Turani berdiri di tepi galian tanah berusaha menghentikan eksavator. Berulang kali dia mendekat, tetapi selalu dihadang. Dia protes karena tanahnya kena garuk perusahaan hutan tanaman industri, PT Wirakarya Sakti (WKS). Meski begitu, suara penjual gorengan ini seakan terbentur tembok batu. Pada 20 April 2025, alat berat anak perusahaan Asia Pulp & Paper (APP), Sinarmas Grup ini, sengaja memutus jalan warga di Desa Bukit Bakar, Kecamatan Renah Mendaluh, Tanjung Jabung Barat, Jambi. Selama dua hari, sembilan titik jalan terputus. Sejak saat itu, lebih dari 830 warga di RT07 dan RT09 praktis terisolasi. Aktivitas ekonomi lumpuh. Hasil panen tak bisa keluar. Kebutuhan pokok sulit masuk. Setidaknya 66 anak kehilangan akses ke sekolah. Kini, untuk mencapai jalan nasional Simpang Niam–Merlung, warga harus memutar sejauh 20-25 kilometer. Dulu, jarak itu hanya lima kilometer. “Kalau SMP dan SMA itu yang susah, soalnya harus keluar desa. Kalau musim hujan tidak bisa lewat. Jalan buruk,” kata Jumirah, lirih. Perubahan itu bukan sekadar angka, tetapi beban yang harus masyarakat tanggung setiap hari mulai biaya, waktu, dan keselamatan. Jumirah khawatir, peristiwa pilu pada 2008 kembali terulang. Dia ingat saat itu seorang perempuan hamil harus dipanggul menggunakan sarung, melewati jalan tanah berlumpur menuju fasilitas kesehatan. Naas, si ibu meninggal dunia sebelum sampai tujuan. “Ibu dan anaknya meninggal,” kenangnya pelan. Kini, bayangan tragedi itu kembali menghantui Jumirah dan perempuan lain di Desa Bukit Bakar. Terlebih saat ini di desa, ada 7-8 perempuan sedang hamil tua. Yang lebih membuat warga kecewa dan marah, pemutusan jalan itu terjadi di tengah proses dialog yang…This article was originally published on Mongabay
Konflik Agraria dengan Grup Sinar Mas, Lebih 800 Warga Bukit Bakar Terisolasi
Konflik Agraria dengan Grup Sinar Mas, Lebih 800 Warga Bukit Bakar Terisolasi





Comments are closed.