Thu,3 September 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Kisah Dai 3T Lalui Perjalanan di Laut Natuna Berdakwah ke Ujung Negeri

Kisah Dai 3T Lalui Perjalanan di Laut Natuna Berdakwah ke Ujung Negeri

kisah-dai-3t-lalui-perjalanan-di-laut-natuna-berdakwah-ke-ujung-negeri
Kisah Dai 3T Lalui Perjalanan di Laut Natuna Berdakwah ke Ujung Negeri
service

Jakarta, NU Online

NU Online Institute memiliki program Dai Penggerak 3T dengan mengirimkan para dai-daiyah ke berbagai pelosok nusantara. Program ini hasil kerjasama antara NU Online Institute dengan Universitas Al-Falah As-Sunniyah, Jember. 

Dai yang ditugaskan NU Online Institute dengan jadwal pertama kali berangkat adalah Amirul Mahmud dan Muhammad Iqbal. Keduanya ditugaskan sebagai dai di Desa Bukit Padi, Kecamatan Jemaja Timur, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau dengan keberangkatan 19 Agustus 2026 pagi. 

Secara geografis, Anambas merupakan gugusan kepulauan yang berada di koordinat 3° Lintang Utara dan 106° Bujur Timur, yang artinya nyaris menempel dengan garis khatulistiwa. Kawasan yang masuk dalam kategori 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) ini lebih dekat ke negara tetangga dibandingkan ke ibu kota Jakarta. Jaraknya hanya sekitar 332 kilometer dari Singapura dan 380 kilometer dari Semenanjung Malaysia, menjadikannya beranda terdepan Indonesia yang langsung berbatasan dengan perairan geopolitik yang memanas: Laut China Selatan.

Bagi Amirul Mahmud, seorang santri asal Pesantren Sirojuth Tholibin Grobogan, Jawa Tengah, nama Anambas mulanya terdengar asing. “Ini adalah penugasan pertama saya. Jujur, baru pertama kali ini saya mendengar nama Kepulauan Anambas. Waktu pertama diberi tahu, yang terbayang di benak saya adalah sebuah desa terisolir yang sunyi dan pastinya penuh dengan tantangan besar,” tutur Amirul mengenang hari-hari sebelum keberangkatannya.

Respons berbeda datang dari rekannya,  Muhammad Iqbal. Tumbuh besar dan matang di pesisir Aceh serta pernah mengeyam pendidikan di Pesantren Dayah Darul Ma’arif Samuti Bireuen, Iqbal justru merasa terpanggil kembali ke habitat lamanya. “Sejak SD, dari pelajaran IPS saya sudah tahu kalau Anambas itu gugusan pulau yang dekat dengan Natuna. Wilayah ini identik dengan laut biru yang luas. Jadi, ya hitung-hitung dari anak laut, kembali mengabdi ke laut,” ucap Iqbal.

Paham secara teori di atas peta rupanya tak cukup untuk mempersiapkan mereka menghadapi laut lepas. Perjalanan menuju Desa Bukit Padi menjadikan mereka harus menempuh perjalanan darat menggunakan bus dari Semarang menuju Terminal Tanjung Priok di Jakarta. Dari ibu kota, pelayaran panjang menggunakan kapal laut milik Pelni dimulai.

Tiga hari empat malam lamanya mereka terombang-ambing membelah lautan. Iqbal bahkan harus menempuh total perjalanan selama delapan hari karena titik keberangkatannya ditarik jauh dari Aceh, singgah di Semarang untuk pembekalan bersama puluhan dai lainnya, baru menyusul ke rute laut.

Fasilitas kapal ekonomi yang mereka tumpangi dengan tanpa pendingin ruangan (AC), tumpukan manusia dan barang berjejalan di satu geladak. Tempat tidur antar-penumpang menempel tanpa sekat. “Kalau siang hari, di tengah laut itu hawanya panas. Mau rebahan saja susah. Kami harus tidur berdesak-desakan dengan ibu-ibu, bapak-bapak, berbagi ruang yang sangat sempit. Tidur pun harus saling bergantian posisi karena saking mepetnya,” cerita Amirul.

Malam harinya, memasuki perairan Laut Natuna yang terkenal dengan ombak besarnya, kapal Pelni yang berbobot besar pun tetap oleng dihempas gelombang. “Tidur saja susah karena badan kita ikut terlempar mengikuti goyangan kapal. Mau memaksakan diri nongkrong di dek sambil minum kopi juga mustahil karena anginnya sangat kencang. Kepala terasa pusing, dan rasanya jenuh,” imbuhnya.

Segala rasa itu mendadak menguap saat kapal akhirnya membuang sauh di Dermaga Letung, Pulau Jemaja. Panorama alam yang menyambut mereka di luar ekspektasi. “Luar biasa. Air lautnya berwarna biru bening. Dari atas permukaan kapal, kami bisa langsung melihat ke dasar laut saking jernihnya. Perbukitan hijaunya masih perawan dan berlapis-lapis. Pengalaman melihat keindahan ini sangat berharga,” kenang Amirul takjub.

Pendaratan itu menandai babak baru. Dari Dermaga Letung, mereka menempuh perjalanan darat menggunakan sepeda motor selama 20 menit menuju Pesantren Assunniyyah 10 di Desa Bukit Padi. Jalan aspal yang berliku, naik-turun membelah bukit, seolah menjadi ucapan selamat datang dari alam Jemaja. Ombak telah berhasil ditaklukkan, namun tantangan bertahan hidup sebagai dai di tapal batas negara baru saja membentang di hadapan. 

Catatan Redaksi: Penugasan Dai NU Online Institute di Pulau Jemaja, Anambas, merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.