Audio dibuat menggunakan AI.
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis
KATA PEMRED #32
PinterPolitik.com
“Kuasa terpenting abad ini bukan kemampuan menutup pintu,melainkan kemampuan melihat lebih dahulu daripada siapa pun.”
Di Kalimantan Timur, pelabuhan-pelabuhan batu bara tahu sebuah tanggal: 1 Juni 2026. Apa yang akan datang pada hari itu bukan tarif, bukan blokade. Sebuah jendela. Dan di jendela itu, sepasang mata.
Pada 20 Mei 2026, Presiden Prabowo menerbitkan Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam. Seluruh penjualan batu bara, minyak sawit mentah, dan paduan besi kini wajib melewati satu pintu: PT Danantara Sumberdaya Indonesia, sebuah badan usaha milik negara yang lahir dari rahim Badan Pengelola Investasi Danantara, ditugaskan menjadi tangan yang menempel di komoditas. Tiga komoditas itu bernilai US$65 miliar setahun, hampir 23% dari ekspor barang nasional. Bursa membacanya dengan satu kata yang penuh curiga. Indeks gabungan merosot 3,46% pada hari rumor itu beredar, dan satu istilah berdengung di ruang dagang: monopoli.
Yang dibangun, secara teknis, lebih menyerupai single desk yang pernah dijalankan Australia untuk gandum dan Kanada lewat Canadian Wheat Board: pengekspor tunggal negara, bukan kartel privat. Pasar, sebagaimana biasanya, tidak sabar dengan pembedaan istilah.
Yang dikejar kebijakan ini jauh lebih besar daripada tata niaga. Dari olahan data UN Comtrade selama periode 1991 hingga 2024, yang kemudian dikutip langsung oleh Presiden, nilai ekspor yang menguap akibat salah-faktur ditaksir US$908 miliar, sekitar US$27 miliar setiap tahun. Di balik angka itu tersimpan satu pengakuan yang telanjang. Selama lebih dari tiga dekade, negeri ini tidak pernah benar-benar melihat ekspornya sendiri.
Henry Farrell dan Abraham Newman, dalam apa yang mereka sebut weaponized interdependence, menunjukkan bahwa setiap simpul jaringan global menyimpan sepasang tuas. Tuas pertama menutup, yang mereka beri nama chokepoint effect. Tuas kedua mengamati, yang mereka sebut panopticon effect: efek menara penjaga yang melihat tanpa terlihat. Hampir seluruh kecemasan pasar tertuju pada yang pertama, dan ia memang rapuh. Batu bara punya banyak pengganti, minyak sawit bersaing dengan Malaysia dan sederet minyak nabati lain. Sebuah kartel hanya manjur ketika pembeli kehilangan jalan keluar, dan di sini pembeli punya banyak. Gerbang yang menutup dapat saja hanya menaikkan ongkos sendiri sembari menyerahkan pangsa kepada pesaing.
Tuas yang kedua punya watak yang lain. Perhatikan apa yang dikerjakan badan baru itu pada tahap pertama, sepanjang Juni hingga akhir 2026. Tidak ada marjin yang dipungut. Tidak ada keran yang ditutup. Yang ada hanyalah kewajiban setiap kargo melewati satu jendela. Di jendela itu volume, harga, serta tujuannya dicocokkan dengan harga-harga di bursa dunia. Itu bukan pos pungutan. Itu sepasang mata. Dari mata itu lahir hal yang tidak pernah dimiliki negeri ini selama 34 tahun: kemampuan mengetahui lebih dahulu daripada siapa pun. Desain final, termasuk apakah benar tanpa marjin sepanjang 2026 dan bagaimana struktur fee setelahnya, masih menunggu peraturan turunan.
Amerika Serikat sudah lama hidup dari logika serupa. Kekuatan paling dalam dari dolar tidak terletak pada kemampuannya memutus sebuah negara dari sistem pembayaran, sebuah tindakan langka yang selalu menimbulkan kegaduhan. Kekuatannya terletak pada kemampuannya menatap, lewat SWIFT, CHIPS, dan jaringan korespondensi bank global, hampir setiap transaksi dolar di muka bumi, setiap hari, tanpa bersuara. Yang kini sedang dibangun Indonesia adalah upaya menyalakan panopticon yang sama, tetapi di dunia komoditas. Bedanya, mata Indonesia tidak bertumpu pada jaringan keuangan global, melainkan pada kewajiban pelaporan domestik. Itu membuatnya lebih sempit, tetapi juga lebih mudah dipasang.
