Sat,1 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Ketika Anak-anak Merekam Ruang Publik: Pentingnya Keteladanan Bahasa di Era Digital

Ketika Anak-anak Merekam Ruang Publik: Pentingnya Keteladanan Bahasa di Era Digital

ketika-anak-anak-merekam-ruang-publik:-pentingnya-keteladanan-bahasa-di-era-digital
Ketika Anak-anak Merekam Ruang Publik: Pentingnya Keteladanan Bahasa di Era Digital
service

Mubadalah.id – Bahasa bukanlah sekadar alat komunikasi, melainkan cermin dari isi kepala dan kedalaman jiwa penuturnya. Namun di ruang publik digital hari ini, kita menyaksikan hilangnya batas kepantasan. Kata-kata kasar, nada meremehkan, hingga diksi yang merendahkan kini terproduksi secara terbuka oleh sebagian figur publik dan pemegang otoritas. Ironisnya, fenomena ini sering kali terpoles dengan pembenaran yang tampak logis, Alah santai aja kali, itu kan cuma gaya komunikasi yang dibikin apa adanya biar makin akrab

Di balik pintu rumah dan ruang kelas, orang tua dan guru berjuang tanpa Lelah menanamkan the three magic words: “Tolong”, “Maaf”, dan “Terima Kasih”. Para pendidik ini paham betul bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya terbangun oleh megahnya infrastruktur, tetapi juga dari kehalusan budi pekerti generasinya.

Sayangnya, usaha ini menjadi semakin berat ketika anak-anak melangkah ke ruang digital. Di layar gadget mereka, berbagai potongan video baik berupa konten viral, hingga celetukan spontan para figur publik berseliweran tanpa filter. Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana edukasi sekunder, kini justru berisiko bertransformasi menjadi ruang belajar liar yang mencontohkan hal sebaliknya.

Anak-anak sebagai Perekam Ulung

Anak-anak yang tumbuh di era digital hari ini, khususnya Generasi Alpha hidup dalam kepungan arus informasi yang sangat kencang. Tentu, tidak semua anak sama. Sebagian mungkin sudah cukup bijak dalam memilah mana yang baik dan buruk. Namun, mayoritas dari mereka belum memiliki kematangan mental untuk menyaring mana yang sekadar konten hiburan, sindiran, atau bahasa yang pantas.

Problematikanya, ruang publik digital belakangan ini kerap terwarnai oleh penggunaan diksi informal yang kurang pantas, hingga sikap agresif saat menghadapi perbedaan pendapat di kolom komentar. Bagi sebagian kalangan, ujaran tersebut mungkin dianggap angin lalu, sekadar gaya yang diklaim “apa adanya”, demi tuntutan algoritma fyp atau sekadar ekspresi spontan.

Dalam kacamata psikologis, anak-anak adalah peniru yang sangat ulung melalui proses modelling effect. Mereka menyerap kata-kata bukan berdasarkan konteks lengkapnya. Akan tetapi berdasarkan siapa yang mengucapkannya. Ketika sosok yang memiliki panggung luas ataupun followers banyak menormalisasi bahasa yang agresif atas nama “gaya komunikasi”, mereka akan langsung menarik kesimpulan sederhana, apa yang sering muncul di layar dan diucapkan figur terkenal, itulah yang keren dan boleh ditiru.

Dampaknya terasa nyata saat mereka menghadapi perbedaan pendapat dalam kehidupan sehari-hari. Ketika berbeda argumen dengan teman, orang tua, atau guru, sebagian anak dengan santainya melontarkan umpatan hasil copy-paste dari media sosial:

“IQ-nya itu tolong dipakai dong!”

“Emang saya pikirin?”

“Baj**gan”

Ketika anak-anak menangkis teguran dengan pembelaan dari ruang publik, para pendidik seakan kehilangan daya tawar moral. Pendidikan karakter yang dibangun bertahun-tahun di rumah seolah runtuh oleh potongan video viral berdurasi belasan detik.

Menakar Pembelaan: Bukan Hanya Soal Gadget

Menanggapi fenomena ini, sebagian orang sibuk beralasan, “Makanya anak jangan dikasih gadget” atau “Tonton dulu videonya sampai penuh biar tahu konteksnya”. Membatasi waktu layar (screen time) memang penting, tetapi membendung akses digital secara total di era hari ini adalah kemustahilan yang naif. Masalah utamanya bukan pada layarnya, melainkan pada normalisasi polusi bahasa di ruang publik.

Mau dipotong atau ditonton secara utuh, apakah pantas seorang yang menjadi pusat perhatian publik mengutarakan diksi yang merendahkan di ruang terbuka? Jika gaya bicara yang kurang pantas terus-menerus kita wajarkan demi popularitas atau algoritma, pesan yang ditangkap Generasi Alpha sungguh berbahaya. Mereka akan mengira begitulah cara orang dewasa berkomunikasi.

Kesadaran berbahasa sebenarnya bukan hanya tuntutan untuk tokoh publik, melainkan pengingat keras bagi kita semua. Di media sosial, setiap komentar, tulisan, dan konten yang kita unggah turut membentuk ekosistem berbahasa yang terbaca oleh anak-anak.

Amanah Lisan dan Qaulan Sadidan

Islam sendiri meletakkan etika berbahasa memiliki bobot pertanggungjawaban moral yang berat. Al-Qur’an secara spesifik mengaitkan kualitas lisan orang dewasa dengan kualitas masa depan generasi mudanya.

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Hendaklah merasa takut orang-orang yang seandainya (mati) meninggalkan setelah mereka, keturunan yang lemah (yang) mereka khawatir terhadapnya. Maka, bertakwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan tutur kata yang benar (dalam hal menjaga hak-hak keturunannya).

Ibnu Katsir saat mengupas QS. An-Nisa ayat 9, menjabarkan betapa Islam sangat mewanti-wanti umatnya agar memiliki rasa takut jika meninggalkan generasi yang lemah (dzurriyyatan dhi’afan) di kemudian hari. Baik lemah secara materi, mental, maupun moral. Menariknya, solusi preventif yang Al-Qur’an tawarkan di akhir ayat tersebut untuk melindungi masa depan generasi adalah  perintah untuk berbicara dengan قَوْلًا سَدِيْدًا” .

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan bahwa kata  سَدِيْدًا tidak boleh hanya kita artikan sebatas “benar” ataupun “jujur” secara substansi. Merujuk pada pakar bahasa Ibn Faris, kata سَدِيْدًا berakar dari makna “meruntuhkan sesuatu untuk kemudian memperbaikinya”, serta berarti “mengenai sasaran.”

Mengembalikan Keberadaban Ruang Publik

Prinsip ini menjadi pengingat yang pas untuk hari ini. Saat kita ingin memberi tahu atau mengkritik, gunakanlah bahasa yang membangun—bukan ucapan kasar yang justru memicu peniruan buruk pada generasi muda.

Tuntutan moral ini selaras dengan sabda Rasulullah SAW. :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim).

Pada akhirnya, tidak semua anak dapat memilih apa yang mereka serap dari media sosial, konten yang melintas di fyp akan mereka rekam secara polos. Generasi masa depan tidak hanya butuh warisan infrastruktur tetapi juga warisan ekosistem bahasa yang bermartabat.

Sudah saatnya kita semua, baik figur publik, pembuat konten, maupun sebagai masyarakat pengguna media sosial, dapat lebih bijak dan berhati-hati dalam menata lisan sehari-hari. Sadar atau tidak, apa pun yang kita lempar ke ruang publik hari ini sedang direkam dan ditiru oleh anak-anak yang menyaksikan. []

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.