Sat,15 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Masjid Tiban Nurul Huda, Saksi Awal Perkembangan Islam di Lasem

Masjid Tiban Nurul Huda, Saksi Awal Perkembangan Islam di Lasem

masjid-tiban-nurul-huda,-saksi-awal-perkembangan-islam-di-lasem
Masjid Tiban Nurul Huda, Saksi Awal Perkembangan Islam di Lasem
service

Rembang, NU Online

Jejak Islam Nusantara di Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah tidak hanya tertaut pada Masjid Jami’ Lasem. Di Desa Gedongmulyo, Kecamatan Lasem, berdiri masjid yang diyakini lebih tua, yakni Masjid Tiban Nurul Huda.

Masjid ini terletak di sebelah barat Sungai Babagan, berseberangan dengan bangunan Lawang Ombo dan klenteng Tjoe An Kiong di Desa Dasun. Keberadaannya menjadi bagian dari mozaik sejarah panjang perkembangan Islam di kawasan pesisir utara Jawa tersebut.

Nama “Tiban” disematkan karena, menurut cerita turun-temurun, masjid ini tiba-tiba telah berdiri tanpa diketahui proses pembangunannya. Masyarakat setempat meyakini usianya lebih tua dibanding Masjid Jami’ Lasem.

Salah satu sesepuh Desa Gedongmulyo, Suyoto, menuturkan bahwa dahulu masjid ini dikelilingi pohon sawo dan beringin. Pohon-pohon tersebut ditebang saat dilakukan perluasan serambi dan bagian utara bangunan.

Ia juga menyebut adanya batu pasujudan berukuran besar di titik tempat imam berdiri. Batu tersebut memiliki bekas yang dipercaya sebagai jejak telapak tangan dan kaki. Saat renovasi dan penyesuaian lantai, batu itu diratakan serta dilapisi keramik agar sesuai dengan permukaan bangunan.

“Waktu pemugaran, saya ikut membantu. Di bawah posisi imam ada batu besar untuk pasujudan. Karena tanah ditinggikan supaya rata, batu itu ikut diratakan dan ditutup,” ujar Suyoto, Senin (23/2/2026).

Imam Masjid Tiban Nurul Huda, Abdul Karim, menjelaskan bahwa meski pernah direvitalisasi, bagian utama bangunan asli tetap dipertahankan, seperti pintu dan empat tiang utama masjid. Di depan masjid juga terdapat sumur kuno yang airnya masih digunakan untuk aktivitas keagamaan.

Menurutnya, terdapat kisah yang berkembang di masyarakat bahwa masjid ini berkaitan dengan Sunan Langgar yang hendak mendirikan masjid di wilayah Caruban. Namun sebelum waktu Subuh, bangunan tersebut diyakini “jatuh” di lokasi saat ini, sehingga disebut masjid tiban.

Karim menambahkan, sejumlah peninggalan lama masih ada, seperti tiang, pintu, sumur, dan bekas pasujudan. Sementara bedug lama telah dipindahkan ke Masjid Jami’ Lasem.

Di sekitar masjid juga terdapat makam Mbah Kamplok yang diyakini sebagai murid Sunan Bonang. Setiap bulan Syura, masyarakat menggelar haul setelah peringatan haul Sunan Bonang.

Pada bulan Ramadhan, masjid ini menjadi pusat kegiatan keagamaan, seperti pengajian selepas Ashar hingga menjelang berbuka, tadarus Al-Qur’an pada dini hari, serta rutinan pengajian malam Jumat di dekat makam Mbah Kamplok yang juga dikenal dengan nama Mbah Roundoh.

Selain kisah sejarah, berkembang pula cerita-cerita yang dipercaya sebagian masyarakat. Di antaranya pengalaman seseorang yang melihat mushaf Al-Qur’an di sudut masjid dengan penglihatan terasa buram. Ada pula keyakinan agar siapa pun yang memasuki masjid meluruskan niat beribadah kepada Allah SWT.

Sebagian warga juga meyakini larangan tidur di dalam masjid karena pernah terjadi peristiwa seseorang berteriak dan berpindah posisi secara tidak biasa saat bermalam di dalamnya. “Masalah percaya atau tidak, kami kembalikan kepada masing-masing,” ujar Karim.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.