Wed,5 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Fauci Bungkam, Redaksi Kita Bisu

Fauci Bungkam, Redaksi Kita Bisu

fauci-bungkam,-redaksi-kita-bisu
Fauci Bungkam, Redaksi Kita Bisu
service

Audio dibuatAudio dibuat menggunakan AI.

Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis


KATA PEMRED #60
PinterPolitik.com

Seorang lelaki berusia 85 tahun duduk di ruangan berpanel kayu, ditanya hari apa hari itu.

Ia tidak menjawab.

Ditanya warna dasi yang dikenakannya. Ia juga tidak menjawab. Jawaban 2 pertanyaan itu ada pada tubuhnya sendiri, dan keduanya ia serahkan kepada Amandemen Kelima. Hampir 3 jam pada 29 Juli 2026, lebih dari 100 kali, Anthony Fauci memilih diam.

Beberapa hari sebelumnya, komite yang sama meletakkan sesuatu di atas meja publik. Lebih dari 1.000 halaman buku harian pribadinya, Desember 2019 sampai Desember 2022. Terbuka. Gratis. Bisa diunduh dari mana saja, termasuk Jakarta.

Sebuah tumpukan kertas yang tidak dijaga siapa pun.

Sejauh penelusuran redaksi ini, inilah yang sampai ke sini.

Kantor berita nasional menurunkan adegan diam itu sehari sesudahnya. Sumbernya kawat asing, diterjemahkan. Kanal lain memuat versi lain, juga terjemahan, dengan diksi politik negara pengirimnya terbawa utuh.

Tumpukan yang gratis itu tidak dibuka. Yang dibeli adalah tafsir orang lain atas sesuatu yang tergeletak di sana, menunggu.

Lalu ada satu kanal yang benar-benar masuk. Dari 1.000 halaman, yang diangkat adalah satu catatan November 2021, berisi umpatan seorang mantan presiden terhadap penerusnya. Isinya tidak perlu diulang di sini.

Arsip tata kelola sebuah pandemi dibuka, dibaca, lalu yang dipanen adalah makiannya.

Itu bukan ketidakmampuan membaca. Itu keputusan tentang apa yang layak dijual.

Opini ini bukan tentang Fauci. Sejak baris ini, Washington tidak akan disebut lagi.

Sebelum menuduh siapa pun, redaksi ini mencoba mengingat satu peristiwa selama pandemi. Satu pagi ketika dokumen ilmiah tergeletak di meja rapat, lalu seseorang mengangkatnya, membacanya sampai habis, dan bertanya kepada orang yang paham.

Tidak ditemukan satu pun.

Yang tersisa hanya ingatan tentang layar yang terus bergulir, dan keadaan terombang-ambing oleh kabar bohong tanpa alat untuk berdiri.

Sesudah 6 tahun, belum ada penyesalan.

Itu yang paling mengganggu. Bukan kegagalannya, melainkan tenangnya.

Sebabnya kini bisa diduga. Penyesalan hanya datang kalau ada kerugian. Ketika sebuah redaksi tidak sanggup membaca dokumen, yang tersisa untuk dijual hanya keramaian. Dan keramaian itu laku.

Kegagalan yang menguntungkan tidak pernah terasa sebagai kegagalan.

Itu yang terjadi di redaksi ini. Boleh diduga hal serupa berlangsung secara kolektif. Tetapi dokumennya tidak ada di tangan, maka dakwaan ini berhenti di rumah sendiri.

Pengalaman itu menimbulkan satu dugaan. Selama 15 tahun keluhan pers Indonesia selalu sama, yaitu kalah cepat, kalah klik, kalah algoritma. Mungkin yang kalah bukan kecepatannya, melainkan kemampuan mengubah kertas menjadi pengetahuan.

Sheila Jasanoff dari Harvard menyebutnya civic epistemology, yaitu cara khas sebuah masyarakat menghasilkan dan menguji pengetahuan untuk keputusan bersama. Menurutnya kemampuan itu lahir dari praktik, bukan teori.

Artinya tidak menyenangkan. Kapasitas semacam itu tidak bisa diserukan. Ia hanya tumbuh dari kebiasaan yang diulang bertahun-tahun sampai menjadi refleks tangan.

Ada bangsa yang memperlakukannya persis begitu.

Pada 2002, Inggris mendirikan Science Media Centre. Lembaga itu lahir dari laporan komite parlemen, dokumen yang dibaca lalu ditindaklanjuti. Tugasnya sederhana, memastikan wartawan punya akses cepat ke pembacaan ahli ketika sains menjadi berita. Model itu kemudian berdiri di Australia, Selandia Baru, Jerman, Spanyol, dan Taiwan.

Perhatikan tahunnya. 18 tahun sebelum pandemi. Dibangun di masa tenang, ketika belum ada yang sakit.

Perhatikan juga nama terakhir di daftar itu. Taiwan, dengan 23 juta penduduk, punya lembaga semacam itu. Republik dengan 280 juta tidak pernah membangunnya. Tidak sebelum pandemi, tidak selama, tidak sesudah.

Bukan berarti lembaga itu harus ditiru. Ia punya pengkritiknya sendiri. Yang membedakan bukan lembaganya, melainkan bahwa di sana kemampuan membaca dokumen pernah dianggap sesuatu yang harus dibangun.

Di sini ia tidak pernah dianggap apa pun.