Ada paradoks yang berjalan diam-diam di balik kebijakan ini. Tujuan menentukan harga, yang berulang kali disampaikan Presiden, lebih sukar dicapai lewat gerbang yang menutup daripada lewat mata yang melihat segalanya. Pihak yang menggenggam informasi paling lengkap ikut membentuk dugaan pasar, dan dugaan itulah yang membentuk harga. Negara yang lebih dahulu tahu duduk di meja perundingan sembari mengenali berapa banyak yang ingin dibeli lawannya, pada harga berapa, ketika lawan masih meraba. Harga pun bergeser tanpa satu keran disentuh. Penjual menjelma menjadi penentu lewat pandangan, tanpa paksaan.
Mata itu tidak berdiri sendiri. Sejak larangan ekspor bijih mentah pada 2020, peleburan dipaksa berlangsung di dalam negeri, dan kini dunia harus mendatangi tungku-tungku Indonesia untuk mengolah. Mata, tungku, dan gerbang. Ketiga simpul itulah arsitektur yang sesungguhnya, sementara gerbang yang menggemparkan bursa hanyalah umpan yang paling terang.
Para analis di ISEAS-Yusof Ishak Institute membaca Danantara sebagai pergeseran cara negara membiayai pembangunan, lewat kendaraan investasi alih-alih anggaran, sebuah pola yang menuntut pengawasan parlemen yang sepadan. Lapisan yang mampu melihat seluruh aliran dagang sebuah bangsa bekerja paling baik ketika mandat audit DPR, ketelitian BPK, dan pers yang merdeka mengimbanginya. Tanpa itu, kemampuan melihat dapat dengan cepat berubah menjadi kemampuan memeras: mengarahkan kontrak ke lingkaran tertentu, menekan pesaing yang berseberangan politik. Mata yang berkuasa, bagaimanapun, sebaiknya juga diawasi.
Ada keuntungan tersembunyi dari urutan yang dipilih. Indonesia tengah mengincar keanggotaan penuh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Peta Jalan Aksesi 2024 OECD secara khusus mencurigai distorsi persaingan oleh badan usaha milik negara. Sebuah monopoli melanggar prinsip itu. Sebuah lapisan data tidak. Gerbang bisa dilunakkan demi masuk klub, sedangkan mata tetap menyala. Dengan kata lain, Indonesia sedang menyalakan mata negara tepat ketika ia mendaftar menjadi anggota klub yang curiga pada mata semacam itu. Komoditas yang paling menentukan pun belum masuk daftar: Indonesia menggenggam lebih dari separuh produksi nikel dunia, tulang punggung baterai yang diperebutkan kebijakan industri hijau Washington dan Beijing, dan pada nikel itulah kelak ketiga simpul akan bertemu.
Opsi-opsi lain ada di atas meja: bea cukai yang lebih tajam, sistem faktur elektronik, kerja sama multilateral melawan salah-faktur. Presiden memilih rute pengekspor tunggal sebagai jalan pintas. Satu hal membedakan percobaan ini dari para pendahulunya. Kapitalisme negara yang berhasil, dari Saudi Aramco dan QatarEnergy hingga model Tiongkok, umumnya tumbuh di bawah kendali terpusat. Indonesia mencobanya di dalam sebuah demokrasi, dengan pers yang masih bersuara dan kekuasaan yang berganti setiap 5 tahun. Ujian sesungguhnya, dengan demikian, bukanlah marjin yang ia pungut tahun depan. Ujian sesungguhnya adalah apakah lapisan pengawasan tadi bertahan dan tetap terpusat melampaui satu masa pemerintahan. Lapisan data yang dibangun hari ini bisa, di tangan koalisi 2029 atau 2034, berubah dari instrumen fiskal menjadi instrumen politik.
Pada 1 Juni 2026, kargo pertama akan melewati jendela baru itu. Tidak ada upacara. Tidak ada pengumuman. Hanya sebuah catatan, di suatu sistem, di suatu meja: volume sekian, harga sekian, tujuan sekian. Bursa boleh terus menatap pintu yang berderak. Lensa di belakangnya tidak akan berkedip.
**********************
Tentang Penulis
Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis
Hak cipta dilindungi berdasarkan Pasal 113 UU 28/2014 tentang Hak Cipta.





Comments are closed.