Mubadalah.id – Meskipun tidak semua perempuan menderita akibat masalah kesehatan, kebanyakan perempuan di dunia mengalami tiga hal, di antaranya: gizi yang buruk, kehamilan yang berdekatan jaraknya, serta beban kerja yang terlalu berat.
Masing-masing problema itu memengaruhi kondisi kesehatan perempuan secara menyeluruh dan membuat tubuhnya ringkih serta tidak mampu menangkal ancaman penyakit.
Kehamilan pun membuat beberapa masalah kesehatan yang sudah disandang oleh perempuan menjadi semakin parah, misalnya malaria, hepatitis, diabetes, dan anemia.
Sebaliknya, penyakit itu juga membuat kehamilan menjadi kian sulit. Akibatnya, perempuan lebih mungkin menderita akibat kondisi kesehatan yang buruk secara umum bila dibandingkan dengan lelaki.
Kita saja menyebutkan penyebab langsung kebanyakan problema kesehatan perempuan. Misalnya, kita bisa berkata bahwa penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual disebabkan oleh berbagai jenis kuman penyakit, gizi yang buruk diakibatkan oleh kurangnya konsumsi makanan yang baik.
Sedangkan beragam masalah selama kehamilan sering karena kurangnya perawatan prakehamilan.
Namun, di balik penyebab langsung itu, terdapat dua akar masalah: 1) kemiskinan dan 2) rendahnya status perempuan dalam keluarga dan masyarakat. Kedua akar inilah yang menyebabkan banyak problema kesehatan perempuan.
Kemiskinan
Dua di antara tiga perempuan di dunia hidup dalam kemiskinan. Daripada laki-laki, bukan saja perempuan lebih berpeluang terjerat kemiskinan, tetapi juga sering menjadi anggota termiskin dalam kelompok masyarakat miskin.
Jutaan perempuan terperangkap dalam lingkaran kemiskinan yang jauh sebelum mereka lahir. Bayi yang lahir dari ibu yang tidak dapat cukup makanan semasa hamil kemungkinan besar akan kurang berat badannya dan terhambat pertumbuhannya.
Dalam keluarga miskin, anak-anak perempuan lebih sulit memperoleh makanan yang cukup ketimbang anak laki-laki. Sehingga pertumbuhan mereka jauh lebih terhambat.
Anak-anak perempuan juga lebih sering tidak mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan, atau hanya sempat memperoleh pendidikan yang sangat rendah.
Karena itu, mereka harus puas bekerja di sektor-sektor yang tidak memerlukan keterampilan serta menghasilkan upah yang lebih kecil daripada pekerjaan laki-laki (upah perempuan tetap lebih rendah meski jenis pekerjaannya sama dengan laki-laki).
Di dalam rumah, perempuan bekerja tanpa upah. Kelelahan yang parah, gizi kurang, dan sewaktu hamil tidak memperoleh perawatan yang memadai menyebabkan perempuan. Serta anak-anaknya banyak dengan risiko kesehatan yang buruk. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 8.





Comments are closed.