Krisis air mengintai ketika sumber-sumber mata air mengering satu persatu. Fenomena ini mulai terjadi di Jawa dan Madura. Seperti di Sumenep, Madura, beberapa sumber mata air mengering atau debit menyusut. Dari penelusuran Mongabay pada Januari lalu, tujuh dari 11 mata air di Desa Gilang, Sera Barat, Sera Timur, Sera Tengah dan Aeng Baja Raja, kering dan tidak bisa berfungsi lagi kendati di musim hujan. Sebagian kolam sumber air tergenang air selebihnya masih berfungsi tetapi debit air turun drastis. Tak pelak, sawah-sawah yang bergantung dari sumber air pun terdampak, tak ada lagi pengairan. Kini, sawah-sawah itu mengandalkan air hujan. Pada musim padi, petani beralih menanam jagung. Petrasa Wacana, ahli geologi dan speleologi juga Ketua Umum Masyarakat Speleologi Indonesia mengatakan, ada banyak faktor penyebab sumber air mengering. Salah satu, katanya, penggunaan sumur bor berlebihan dapat berpengaruh terhadap penurunan debit air permukaan. Terlebih bila sumur bor dari aquifer atau sumber sama. Karena, katanya, air yang harusnya keluar melalui mata air dicegat oleh sumur bor. “Apabila pengambilan sumur bor ini berlangsung lama, muka air tanah akan membentuk cekungan dan mengakibatkan tekanan air berkurang dan debit mata air akan mengecil. Apabila kekuatan daya hisap air tidak seimbang dibandingkan kemampuan air secara alami mengisi aquifer,” katanya belum lama ini. Petani padi gagal panen akibat kekeringan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Faktor lain, katanya, penggunaan air berlebihan, tutupan lahan berkurang, dan perubahan bentang alam juga dapat berdampak pada hilangnya daya isi air alami ke akuifer. Kondisi itu, katanya, meningkatkan run off saat musim hujan dan dalam kondisi cuaca…This article was originally published on Mongabay
Ketika Mata Air Mulai Mengering, Krisis Air Hantui Jawa dan Madura?
Ketika Mata Air Mulai Mengering, Krisis Air Hantui Jawa dan Madura?





Comments are closed.