Sun,26 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Perspektif
  3. La’ibun wa Lahwun: Filsafat Sandal Jepit ala Pesantren

La’ibun wa Lahwun: Filsafat Sandal Jepit ala Pesantren

la’ibun-wa-lahwun:-filsafat-sandal-jepit-ala-pesantren
La’ibun wa Lahwun: Filsafat Sandal Jepit ala Pesantren
service

Ada satu pelajaran hidup yang tidak pernah tercantum dalam kurikulum pesantren, tetapi hampir pasti dipelajari oleh setiap santri: kehilangan sandal jepit. Peristiwa itu begitu biasa sehingga nyaris menjadi tradisi. Seusai sholat berjamaah, mengaji kitab, atau menghadiri pengajian kiai, para santri berdiri di depan rak sandal dengan harapan menemukan alas kaki yang tadi mereka pakai. Namun, harapan itu tidak selalu berakhir sesuai kenyataan. Sandal yang semula diletakkan dengan penuh keyakinan sering kali telah berpindah entah ke mana.

Yang menarik, kehilangan sandal di pesantren hampir tidak pernah berubah menjadi pertengkaran. Para santri memang menggerutu, tetapi hanya sebentar. Setelah itu mereka mulai mencari dengan tenang. Di lingkungan pesantren bahkan berkembang semacam keyakinan yang diwariskan dari angkatan ke angkatan: sandal itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya sedang dipakai orang lain.

Keyakinan itu terdengar sederhana, bahkan menggelikan. Tetapi, di balik kelucuannya tersembunyi cara pandang yang dalam tentang kehidupan. Tidak semua kehilangan harus disambut dengan kemarahan. Tidak semua persoalan harus dibesar-besarkan. Ada kalanya manusia cukup menerima bahwa hidup memang penuh dengan peristiwa-peristiwa kecil yang menguji kesabaran.

Kalau beruntung, beberapa hari kemudian sandal itu ditemukan. Namun Allah seolah memiliki cara-Nya sendiri mengajari manusia agar tidak terlalu mencintai kesempurnaan. Kadang yang ditemukan hanya sebelah. Kadang pasangan kanan dan kirinya sudah berbeda warna. Kadang ukurannya tidak lagi sama. Yang satu terasa pas, yang lain terlalu longgar. Anehnya, sandal itu tetap dipakai. Sebab yang lebih penting bukanlah keserasian sandal, melainkan kemampuan untuk tetap berjalan.

Pengalaman sederhana ini sesungguhnya merupakan metafora kehidupan. Tidak semua yang hilang akan kembali dalam keadaan semula. Ada harapan yang kembali dalam bentuk berbeda. Ada cita-cita yang berubah arah. Ada kehilangan yang tidak pernah tergantikan. Namun hidup tidak pernah berhenti menunggu seseorang selesai meratapi apa yang telah pergi.

Di sinilah pesantren mengajarkan kebijaksanaan melalui hal-hal yang tampak remeh. Pendidikan karakter tidak selalu lahir dari ruang kelas atau kitab yang tebal. Ia justru tumbuh dari pengalaman sehari-hari. Dari antre mandi, makan bersama dalam satu nampan, menyapu halaman, mencuci pakaian sendiri, hingga kehilangan sandal.

Dalam Bilik-Bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (1997), Nurcholish Madjid menjelaskan bahwa pesantren merupakan ekosistem pendidikan yang membentuk watak melalui pembiasaan hidup. Hal yang dipelajari santri bukan hanya ilmu-ilmu keislaman, melainkan juga kesabaran, kesederhanaan, solidaritas, dan kemampuan hidup bersama orang lain. Nilai-nilai itu tumbuh melalui pengalaman yang terus diulang setiap hari.

Apa yang tampak sepele justru menjadi pendidikan yang paling membekas. Tidak mengherankan apabila bertahun-tahun setelah menjadi alumni, para santri hampir tidak pernah mengingat merek sandal yang mereka pakai. Yang mereka kenang justru bagaimana satu kamar ikut mencari sandal yang hilang, bagaimana mereka pulang dari masjid dengan sandal berbeda warna, atau bagaimana mereka tertawa bersama karena sandal kanan dan kiri ternyata tidak lagi sepasang.

