Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا الله وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ اْلمُبِيْن. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَـمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صادِقُ الْوَعْدِ اْلأَمِيْن. أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ. اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّاۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٣٢
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Pada momentum ibadah Jumat ini, mari kita terus mengevaluasi dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Iman dan takwa akan menjadikan kita pribadi yang senantiasa menyadari bahwa semua yang diberikan Allah merupakan yang terbaik bagi kita. Termasuk anugerah rezeki yang setiap manusia berbeda-beda, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.
Dari kondisi ini, pertanyaanpun muncul. Mengapa rezeki setiap manusia berbeda? Mengapa ada yang kaya, ada yang miskin? Ada yang usahanya tampak mudah berhasil, sementara ada yang harus bekerja keras tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Ada yang dikaruniai kesehatan yang prima, ada yang setiap hari diuji dengan sakit. Ada yang memiliki jabatan tinggi, sementara yang lain hidup sederhana.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Sering kali kita memandang perbedaan itu dengan ukuran dunia. Bahkan ada yang sampai bertanya, “Apakah Allah tidak adil?” Padahal, justru Al-Qur’an mengajarkan bahwa perbedaan itulah bentuk keadilan Allah yang didasarkan pada ilmu dan hikmah-Nya.
Allah berfirman dalam Surah Az-Zukhruf ayat 32:
اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۙ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّاۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ ٣٢
Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan dunia dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
Dalam ayat ini Allah bertanya, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu?” Pertanyaan ini mengingatkan kita bahwa bukan manusia yang menentukan siapa yang kaya, siapa yang miskin, siapa yang menjadi pemimpin, siapa yang menjadi bawahan. Semua berada dalam ketetapan Allah.
Karena itu, ketika kita melihat orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki, jangan sibuk memprotes keputusan Allah. Sebaliknya, bertanyalah kepada diri sendiri, “Apa hikmah yang Allah inginkan dari keadaan ini?“
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari kita ambil hikmah perbedaan rezeki berdasarkan firman Allah ini. Allah sengaja membedakan rezeki agar kita saling membutuhkan. Bayangkan jika semua orang menjadi petani. Siapa yang akan mengajar anak-anak kita? Siapa yang menjadi dokter ketika kita sakit? Siapa yang membangun rumah, membuat pakaian, atau menjaga keamanan?
Sebaliknya, bagaimana jika semua orang menjadi dokter? Siapa yang menanam padi? Siapa yang membuat roti? Siapa yang memperbaiki jalan?
Ternyata kehidupan ini indah karena adanya perbedaan. Kita saling membutuhkan, saling melengkapi, dan saling memberikan manfaat. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup sendirian. Kita adalah makhluk sosial. Allah tidak menghendaki manusia hidup sendiri-sendiri. Allah menghendaki adanya kerja sama, tolong-menolong, dan saling menghargai.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Perbedaan rezeki juga merupakan ujian. Orang kaya jangan merasa dirinya sudah pasti dicintai Allah. Belum tentu. Bisa jadi kekayaannya adalah ujian. “Dari mana hartamu diperoleh? Ke mana hartamu dibelanjakan? Sudahkah engkau menunaikan zakat? Sudahkah engkau membantu fakir miskin? Sudahkah engkau menggunakan nikmat itu untuk kebaikan?“
Begitu pula kita yang hidup sederhana. Jangan merasa Allah tidak sayang kepada kita. Justru boleh jadi Allah sedang mengangkat derajat kita melalui kesabaran. Allah melihat apakah kita tetap berikhtiar, tetap menjaga kehormatan diri, tetap berdoa, dan tetap berbaik sangka kepada Allah SWT.
Sering kali kita mengukur keberhasilan diri dan orang lain dengan banyaknya harta dan tingginya jabatan. Padahal Al-Qur’an mengajarkan ukuran yang berbeda. Yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang paling kaya, tetapi yang paling bertakwa.
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (QS Al-Hujurat: 13)
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Ada pelajaran lain dibedakannya rezeki setiap manusia. Allah berfirman dalam Surah Asy-Syura ayat 27:
وَلَوْ بَسَطَ اللّٰهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهٖ لَبَغَوْا فِى الْاَرْضِ وَلٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَّا يَشَاۤءُۗ اِنَّهٗ بِعِبَادِهٖ خَبِيْرٌۢ بَصِيْرٌ ٢٧
Artinya: “Seandainya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi. Akan tetapi, Dia menurunkan apa yang Dia kehendaki dengan ukuran (tertentu). Sesungguhnya Dia Mahateliti lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.”
Dari ayat ini kita diingatkan bahwa terkadang keterbatasan yang kita rasakan justru merupakan bentuk kasih sayang Allah. Boleh jadi jika Allah memberi semua yang kita inginkan, kita justru menjadi sombong, lalai, bahkan jauh dari-Nya. Karena itu, jangan pernah mengira bahwa setiap keinginan yang tidak dikabulkan adalah keburukan. Bisa jadi itulah perlindungan Allah kepada kita.
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat rahimakumullah,
Perlu kita sadari bahwa rezeki berupa harta akan ditinggalkan. Jabatan akan berakhir. Kedudukan akan hilang. Yang menemani kita di alam kubur hanyalah iman, amal saleh, dan rahmat Allah.
Maka jika hari ini Allah memberi kita kelapangan rezeki, jadilah hamba yang pandai bersyukur dan gemar berbagi. Jika Allah masih menguji kita dengan kesempitan, jangan berhenti berikhtiar, jangan kehilangan harapan, dan jangan berburuk sangka kepada Allah.
Yakinlah, Allah sudah menentukan rezeki masing-masing makhluknya. Rezeki tak kan tertukar. Yang berbeda hanyalah bentuk pemberian-Nya, sedangkan kasih sayang-Nya selalu menyertai orang-orang yang beriman dan bertakwa. Rasulullah bersabda:
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
Artinya: “Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.” (HR Muslim).
Semoga Allah menjadikan kita hamba yang ridha terhadap ketetapan-Nya, pandai bersyukur ketika diberi nikmat, sabar ketika diuji, dan senantiasa mengejar rahmat-Nya yang jauh lebih berharga daripada seluruh harta dunia. Amin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَامِ
أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللّٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ. وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً.
اللّهُمَّ وَفِّقْنَا لِطَاعَتِكَ وَأَتْمِمْ تَقْصِيْرَنَا وَتَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ . وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبّ الْعَالَمِيْنَ
عِبَادَ اللّٰهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ
H Muhammad Faizin (Sekretaris MUI Provinsi Lampung)




Comments are closed.