Ongkosnya bukan teori. Republik ini pernah membayarnya.

Pada akhir 2006, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengumumkan Indonesia berhenti membagi sampel virus H5N1 kepada Organisasi Kesehatan Dunia. Ia menciptakan istilahnya sendiri, viral sovereignty. Argumennya keras dan sah. Negara berkembang menyerahkan virus, negara maju membuat vaksin, lalu vaksin itu dijual kembali dengan harga yang tidak terjangkau pemilik virusnya.

Dunia mendengar. WHO kemudian mengakui Supari berhasil memusatkan perhatian global pada ketimpangan itu. Perselisihannya berakhir pada 2011 dengan lahirnya PIP Framework.

Indonesia, untuk sekali waktu, mengubah aturan main dunia.

Lalu pada Februari 2008, menteri yang sama menerbitkan buku setebal 182 halaman. Isinya tuduhan, yang tidak pernah terbukti, bahwa sebuah negara besar berniat memproduksi senjata biologis dari virus itu. Lembaga kesehatan dunia disebut berkomplot mengeruk untung.

2 klaim, 1 mulut, jarak 14 bulan. Yang pertama memindahkan norma internasional. Yang kedua membakarnya.

Pertanyaannya bukan mana yang benar. Pertanyaannya, adakah redaksi di negeri ini yang sanggup memisahkan keduanya. Menjelaskan bahwa yang satu berdiri di atas dokumen, yang lain tidak berdiri di atas apa-apa.

Keduanya diberitakan sebagai satu paket keberanian nasional. Lalu sama-sama ditinggalkan ketika beritanya reda.

Yang hangus bukan reputasi satu menteri. Yang hangus adalah posisi tawar republik pada isu yang kelak menentukan nasib 280 juta orang.

Dokumen kalah oleh drama. Pola itu belum berubah.

Pada September 2021, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman dilebur ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional. Angka yang beredar seragam, yaitu 113 orang diberhentikan, 71 di antaranya tenaga honorer periset. Tetapi data yang diperoleh Kompas dari dalam Eijkman menyebut angka lain. Dari 157 staf, 115 diberhentikan, hanya 42 yang bisa masuk.

2 angka resmi yang tidak cocok, tentang lembaga biologi molekuler tertua di negeri ini, di tengah pandemi.

Hampir 4 tahun berlalu. Tidak ada yang mengejar selisihnya.

Kita meliput pemutusan kontrak.

Kita tidak meliput hilangnya kapasitas.

Redaksi kita terlatih meliput pertengkaran pejabat dan mereka yang terkena PHK. Kita tidak terlatih meliput dokumen. Kita sama sekali tidak terlatih meliput ketidakpastian, yaitu keadaan ketika ilmu pengetahuan mengubah rekomendasinya karena buktinya bertambah, bukan karena ada yang menyebarkan kabar bohong.

Ini perlu ditegaskan supaya tidak disalahpahami. Tulisan ini tidak menyatakan virus itu bocor dari laboratorium, dan tidak menyatakan pertanyaan tentang tata kelola riset berbahaya terlarang. Justru itu intinya. Tuduhan yang belum berbukti tetap tuduhan, dari mulut siapa pun ia keluar. Pertanyaannya sah, jawabannya harus mengikuti bukti yang dapat diuji. Redaksi yang sehat sanggup memegang 2 hal itu sekaligus. Redaksi yang lemah memilih salah satu, lalu berteriak.

Taruhannya lebih besar daripada nasib satu industri. Negara ini menerbitkan ribuan halaman setiap tahun. Rancangan undang-undang, naskah akademik, audit BPK, laporan lembaga riset, data statistik. Tidak ada warga yang sanggup membacanya sendiri. Pekerjaan itu selama ini jatuh ke ruang redaksi, bukan karena ia milik negara, justru karena ia bukan.

Ketika ruang itu berhenti membaca, kertas-kertas itu tetap terbit. Hanya tidak ada lagi yang mengangkatnya.

Maka yang dibutuhkan bukan seruan. Sudah 6 tahun literasi diserukan.

Yang dibutuhkan adalah pos liputan sains yang permanen, bukan sambilan reporter umum. Orang yang terlatih membedakan naskah pracetak dari naskah yang sudah ditelaah sejawat. Kebiasaan menaruh dokumen di meja sebelum menaruh kutipan. Kemampuan menulis “belum diketahui” tanpa merasa kehilangan berita.

Itu bukan sikap. Itu perkakas. Perkakas dibentuk bertahun-tahun oleh tangan yang memakainya, dan tidak ada perkakas yang lahir dari imbauan.

Kita sedang ramai membicarakan kedaulatan atas udara. Menara, spektrum, satelit, pusat data. Seolah kedaulatan selesai pada saat pipanya menjadi milik sendiri.

Padahal yang mengalir di dalam pipa itu bukan sinyal. Yang mengalir adalah makna.

Bangsa yang memiliki seluruh salurannya, tetapi tidak sanggup membaca apa yang lewat di dalamnya, tidak sedang berdaulat atas udaranya. Ia hanya sedang menyewakannya.

**********************


Tentang Penulis

Dr. Wim Tangkilisan, S.H., M.Sc.
Pemimpin Redaksi PinterPolitik.com
Chairman, PinterPolitik Center for Strategic Policy Analysis


Hak cipta dilindungi Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Setiap orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk penggunaan secara komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.