Wed,5 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Politics
  3. Yang Kaya, Yang Boleh Jatuh Cinta?

Yang Kaya, Yang Boleh Jatuh Cinta?

yang-kaya,-yang-boleh-jatuh-cinta?
Yang Kaya, Yang Boleh Jatuh Cinta?
service

Dengarkan artikel ini:

Audio ini dibuat menggunakan AI.

Sebuah pengakuan viral bilang cinta itu kemewahan. Kalau dibaca lewat sosiologi Eva Illouz, itu bukan curhat patah hati, tapi diagnosis ekonomi.


PinterPolitik.com

Ada satu wawancara di aksibersama.id yang belakangan jadi polemik. Seorang perempuan bercerita soal mantannya yang memutuskan hubungan bukan karena tak sayang, tapi karena tak punya waktu. Sang mantan kuliah sambil kerja, sekaligus menanggung orang tua, bagian dari apa yang sering disebut sandwich generation, generasi yang terjepit menopang tanggungan di atas dan bawah sekaligus. Kesimpulannya menohok: mungkin, kalau saja ia cukup mampu, cukup kaya, ia akan punya kapasitas untuk jatuh cinta.

Kalimat itu terdengar seperti resignasi personal. Tapi ada baiknya kita curigai justru karena terlalu masuk akal.

Premisnya begini: cinta romantis bukan perasaan murni yang bebas dari ekonomi, melainkan praktik sosial yang butuh modal. Ini inti pemikiran sosiolog Eva Illouz. Ia menolak dongeng lama bahwa cinta sejati berdiri di seberang perhitungan untung-rugi, bahwa hati dan dompet adalah dua dunia terpisah. Sebaliknya, kata Illouz, kapitalisme modern justru meleburkan keduanya. Relasi ekonomi jadi penuh emosi, dan relasi intim jadi diatur logika ekonomi: tawar-menawar, pertukaran, kalkulasi. Ia menyebut kondisi ini kapitalisme emosional.

Kalau lensa itu benar, maka pengakuan perempuan tadi bukan sekadar patah hati. Itu laporan lapangan tentang siapa yang punya modal untuk mencintai, dan siapa yang tidak.

Cinta Itu… Butuh Waktu dan Mahal?

Mari turunkan premisnya. Illouz berargumen cinta modern menuntut sesuatu yang ia sebut kompetensi emosional, yaitu kemampuan mengelola, mengekspresikan, dan merawat relasi. Masalahnya, kompetensi itu tidak jatuh dari langit. Ia butuh sumber daya: waktu luang untuk hadir, ruang mental untuk memikirkan orang lain, uang untuk ritual yang dianggap romantis.

Di sinilah kisah sang mantan jadi ilustrasi telak. Ia tidak kekurangan cinta. Ia kekurangan waktu, dan waktu, bagi kelas pekerja, adalah komoditas paling langka. Orang yang kuliah sambil kerja sambil menanggung orang tua tidak sedang kehabisan perasaan. Ia sedang kehabisan kapasitas untuk menyalurkannya. Perhatian, dalam ekonomi yang menuntut setiap jam produktif, adalah barang mahal.

Illouz punya konsep lain yang pas di sini: relasi modern berlangsung di semacam pasar. Dalam bukunya Why Love Hurts, ia menggambarkan cinta kontemporer sebagai arena tempat orang menakar diri dan calon pasangan lewat kalkulasi pilihan. Dan seperti pasar mana pun, ia tidak setara. Yang punya modal berupa waktu, uang, dan stabilitas masuk dengan posisi tawar tinggi. Yang tidak, masuk dengan tangan kosong.

Perlu jujur soal satu hal: Illouz menulis dari konteks Barat, dan analisisnya kerap dikritik terlalu fokus pada relasi heteroseksual kelas menengah. Ia juga bisa terdengar memaksakan metafora ekonomi ke ranah yang tak sepenuhnya ekonomis. Tapi di Indonesia, tempat jurang kelas begitu telanjang, kerangka ini terasa makin relevan, bukan makin renggang.

“Belum Siap” Tanda “Belum Mampu”?

Turunkan satu tingkat lagi. Ada frasa yang akrab di telinga anak muda Indonesia: “belum siap.” Belum siap pacaran, belum siap nikah, belum siap berkomitmen. Kita cenderung membacanya sebagai soal kematangan pribadi.

Lewat kacamata Illouz, “belum siap” sering kali adalah eufemisme untuk “belum punya modal.” Bukan hatinya yang belum matang, tapi rekening dan jadwalnya yang belum memungkinkan. Komitmen romantis, dalam kerangka ini, adalah investasi yang menuntut surplus, dan surplus itulah yang tidak dimiliki mayoritas pekerja muda urban.

Di sinilah pengakuan viral tadi berubah makna. Kita terbiasa membaca kegagalan cinta sebagai cerita individual: dia kurang berusaha, dia egois, dia tak cukup dewasa. Illouz membalik logika itu. Penderitaan romantis, katanya, bukan cacat pribadi, melainkan gejala dari cara masyarakat menata ulang cinta, seksualitas, dan pilihan di bawah kapitalisme.

Artinya, ketika makin banyak pekerja muda urban menunda menikah, atau memilih tidak sama sekali, itu bukan wabah keegoisan generasi. Itu respons rasional terhadap ekonomi yang membuat cinta jadi barang mahal. Kalau perhatian menuntut waktu, dan waktu menuntut uang yang tak ada, maka menunda cinta bukan kegagalan moral. Itu kalkulasi bertahan hidup.

Di sinilah letak ironinya. Narasi populer terus menyuruh anak muda memperbaiki diri dulu sebelum layak dicintai, seakan cinta adalah hadiah bagi yang cukup rajin menabung kompetensi emosional. Tapi kalau Illouz benar, menyuruh orang memperbaiki diri di tengah ketimpangan struktural sama saja menyuruh mereka berenang lebih cepat sambil kaki diikat.

Perempuan di wawancara itu, tanpa mengutip satu teori pun, sudah merumuskan yang gagal dilihat banyak orang: cinta memang punya harga. Yang belum kita akui secara kolektif adalah bahwa harga itu naik terus, sementara upah tidak. Pertanyaannya bukan lagi kenapa anak muda susah jatuh cinta. Pertanyaannya: masyarakat seperti apa yang membuat mencintai jadi kemewahan?

“The heart has its reasons,” tapi rupanya, dompet punya suara yang lebih keras. (R100)


0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.