Dengarkan artikel ini:
Artis Gen Z seperti Naykilla dan NPD ramai daur ulang estetika 2000-an. Apa yang sebenarnya ingin dikatakan generasi ini tentang masa depannya?
“Nostalgia reflektif berdiam pada kerinduan itu sendiri, dan menunda pulang ke rumah dengan penuh ironi dan keputusasaan.”
— Svetlana Boym, The Future of Nostalgia (2001)
Cupin sedang menggulir lini masa ponselnya pada suatu malam ketika sebuah lagu berhenti di jempolnya. Itu “SO ASU” (2025) milik Naykilla, dan aromanya terasa seperti sesuatu dari masa yang Cupin sendiri hampir tidak ingat.
Ada cengkok yang mengingatkan pada dangdut awal 2000-an, dilebur dengan hentakan yang jelas kekinian. Cupin memutar ulang video musiknya, dan matanya menangkap tata warna serta gaya visual yang seakan diambil dari album keluarga dua dekade silam.
Rasa penasaran itu membawa Cupin menelusuri lebih jauh. Ia menemukan NPD, trio yang lewat “Lupain Aku Plis” (2026) tampil sebagai boyband dengan gestur sok idol yang justru mengundang tawa.
Mereka meniru konvensi grup vokal dekade 2000-an dengan percaya diri berlebih yang disengaja. Cupin sadar bahwa yang ditonton bukan peniruan serius, melainkan sebuah candaan penuh afeksi terhadap masa lalu.
Penelusuran Cupin belum berhenti. Ia sampai pada dia, penyanyi yang lewat “EEEE A” (2025) serta “SENCY” (2025) bersama Tenxi meracik nuansa pop lawas dengan sensibilitas produksi masa kini.
Ada benang merah yang mulai terlihat jelas di mata Cupin. Naykilla, NPD, dan dia sama-sama menggali estetika 1990-an dan 2000-an sebagai bahan baku utama karya mereka.
Yang membuat Cupin termangu adalah paradoksnya. Generasi paling muda, yang lahir bersama internet cepat dan kecerdasan buatan, justru berpaling ke masa yang bahkan tidak sepenuhnya mereka alami sendiri.
Fenomena ini terasa terlalu kompak untuk sekadar kebetulan. Cupin menduga ada sesuatu yang lebih dalam bekerja di balik permukaan estetika ini.
Cupin lalu memperhatikan bahwa ketiga musisi itu bukan sekadar meminjam suara lama. Mereka juga mengambil tata busana, palet warna, hingga gaya penyuntingan video yang khas dua dekade silam, seolah sengaja membangkitkan sebuah zaman.
Namun, dugaan saja tidak cukup bagi Cupin. Dua pertanyaan menggantung di benaknya: mengapa justru masa lalu yang dipilih sebagai estetika, dan apa kaitan pilihan itu dengan kondisi sosial-politik hari ini?
Hantu 2000-an dan Cermin Zaman
Cupin memutuskan membuka rak bukunya untuk mencari jawaban. Ia teringat pada Svetlana Boym, akademisi Universitas Harvard yang dalam bukunya The Future of Nostalgia membelah nostalgia menjadi dua wajah.
Boym membedakan nostalgia restoratif dan nostalgia reflektif. Yang pertama bersikeras membangun ulang masa lalu secara utuh dan serius, sedangkan yang kedua bermain dengan ironi dan sadar bahwa masa lalu tidak mungkin kembali.
Cupin tersenyum karena semuanya jadi masuk akal. Naykilla dan NPD jelas berada di kutub reflektif, merengkuh masa lalu dengan humor dan kehangatan, bukan dengan kerinduan yang getir.
Penelusuran Cupin berlanjut pada Mark Fisher, teoretikus budaya asal Inggris. Lewat gagasannya tentang hauntology, yang dipinjamnya dari filsuf Prancis Jacques Derrida dalam Specters of Marx, Fisher berbicara soal budaya yang seolah dihantui masa lalunya sendiri.
Dalam bukunya Ghosts of My Life, Fisher berargumen bahwa ketika sebuah kebudayaan terus mendaur ulang masa lalu, itu adalah gejala kehilangan kemampuan membayangkan masa depan. Cupin menyebut gejala inilah “hantu 2000-an” yang berkeliaran di karya para musisi muda tadi.
Cupin juga menemukan Simon Reynolds, jurnalis musik yang menulis Retromania. Reynolds berpendapat bahwa retro sebenarnya lebih banyak bercerita tentang masa kini ketimbang masa lalu, sebab masa lalu hanyalah bahan yang dirakit ulang untuk kebutuhan hari ini.
