Tue,21 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Ketika Mata Air Mulai Mengering, Krisis Air Hantui Jawa dan Madura?

Ketika Mata Air Mulai Mengering, Krisis Air Hantui Jawa dan Madura?

ketika-mata-air-mulai-mengering,-krisis-air-hantui-jawa-dan-madura?
Ketika Mata Air Mulai Mengering, Krisis Air Hantui Jawa dan Madura?
service

Krisis air mengintai ketika sumber-sumber mata air mengering satu persatu. Fenomena ini mulai terjadi di Jawa dan Madura. Seperti di Sumenep, Madura, beberapa sumber mata air mengering atau debit menyusut. Dari penelusuran Mongabay pada Januari lalu, tujuh dari 11 mata air di Desa Gilang, Sera Barat, Sera Timur, Sera Tengah dan Aeng Baja Raja, kering dan tidak bisa berfungsi lagi kendati di musim hujan. Sebagian kolam sumber air tergenang air selebihnya masih berfungsi tetapi debit air turun drastis. Tak pelak, sawah-sawah yang bergantung dari sumber air pun terdampak, tak ada lagi pengairan. Kini, sawah-sawah itu mengandalkan air hujan. Pada musim padi, petani beralih menanam jagung. Petrasa Wacana, ahli geologi dan speleologi juga Ketua Umum Masyarakat Speleologi Indonesia mengatakan, ada banyak faktor penyebab sumber air mengering.  Salah satu, katanya, penggunaan sumur bor berlebihan dapat berpengaruh terhadap penurunan debit air permukaan. Terlebih bila sumur bor dari aquifer atau sumber sama. Karena, katanya, air yang harusnya keluar melalui mata air dicegat oleh sumur bor. “Apabila pengambilan sumur bor ini berlangsung lama, muka air tanah akan membentuk cekungan dan mengakibatkan tekanan air berkurang dan debit mata air akan mengecil. Apabila kekuatan daya hisap air tidak seimbang dibandingkan kemampuan air secara alami mengisi aquifer,” katanya belum lama ini. Petani padi gagal panen akibat kekeringan. Foto: Falahi Mubarok/Mongabay Indonesia Faktor lain, katanya, penggunaan air berlebihan, tutupan lahan berkurang, dan perubahan bentang alam juga dapat berdampak pada hilangnya daya isi air alami ke akuifer. Kondisi itu, katanya, meningkatkan run off saat musim hujan dan dalam kondisi cuaca…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.