama: sesama keluarga, sesama organisasi, sesama mazhab, sesama partai, atau sesama bangsa.
Dari sudut pandang filsafat sosial, konflik-konflik macam itu tidak semata-mata soal perbedaan gagasan. Tapi, di balik pertentangan yang terjadi sering tersembunyi perebutan makna, kepentingan dan kekuasaan. Titik tengkar di sini terjadi karena hasrat kekuasaan dan ego politik.
Pemikir Prancis Michel Foucault menunjukkan bahwa pengetahuan dan kekuasaan hampir selalu berjalan beriringan. Ketika seseorang mengklaim dirinya paling benar dan paling kuat, sering kali yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kebenaran, melainkan juga pengaruh, legitimasi, dan posisi sosial.
Karena itu, perdebatan yang tampak intelektual kadang sesungguhnya tak lebih merupakan persaingan simbolik. Di situ, orang tidak hanya ingin didengar, tetapi juga ingin menjadi pusat perhatian dan poros kekuasaan. Tidak hanya ingin berkontribusi, tetapi juga ingin kemapanan, diakui dan jalan bereksistensi.
Dalam banyak organisasi dan perkumpulan, konflik tidak muncul karena visi yang berbeda secara mendasar, melainkan karena ego dan kepentingan yang saling bertabrakan.Di sini kita menemukan kenyataan bahwa persoalan sosial sering kali berakar pada persoalan hasrat yang dibatinkan.
Masyarakat modern juga memperbesar kecenderungan tersebut. Media sosial, misalnya, menciptakan ruang yang sangat mudah untuk membangun polarisasi. Algoritma lebih menyukai pertentangan daripada dialog. Konten yang memancing kemarahan biasanya menyebar lebih cepat dibandingkan konten yang mengajak refleksi.
Akibatnya, masyarakat perlahan terbiasa melihat dunia sebagai arena pertarungan opini. Orang berlomba menjadi yang paling benar, bukan yang paling memahami dan keteguhan pada kebenaran.
Budaya ini melahirkan apa yang oleh filsuf Korea Selatan Byung-Chul Han disebut sebagai masyarakat yang kehilangan kemampuan mendengarkan. Semua orang berbicara, tetapi sedikit yang benar-benar menyimak. Ketika kemampuan mendengarkan melemah, ruang dialog menyempit. Ketika dialog menyempit, konflik menjadi lebih mudah tumbuh.
Berbeda dengan logika kompetisi modern di atas, banyak tradisi Nusantara justru dibangun di atas prinsip kebersamaan dan harmoni. Dalam budaya Jawa dikenal ungkapan rukun agawe santosa, crah agawe bubrah—kerukunan menciptakan kekuatan, pertengkaran membawa kehancuran.
Tradisi musyawarah, gotong royong, rembug desa, hingga budaya kenduri menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus diselesaikan dengan kemenangan satu pihak atas pihak lain. Tujuannya bukan mencari siapa yang paling unggul, tetapi menjaga keseimbangan hubungan sosial.
Kearifan ini mengandung pelajaran penting bahwa masyarakat yang sehat bukan masyarakat tanpa perbedaan, melainkan masyarakat yang mampu mengelola perbedaan, bukan dengan basa-basi dalam narasi.
Akar terdalam aneka konflik di atas sering kali terletak pada ego dan hasrat kuasa tadi. Sufi besar Jalaluddin Rumi pernah mengingatkan bahwa manusia sering terjebak pada bentuk, baju, dan label, lalu melupakan hakikat. Kata dia, manusia sering terlalu sibuk mempertahankan identitas luar, tetapi tak sadar kehilangan kesadaran akan nilai dan kemanusiaan yang lebih mendasar.
Pemikir Muslim Iran, Ali Shariati, dalam konteks ini juga telah mengingatkan kita bahwa manusia sejati adalah manusia yang terus bergerak melampaui aneka rupa kepentingan dirinya menuju kesadaran sosial dan kemanusiaan yang lebih luas.
Dari perspektif ini, tujuan berkumpul bukan sekadar memperkuat kelompok sendiri, melainkan memperbesar manfaat bagi kehidupan bersama. Ketika sebuah perkumpulan hanya sibuk membesarkan dirinya sendiri atau bahkan sebatas label politik, ia mudah jatuh pada eksklusivisme akut. Tetapi ketika orientasinya adalah kemaslahatan yang lebih luas, ia akan lebih terbuka terhadap dialog dan kerja sama.
Lalu bagaimana cara mengurai kecenderungan manusia yang suka menciptakan titik tengkar dalam titik temu di atas?
Pertama, kita perlu membangun kesadaran dan kemampuan dalam membedakan antara identitas dan kebenaran. Sebab, memiliki identitas kelompok tidak berarti memonopoli kebenaran atau menjadi penentu dan poros kemaslahatan.
Kedua, mengembangkan budaya mendengarkan. Banyak konflik tidak lahir karena perbedaan pendapat, melainkan karena tidak adanya ruang yang luas untuk saling memahami dan mendengarkan secara substansial dan subtil.
Ketiga, menggeser orientasi dari menang menuju bertumbuh. Dialog hakikatnya bukan ajang mengalahkan lawan, melainkan kesempatan memperluas wawasan dan kebermanfaatan seluas-luasnya.
Keempat, memperkuat tujuan bersama yang melampaui kepentingan kelompok. Semakin besar tujuan kolektif, semakin kecil ruang bagi ego sektoral untuk tumbuh.
Kelima, menumbuhkan kerendahan hati intelektual. Di sini, dipahami dan disadari bahwa pengetahuan manusia yang selalu terbatas akan membuat seseorang lebih terbuka terhadap pandangan yang berbeda.
Pada akhirnya, sejarah manusia adalah sejarah pencarian keseimbangan antara kebersamaan dan perbedaan. Orang berkumpul karena membutuhkan sesama, tetapi ia juga sering bertengkar karena terjebak dalam ego, identitas, dan hasrat untuk mendominasi dan berkuasa.
Karena itu, tantangan terbesar kehidupan sosial kita bukanlah bagaimana membuat semua orang sama, melainkan bagaimana menjadikan perbedaan sebagai sumber pembelajaran, bukan sumber permusuhan atau saling mengeksklusi.
Perkumpulan, organisasi, komunitas, dan bahkan bangsa pada hakikatnya lahir untuk membangun jembatan antarmanusia. Ketika jembatan itu berubah menjadi tembok, maka kita kehilangan tujuan awal dari kebersamaan itu sendiri.
Ukuran kematangan sebuah individu dan masyarakat bukanlah seberapa banyak orang yang berhasil dikumpulkannya, melainkan seberapa luas kemampuan mereka menemukan titik temu di tengah perbedaan dan memberikan kebermanfaatan seluas-luasnya. Sebab peradaban tidak dibangun oleh mereka yang selalu sepakat, tetapi oleh mereka yang mampu berbeda tanpa harus saling meniadakan sembari menumbuhkan kemaslahatan bersama. Adagium islah bukan sekadar plakat, karena ia bukan sekadar nama masjid atau musala, melainkan sikap dan prinsip hidup. Dan bukankah nilai dan kualitas manusia ditentukan oleh kemampuannya tumbuh dalam keislahan, sehingga dapat menabur kemaslahatan kepada sesama?[]




Comments are closed.