Sat,2 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Ketua PBNU: Negara yang Membuat Warganya Takut Tak Bisa Disebut Demokratis

Ketua PBNU: Negara yang Membuat Warganya Takut Tak Bisa Disebut Demokratis

ketua-pbnu:-negara-yang-membuat-warganya-takut-tak-bisa-disebut-demokratis
Ketua PBNU: Negara yang Membuat Warganya Takut Tak Bisa Disebut Demokratis
service

Jakarta, NU Online 

Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mohamad Syafi’ Alielha atau Savic Ali menilai demokrasi tidak dapat diukur semata dari keberadaan pemilu. Menurutnya, demokrasi runtuh ketika negara justru menciptakan rasa takut di tengah warga melalui pembungkaman kritik, kekerasan aparat, serta absennya perlindungan terhadap hak-hak dasar.​​​​​

Savic Ali menjelaskan, salah satu penanda utama negara demokratis adalah rasa aman warga untuk menyampaikan pendapat. Ketika kebebasan berekspresi dibatasi dan kritik berujung kriminalisasi, negara telah bergerak menjauh dari prinsip pemerintahan yang berpihak pada rakyat.

Ia menekankan bahwa kekuasaan secara alamiah cenderung korup dan karena itu harus diawasi. Namun, pengawasan hanya mungkin berjalan bila ruang kebebasan tetap dijaga. 

“Kalau ruang berbicara diambil, kontrol publik ikut mati,” ujarnya dalam diskusi bertema Islam, HAM, dan Dinamika Demokrasi di Outlier Cafe, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (27/2/2026).

Dalam pandangannya, rasa takut yang dialami warga hari ini bukan muncul tanpa sebab. Ia menyoroti berbagai kasus kekerasan aparat, penanganan hukum yang tidak transparan, hingga impunitas yang membuat pelanggaran tidak tersentuh proses keadilan. Situasi tersebut, menurut Savic Ali, menciptakan kesan bahwa nyawa dan keselamatan warga terutama kelompok kecil tidak diposisikan sebagai nilai utama.

Savic Ali menilai kondisi ini berbahaya bagi demokrasi. Negara yang demokratis, kata dia, semestinya tidak merasa terancam oleh kritik warganya. 

“Ketika negara mudah menciptakan ketakutan dan rasa tidak aman, maka secara prinsip ia tidak lagi bekerja dalam kerangka demokrasi,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan bahwa demokrasi tidak hanya soal suara mayoritas. Tanpa perlindungan hak, demokrasi justru bisa jatuh pada tirani mayoritas. Karena itu, kebebasan berpendapat dan perlindungan terhadap hak hidup, harta, serta martabat manusia tidak boleh dikorbankan atas nama stabilitas atau niat baik kekuasaan.

Dalam konteks keislaman, Savic Ali menegaskan bahwa praktik kekuasaan yang mengabaikan keselamatan dan rasa aman warga bertentangan dengan prinsip dasar ajaran Islam. Islam, menurutnya, meletakkan perlindungan jiwa dan kemaslahatan sebagai fondasi utama yang wajib dijaga oleh pemimpin.

“Kalau negara menciptakan ketakutan, menghilangkan rasa aman, dan menutup ruang kritik, itu bukan hanya masalah demokrasi, tapi juga persoalan etika dan nilai,” katanya.

Savic Ali memperingatan bahwa demokrasi yang kehilangan rasa aman akan sulit dipulihkan. Tanpa jaminan kebebasan dan perlindungan hak, negara berisiko bergerak ke arah kekuasaan yang semakin tertutup dan sentralistis, jauh dari cita-cita pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.