Mon,10 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Health
  3. Kutukan Sampah Plastik, Mikroplastik Masuk Darah hingga Hinggap di Ketuban

Kutukan Sampah Plastik, Mikroplastik Masuk Darah hingga Hinggap di Ketuban

kutukan-sampah-plastik,-mikroplastik-masuk-darah-hingga-hinggap-di-ketuban
Kutukan Sampah Plastik, Mikroplastik Masuk Darah hingga Hinggap di Ketuban
service

Riset mikroplastik Ecoton telah mendeteksi adanya mikroplastik dalam feses, air susu ibu, air seni, ketuban, dan darah perempuan. Peneliti mikroplastik Ecoton, Sofi Azilan Aini, menyatakan temuan ini seperti kutukan akibat menyia-nyiakan sampah plastik, penggunaan plastik sekali pakai, dan membuang tanpa pengolahan yang layak. “Pada akhirnya, plastik yang kita buang akan kembali ke tubuh kita,” ungkap Sofi.

Ia menjelaskan Indonesia saat ini menjadi negara penyumbang sampah plastik ke lautan global tertinggi ketiga setelah India dan Nigeria. Kebiasaan membakar sampah dan membuang sampah ke sungai menjadikan sungai, udara, dan air hujan telah tercemar mikroplastik. Bahkan, kata dia, penduduk Indonesia merupakan manusia yang paling banyak mengkonsumsi mikroplastik, sekitar 15 gram per bulan.

Sofi mengatakan, infiltrasi mikroplastik dalam darah adalah yang paling mengkhawatirkan karena mengancam kesehatan dan masa depan Indonesia. Masuknya mikroplastik ke aliran darah yang berpotensi menetap di organ-organ vital orang akan menimbulkan kerusakan sel dan tidak berfungsinya organ itu untuk kelangsungan hidup manusia.

Ecoton mengingatkan kembali bahaya mikroplastik ini berkaitan dengan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh pada tiap 21 Februari. HPSN ini untuk mengingat tragedi longsornya tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah di Cimahi, Jawa Barat pada 21 Februari 2005 lalu. Tragedi ini menewaskan 157 jiwa akibat pengelolaan sampah yang sembrono, dan menjadi dasar penetapan HPSN melalui Keputusan Presiden RI Nomor 21 Tahun 2018.

Sofi mengingatkan, dua puluh tahun lebih sejak petaka TPA Leuwigajah, pemerintah tidak pernah belajar. Pemerintah, kata dia, masih berkutat pada masalah besarnya volume sampah, ketergantungan pada open dumping, lemahnya pengelolaan di hulu, dan ketidakmampuan dalam menertibkan perilaku masyarakat.

Data terakhir Sistem Informasi Pengolahan Sampah Nasional (SIPSN) menunjukkan pada 2023, timbunan sampah nasional telah menyentuh angka 31,9 juta ton. Sebanyak 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola dan lebih dari 7,8 juta ton merupakan sampah plastik. Sebagian besar sampah itu, belum tertangani secara layak dan 57 persen di antaranya masih dikelola melalui pembuangan sembarangan, atau penimbunan tanpa pengolahan memadai.

Di tingkat lokal, lanjut Sofi, berbagai wilayah di Jawa Timur juga menghadapi persoalan serupa, termasuk tingginya kontribusi sampah plastik terhadap total timbulan sampah harian. “Kondisi ini berpotensi meningkatkan paparan mikroplastik pada manusia,” kata Sofi.

Ecoton bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga melakukan deteksi mikroplastik pada perempuan di Gresik, Jawa Timur, dan menemukan 100 persen sampelnya mengandung mikroplastik. Deteksi itu juga menemukan mikroplastik partikel 2-18 partikel/ml. Seluruh partikel yang terdeteksi dipastikan berukuran lebih besar dari 0,45 µm.

Jenis mikroplastik yang ditemukan adalah fiber dan fragmen. Analisis polimer yang telah dilakukan pada 5 sampel menunjukkan keberadaan polyethylene (PE) pada 4 sampel dan Poly(n-butyl methacrylate) atau PBMA pada 1 sampel. PE merupakan polimer yang banyak digunakan dalam kemasan plastik. Sedangkan PBMA umum digunakan pada pelapis, perekat, dan aplikasi tertentu termasuk biomedis.

Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, menyatakan telah melakukan uji 42 amnion atau air ketuban ibu melahirkan di Gresik dan 100 persen mengandung mikroplastik. Jenis polimer yang mendominasi adalah polyethylene yang berasal dari botol plastik air minum dalam kemasan, plastik bening wadah makanan panas, tas kresek, dan gelas plastik.

Rafika menjelaskan saat ini telah datang era baru mikroplastik. Rahim yang menjadi tempat paling aman bagi umat manusia, saat ini telah tercemar mikroplastik. Riset yang melibatkan Wonjin Institute of Occupational and Environmental Health, Korea Selatan, ini juga menyimpulkan kebiasaan menggunakan plastik sekali pakai untuk wadah makanan dan minuman meningkatkan risiko paparan mikroplastik dalam tubuh. “Kami menemukan mikroplastik dalam ketuban ini akan berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan bayi,” ungkap Rafika.

Menurut dia, ada korelasi antara adanya mikroplastik dengan meningkatnya nilai Malondialdehide (MDA) penanda peradangan atau inflamasi. Peningkatan peradangan itu, kata dia, menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan calon bayi.

Berdasarkan temuan penelitian kolaboratif antara Greenpeace dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada Maret 2025, mikroplastik yang terdeteksi dalam jaringan otak manusia diduga berpotensi mengganggu fungsi saraf. Selain itu, berisiko menurunkan kemampuan kognitif secara bertahap akibat paparan partikel asing dan zat kimia toksik yang dibawanya.

Penelitian ini merujuk pada riset di New Mexico 2024 yang mengungkapkan terjadinya penumpukan mikroplastik ukuran di bawah 5 mm dan nanoplastik dengan ukuran 1 hingga 1.000 nanometer di otak manusia. Konsentrasinya jauh lebih tinggi, sekitar 7 hingga 30 kali lipat dibandingkan pada organ hati dan ginjal. Konsentrasi plastik pada sampel otak 2024 meningkat hingga 50 persen dibandingkan sampel 2016.

Matthew Campen, profesor ilmu farmasi University of New Mexico, menyebut fenomena ini sebagai cerminan penumpukan lingkungan yang semakin ekstrem. Ini mengingat produksi plastik global kini melampaui 300 juta ton per tahun dengan 2,5 juta ton di antaranya mengapung di lautan.

Plastik tidak seharusnya berada dalam tubuh manusia. Namun faktanya remahan kecil plastik telah masuk ke dalam rahim, tempat yang sebelumnya dianggap aman. Langkah pencegahan adalah dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan menghindari kontak langsung dengan udara yang telah terkontaminasi mikroplastik.

Sofi Azilan Aini menyatakan, sebagai gen Z, kita harus mau menghindari produk kosmetik yang mengandung scrub plastic. “Sebab, mikroplastik bisa masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan, melalui mulut, dan melalui kulit,” ungkap dia.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.