Gejala serupa, Cupin sadari, muncul di banyak negara. Di Amerika Serikat dan Inggris, estetika Y2K bangkit lewat musisi seperti Charli XCX, sementara di Jepang city pop era 1980-an dihidupkan kembali oleh pendengar generasi baru.
Cupin bahkan menemukan gema yang sama di Korea Selatan. Sejumlah musisi muda di sana mengangkat kembali nuansa pop era 1990-an sebagai penanda identitas, seolah masa lalu menjadi bahasa bersama lintas benua.
Cupin melihat pola yang konsisten di negara-negara maju itu. Nostalgia kerap muncul sebagai penyangga psikologis di tengah stagnasi ekonomi dan pesimisme terhadap masa depan.
Namun, Cupin merasa ada yang janggal bila teori itu ditempelkan mentah-mentah ke Indonesia. Konteks Indonesia terasa berbeda, dan justru di situlah letak pertanyaan berikutnya.
Dua hal mengganjal di pikiran Cupin. Apakah “hantu 2000-an” di Indonesia benar-benar lahir dari pesimisme seperti di Barat, dan apa sebenarnya arti fenomena ini bagi Gen Z Indonesia?
Naykilla, Gen Z, dan Jangkar Masa Depan
Cupin merenung, dan ia menyimpulkan bahwa diagnosis Fisher tidak sepenuhnya pas untuk Indonesia. Teori itu lahir dari Barat pasca-krisis 2008 yang diwarnai stagnasi, sedangkan Indonesia justru berada dalam fase demografi muda dengan proyeksi pertumbuhan yang kuat.
Maka dari itu, Cupin mengusulkan pembacaan yang berbeda. Ia menamainya “nostalgia rasa aman”, yaitu nostalgia yang berfungsi sebagai jangkar identitas di tengah percepatan, bukan ratapan atas masa depan yang buntu.
Logika Cupin sederhana tetapi meyakinkan. Ketika lanskap teknologi dan ekonomi bergerak sangat cepat, masa lalu yang familiar menjadi titik pijak yang menenangkan bagi generasi muda.
Cupin melihat pola ini selaras dengan riset lintas negara soal kebangkitan Y2K. Estetika lawas kerap berfungsi sebagai mekanisme koping terhadap kecemasan antargenerasi, tetapi di Indonesia pemicunya lebih condong ke optimisme ketimbang keputusasaan.
Cupin juga teringat gagasan Reynolds tentang subcultural capital, yaitu kadar “keren” yang diekstraksi dari daur ulang masa lalu. Bagi Gen Z Indonesia, mendaur ulang dangdut dan pop Melayu 2000-an bukan sekadar gaya, melainkan cara membanggakan akar budaya sendiri.
Di sinilah Cupin melihat peluang besar. Naykilla membuktikan bahwa hipdut, fusi hip-hop dan dangdut, mampu menembus selera lintas negara, persis seperti Jepang mengekspor city pop dan Korea Selatan mengekspor K-pop.
Cupin membayangkan dangdut yang selama ini kerap dipandang sebelah mata bisa menjelma menjadi soft power khas Indonesia. Warisan budaya lokal itu ternyata punya daya pikat global bila dikemas dengan percaya diri oleh generasi mudanya.
Cupin juga menyadari bahwa nada budaya adalah barometer yang jujur. Nada reflektif yang optimistis, seperti pada Naykilla dan NPD, menandakan generasi yang relatif nyaman dengan identitas dan masa depannya.
Sebaliknya, Cupin membayangkan, bila suatu saat nada itu bergeser ke arah yang getir dan penuh kerinduan pahit, itu justru bisa menjadi lampu kuning. Nada budaya pop, dengan demikian, layak dibaca sebagai indikator pelengkap di samping angka-angka ekonomi.
Semangat ini, bagi Cupin, sejalan dengan agenda memperkuat kemandirian budaya dan kepercayaan diri nasional yang sedang digencarkan. Energi kreatif Gen Z ini adalah modal berharga yang tinggal difasilitasi agar tumbuh menjadi aset ekonomi sekaligus identitas jangka panjang.
Pada akhirnya, Cupin menutup malamnya dengan sebuah kesadaran yang menenangkan. “Hantu 2000-an” yang menggentayangi karya Naykilla, NPD, dan dia bukanlah pertanda ketakutan pada masa depan, melainkan cara sebuah generasi memegang jangkar identitasnya sambil melangkah maju dengan percaya diri. (A43)





Comments are closed.