La’ibun wa lahwun
Humor dalam tradisi pesantren lahir dari kesadaran bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai logika manusia. Karena itu, humor tidak pernah dimaksudkan untuk menertawakan penderitaan orang lain. Humor adalah cara menjaga agar hati tidak dikuasai oleh ego dan amarah. Dalam Menggerakkan Tradisi: Esai-Esai Pesantren (2001), Abdurrahman Wahid (Gus Dur) memperlihatkan bagaimana humor merupakan bagian dari kebudayaan pesantren yang membuat seseorang tetap rendah hati, mampu mengkritik diri sendiri, sekaligus tidak mudah menganggap dirinya paling benar.

Pandangan seperti itu sejalan dengan firman Allah dalam Q.S. Al-Hadid ayat 20 yang menyebut kehidupan dunia sebagai la’ibun wa lahwun, permainan dan senda gurau. Dalam Tafsir Al-Mishbah (2002), M. Quraish Shihab menjelaskan bahwa ayat tersebut tidak mengajarkan manusia meremehkan dunia, melainkan mengingatkan agar dunia tidak dijadikan tujuan akhir. Dunia hanyalah tempat singgah, tempat manusia belajar sebelum kembali kepada Allah.

Pesantren menerjemahkan ayat itu bukan hanya melalui ceramah, melainkan melalui pengalaman hidup. Sandal jepit menjadi media pembelajaran yang tidak pernah dirancang, tetapi selalu berhasil. Dari sandal yang hilang, santri belajar sabar. Dari sandal yang tertukar, mereka belajar mengendalikan emosi. Dari sandal yang berbeda warna, mereka belajar menerima kenyataan. Dan dari sandal yang tak pernah ditemukan lagi, mereka belajar ikhlas.

Dalam perspektif tasawuf, kemampuan menerima kenyataan seperti ini dikenal dengan riḍā. Dalam Al-Hikam, yang ditulis Ibn ‘Atha’illah al-Sakandari pada akhir abad ke-13, dijelaskan bahwa kegelisahan manusia sering muncul karena ia ingin segala sesuatu berjalan sesuai kehendaknya sendiri. Padahal, kebijaksanaan Allah sering kali hadir melalui jalan yang tidak dipilih manusia. Riḍā bukan berarti menyerah kepada keadaan, melainkan tetap berikhtiar tanpa kehilangan kepercayaan kepada Allah.

Bukankah hidup kita juga seperti sandal jepit di pesantren? Kita menginginkan segala sesuatu berjalan sesuai rencana, tetapi kenyataan sering memiliki cerita yang berbeda. Kita berharap memperoleh pekerjaan yang ideal, keluarga yang sempurna, rezeki yang lapang, dan masa depan yang pasti. Namun Allah justru mendidik manusia melalui jalan yang berliku. Sebab kesempurnaan sering melahirkan kesombongan, sedangkan ketidaksempurnaan melahirkan syukur.

Mungkin karena itulah para santri tidak pernah berhenti mengaji hanya karena sandalnya hilang. Mereka tidak membatalkan salat berjamaah hanya karena alas kaki yang dipakai berbeda ukuran. Mereka mungkin menggerutu sebentar, tetapi setelah itu tetap berjalan menuju masjid. Yang lebih penting daripada sepasang sandal yang sempurna adalah sepasang kaki yang tetap melangkah menuju kebaikan.

Barangkali di situlah letak filsafat pesantren yang sesungguhnya. Ia tidak mendidik manusia agar hidupnya selalu sempurna. Ia mendidik manusia agar tetap bersyukur di tengah ketidaksempurnaan. Sandal boleh hilang. Warna boleh berbeda. Ukuran boleh tidak sama. Bahkan pasangannya boleh jadi tidak pernah ditemukan lagi. Namun jangan sampai yang hilang adalah kesabaran, jangan sampai yang tertukar adalah akhlak, dan jangan sampai yang tertinggal di rak kehidupan adalah hati yang lupa jalan pulang kepada Allah.

Sebab pada akhirnya, yang akan dinilai bukanlah apakah kita selalu memakai sandal yang sepasang, melainkan apakah dengan segala ketidaksempurnaan yang kita miliki, kita tetap setia melangkah menuju masjid, menuju ilmu, menuju kemaslahatan, dan akhirnya menuju-Nya.
 

Fahmi Arif El Muniry, Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak.


$data['detail']->authorKontri->kontri”>                       </p>
<p><a href=Fahmi Arif El Muniry
Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.