Ditulis oleh Harun Rasyid •
KABARBURSA.COM – Tradisi mudik Lebaran tak hanya soal pulang kampung, tetapi juga berburu kuliner khas daerah.
Di Kabupaten Magetan, Jawa Timur misalnya, salah satu destinasi kuliner yang selalu diserbu pemudik adalah Ayam Panggang Bu Setu.
Aroma khas asap kayu bakar dari dapur sederhana menjadi daya tarik utama Ayam Panggang Bu Setu yang terus bertahan lintas generasi.
Kuliner legendaris ini, telah eksis lebih dari tiga dekade dan tetap mempertahankan cita rasa tradisional di tengah modernisasi.
Ayam Panggang Bu Setu yang merupakan usaha keluarga kini dikelola oleh generasi kedua, Subiyanto.
Ia menyebut, bisnis ini dirintis orang tuanya sejak era 1990-an dan dimulai dari berjualan keliling hingga berkembang menjadi usaha rumahan yang dikenal luas.
Menurut Subiyanto, konsistensi dalam menjaga metode memasak tradisional menjadi kunci utama bertahannya usaha tersebut.
“Daya tarik Ayam Panggang Bu Setu terletak pada konsistensi kami mempertahankan proses memasak tradisional menggunakan kayu bakar keras, seperti mahoni atau jati. Meskipun zaman sudah modern, kami tidak beralih ke kompor gas agar kematangan ayam sempurna dan ciri khas kami tetap terjaga,” ujarnya lewat keterangan resmi, Jumat 27 Maret 2026.
Salah satu menu andalan yang paling banyak diburu pelanggan adalah ayam panggang bumbu rujak. Perpaduan rasa pedas, manis, dan gurih meresap hingga ke daging ayam kampung, menjadikannya favorit untuk dinikmati bersama keluarga saat momen Lebaran.
Momentum mudik Lebaran menjadi periode puncak kunjungan. Lonjakan pelanggan biasanya mulai terjadi dua hari sebelum Lebaran hingga sekitar lima hari setelahnya. Hal ini seiring meningkatnya arus pemudik yang melintas di kawasan Magetan.
Namun di balik keberlangsungan usaha ini, dukungan permodalan dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) turut berperan.
Subiyanto mengungkapkan, ayahnya mulai bermitra dengan BRI sejak 1992 dengan modal awal Rp250 ribu.
“Dulu sebelum ada modal dari BRI, kami beli ayam ke tengkulak dengan sistem utang, harganya jauh lebih mahal. Setelah ada pinjaman dari BRI, kami bisa beli cash dan harga jual ke konsumen pun jadi lebih terjangkau,” jelasnya.
Seiring waktu, akses pembiayaan dan layanan digital dari BRI membantu pengembangan usaha, mulai dari perluasan lahan hingga peningkatan fasilitas menjadi lebih nyaman bagi pelanggan.
Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi menyatakan, BRI terus berkomitmen dalam mendukung pelaku UMKM melalui pembiayaan, pendampingan, dan digitalisasi usaha.
“Kami senantiasa berkomitmen mendukung program prioritas pemerintah, terutama pada sektor-sektor produktif. Kisah pelaku usaha Ayam Panggang Bu Setu menjadi contoh nyata dukungan pendanaan BRI dalam mendorong perekonomian masyarakat sekaligus menjadi kisah inspiratif yang dapat ditiru oleh pelaku usaha lainnya,” tegasnya.
Hingga Desember 2025, BRI telah menyalurkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp178,08 triliun kepada sekitar 3,8 juta debitur. Lebih dari 60 persen penyaluran tersebut dialokasikan ke sektor produksi, dengan porsi mencapai 64,49 persen. (info-bks/*)





Comments are closed.