Selama ini banyak orang mengira bahwa melindungi keamanan dan kemanusiaan itu dengan senjata atau dengan hal-hal yang sifatnya militer, namun sebenarnya tidak seribet itu. Melindungi keamanan itu bisa dimulai dengan tidak hasud dan iri kepada orang lain. Berikut khotbah Jumat tentang melindungi keamanan dan kemanusiaan minimal dengan tidak hasud.
Khutbah Pertama
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
أَمَّا بَعْدُ.
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah.
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan sebenar-benarnya takwa, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa adalah bekal terbaik yang akan membawa kita meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Pada kesempatan yang mulia ini, kita akan merenungi sebuah nikmat besar yang sering terlupa, yakni nikmat keamanandan kewajiban kita untuk saling melindungi sesama Muslim, sebagai implementasi dari Ukhuwah Islamiyah(Persaudaraan Islam).
Jamaah Jumat yang Dirahmati Allah.
Islam datang membawa ajaran kedamaian (Salam) dan keselamatan (Salām). Seorang Muslim sejati adalah yang dari lisan dan tangannya, Muslim lain merasa aman. Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim (yang sempurna) adalah orang yang kaum Muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya.“ (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini adalah pondasi agung. Ia menuntut kita tidak hanya beribadah secara ritual, tetapi juga berinteraksi sosial dengan menjamin rasa aman bagi saudara kita. Menjamin keamanan berarti tidak menyakiti, tidak mencela, tidak menggunjing, tidak menzalimi, dan tidak merendahkan.
Maasyiral muslimin
Untuk memperkuat pemahaman kita tentang bagaimana hati yang bersih mewujudkan keamanan, mari kita simak sebuah kisah yang disebutkan oleh Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, yaitu tentang kisah seorang sahabat yang dijamin masuk surga.
Suatu hari, Rasulullah Saw bersabda: “Akan muncul kepada kalian sekarang seorang laki-laki penduduk surga.”
Maka muncul seorang laki-laki dari Anshar yang janggutnya meneteskan air wudu, sambil memegang kedua sandalnya di tangan kirinya. Hal ini terulang selama tiga hari berturut-turut.
Abdullah bin Amr bin Ash penasaran. Ia pun mendatangi sahabat tersebut dan meminta izin untuk menginap di rumahnya selama tiga malam untuk melihat amalan istimewanya. Setelah menginap dan mengamatinya, Abdullah bin Amr bin Ash tidak menemukan amalan khusus yang berlebihan, kecuali bahwa ia tidak pernah menyimpan rasa iri (hasad) di dalam hatinya terhadap sesama Muslim.
Abdullah bin Amr bin Ash berkata kepada sahabat Anshar itu, “Bukanlah amalan yang aku lihat yang menyebabkan engkau mencapai derajat itu. Hanya saja aku tidak pernah mempunyai rasa iri kepada sesama Muslim atau hasad terhadap kenikmatan yang diberikan Allah kepadanya.” Abdullah bin Amr bin Ash berkata, “Rupanya itulah yang menyebabkan Anda mencapai derajat itu, sebuah amalan yang kami tidak mampu melakukannya.” (Disarikan dari HR. Imam Ahmad).
Ma’asyiral Muslimin, Jamaah Jumat Rahimakumullah.
Apa ibrah (pelajaran) utama dari kisah yang mulia ini?
Pertama: Fondasi Keamanan Adalah Hati yang Bersih.
Sahabat Anshar itu masuk surga bukan karena banyak puasa sunnah, shalat malam yang panjang, atau sedekah yang melimpah, melainkan karena hati yang selamat dari penyakit hasad dan dengki. Hasad adalah racun yang merusak persaudaraan dan menghilangkan rasa aman. Orang yang hasad cenderung ingin melihat saudaranya celaka, bahkan mungkin berusaha menyakiti atau menzalimi saudaranya. Sebaliknya, hati yang bersih adalah sumber kedamaian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Ketika hati kita lapang dan menerima kebaikan orang lain, maka kita tidak akan menyakiti mereka, melainkan akan turut berbahagia dan mendoakannya. Inilah keamanan emosional yang wajib kita jaga.
Kedua: Melindungi Sesama Muslim dari Kezaliman Lisan dan Hati.
Hasad dan iri hati adalah bentuk kezaliman internal yang menjerumuskan kita pada kezaliman eksternal, yaitu menyakiti dengan lisan (ghibah, fitnah, caci maki) atau dengan tangan (kekerasan). Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ
“Setiap Muslim atas Muslim yang lain, haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim).
Menjaga kehormatan (termasuk tidak hasad dan tidak mencela) adalah bagian dari perlindungan sesama Muslim. Jika kita ingin merasakan nikmatnya aman, maka kita harus menjadi pribadi yang tidak menzalimi dan tidak membuat orang lain merasa terancam.
Ketiga: Menolong Saudara Seiman.
Dalam hadis lain, Nabi ﷺ bersabda, “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, jelas kami paham menolong orang yang dizalimi, tapi bagaimana kami harus menolong orang yang berbuat zalim?”Beliau bersabda: “Pegang tangannya (agar tidak berbuat zalim).” (HR. Bukhari).
Ini berarti melindungi saudara kita dari kezaliman, baik sebagai korban (dengan membelanya) maupun sebagai pelaku (dengan mencegahnya). Ini adalah wujud nyata dari tanggung jawab sosial dan keamanan kolektif dalam Islam.
Ma’asyiral Muslimin,
Ketahuilah bahwa persaudaraan Islam (Ukhuwah Islamiyah) adalah ikatan terkuat yang disatukan oleh kalimat tauhid. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat: 10).
Ayat ini menegaskan bahwa tugas kita setelah menyadari persaudaraan adalah mendamaikan dan bertakwa. Mendamaikan berarti aktif menciptakan suasana aman, menghilangkan konflik, dan melindungi persatuan. Kita harus menjauhi segala hal yang dapat merusak tali persaudaraan, seperti perdebatan yang sia-sia, ghibah, atau menyebarkan kebencian.
Ma’asyiral Muslimin,
Marilah kita bersihkan hati kita dari segala macam penyakit yang merusak rasa aman: iri, dengki, buruk sangka, dan ujub. Jadikanlah diri kita sumber ketenangan bagi keluarga, tetangga, dan seluruh masyarakat Muslim. Dengan menjaga hati yang bersih, kita telah mewujudkan keamanan sejati yang menjadi tanda kesempurnaan iman.
Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur atas nikmat keamanan, dan menjauhkan kita dari segala bentuk kezaliman dan perpecahan.
بَارَكَ اللَّهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى. وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَكَ أَعْدَاءَ الدِّينِ.
اللَّهُمَّ آمِنَّا فِي أَوْطَانِنَا، وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلَايَتَنَا فِيمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ وَاتَّبَعَ رِضَاكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ.
أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ.





Comments are closed.