Wed,6 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Trauma Korban Kekerasan Seksual Perlu Penanganan Tepat, Ini Penjelasan Psikolog

Trauma Korban Kekerasan Seksual Perlu Penanganan Tepat, Ini Penjelasan Psikolog

trauma-korban-kekerasan-seksual-perlu-penanganan-tepat,-ini-penjelasan-psikolog
Trauma Korban Kekerasan Seksual Perlu Penanganan Tepat, Ini Penjelasan Psikolog
service

Jakarta, NU Online

Kasus kekerasan seksual terhadap anak dan santri di lingkungan pesantren menyisakan dampak psikologis yang mendalam bagi korban. Trauma yang tidak ditangani dengan tepat berpotensi berkembang menjadi gangguan jangka panjang.

Psikolog klinis lulusan Universitas Islam Indonesia (UII), Alifa Fadia Ainaya, menjelaskan bahwa siklus trauma pada korban kekerasan seksual terjadi ketika pengalaman menyakitkan tidak diproses secara emosional. Akibatnya, trauma muncul berulang dalam bentuk ingatan, rasa takut, atau perilaku tertentu.

Pada anak dan santri, trauma dapat terlihat dalam bentuk ketakutan berlebih, menarik diri, sulit percaya pada orang dewasa, hingga menormalisasi kekerasan karena tidak memahami bahwa yang dialami adalah tindakan yang salah.

“Jika lingkungan tidak responsif, korban bisa merasa sendirian dan bingung. Trauma justru menguat dari waktu ke waktu,” ujar Alifa kepada NU Online, Rabu (6/5/2026).

Ia menambahkan, lingkungan asrama seperti pesantren memiliki kerentanan tersendiri karena keterbatasan akses terhadap figur aman di luar sistem. Rasa bersalah, malu, dan stigma juga memperpanjang siklus trauma, karena membuat korban memilih diam.

“Ketika emosi tidak diproses dan tidak ada validasi, luka psikologis semakin dalam dan korban semakin sulit mencari bantuan,” jelasnya.

Jika tidak ditangani, trauma dapat berkembang menjadi masalah yang lebih luas, seperti kesulitan membangun kepercayaan, gangguan regulasi emosi, hingga pola relasi yang tidak sehat di masa depan. Risiko gangguan seperti post-traumatic stress disorder (PTSD), depresi, dan kecemasan juga meningkat.

PTSD dapat muncul dalam bentuk mimpi buruk, flashback, dan kewaspadaan berlebih (hipervigilance). Sementara depresi ditandai perasaan putus asa dan kehilangan minat, serta kecemasan berupa rasa takut berlebihan.

Ketimpangan Relasi dan Hambatan Pelaporan

Psikolog klinis Risma Amelia Widyawati menyoroti relasi antara pengasuh dan santri yang kerap tidak seimbang. Perbedaan otoritas moral, sosial, dan religius membuat santri berada dalam posisi rentan.

Dalam kondisi tersebut, korban berpotensi mengalami ketidakselarasan kognitif, yakni pertentangan antara keyakinan bahwa pengasuh adalah sosok baik dengan pengalaman kekerasan yang dialami. Situasi ini sering berujung pada kecenderungan menyalahkan diri sendiri.

“Jika terjadi berulang dan korban merasa tidak memiliki kontrol, bisa muncul learned helplessness atau ketidakberdayaan yang dipelajari, ditandai sikap pasif dan hilangnya dorongan untuk melapor,” ujar Risma.

Paparan berulang juga dapat memicu trauma psikologis lebih dalam, termasuk PTSD, kecemasan, dan kesulitan mengelola emosi. Dalam beberapa kasus, muncul pula trauma bonding, yakni keterikatan emosional yang paradoksal terhadap pelaku.

Pentingnya Ekosistem Aman

Risma menekankan bahwa fokus penanganan tidak hanya pada kemampuan anak untuk bercerita, tetapi juga pada penciptaan ekosistem yang aman. Anak cenderung terbuka jika memiliki relasi yang konsisten, tidak menghakimi, dan memberikan rasa diterima.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip trauma-informed care yang menekankan rasa aman, kepercayaan, dan tidak menyalahkan korban. Selain itu, komunikasi dengan anak perlu disesuaikan, tidak hanya verbal, tetapi juga melalui media seperti gambar, tulisan, atau bantuan pihak yang dipercaya.

Dari sisi institusi, diperlukan mekanisme yang jelas, seperti prosedur pelaporan (SOP) yang transparan dan tidak menyelesaikan kasus secara tertutup.

Pendekatan Terapi yang Tepat

Penanganan trauma tidak bersifat tunggal, melainkan harus disesuaikan dengan usia, latar belakang, dan tingkat keparahan trauma korban. Beberapa pendekatan berbasis bukti yang umum digunakan antara lain:

  • Trauma-Focused Cognitive Behavioral Therapy (TF-CBT): membantu anak memahami pengalaman traumatis, mengelola emosi, dan mengubah pola pikir maladaptif seperti rasa bersalah.
  • Play therapy: memungkinkan anak mengekspresikan pengalaman secara simbolik melalui permainan.
  • Attachment-based therapy: berfokus pada membangun kembali rasa aman dalam relasi dengan orang tua atau pengasuh.

Dalam praktiknya, terapi dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kesiapan korban. Psikolog juga menggunakan konsep window of tolerance, yakni menjaga kondisi emosi klien tetap dalam batas yang dapat ditoleransi agar tidak terjadi retraumatisasi.

Peran Keluarga dan Edukasi Dini

Peran keluarga menjadi faktor krusial dalam pemulihan korban. Dukungan berupa validasi emosi, kepercayaan terhadap cerita anak, serta kehadiran yang konsisten dapat membantu mempercepat pemulihan.

Sebaliknya, sikap menyalahkan atau meragukan korban justru memperburuk kondisi psikologisnya.

Edukasi tentang tubuh dan batasan diri juga penting diberikan sejak dini, dengan pendekatan yang selaras dengan nilai budaya dan agama. Anak perlu memahami bahwa tubuh adalah amanah yang harus dijaga, serta memiliki hak untuk mengatakan “tidak” ketika merasa tidak nyaman.

Dengan pemahaman tersebut, upaya pencegahan kekerasan seksual dapat dilakukan secara lebih komprehensif, sekaligus mendukung perlindungan anak di berbagai lingkungan.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.