Dengarkan artikel ini:
Daftar anggota klub rahasia Peter Thiel bocor, isinya komandan NATO sampai miliarder. Kenapa orang paling berkuasa di dunia justru bersepakat di ruang yang tak boleh kita intip?
Ada sebuah ruangan, dan sampai Juni 2026 hampir tidak ada orang luar yang tahu isinya. Di dalamnya, menurut data yang bocor, duduk panglima tertinggi NATO untuk Eropa, dua senator Amerika Serikat, mantan kepala intelijen dari Timur Tengah, sejumlah pejabat pemerintahan Trump, dan segelintir miliarder yang perusahaannya memegang kontrak pengawasan pemerintah.
Nama perkumpulan itu Dialog. Jaringan berbasis undangan ini didirikan pada 2006 oleh Peter Thiel, miliarder pendiri PayPal dan Palantir, bersama investor Auren Hoffman.
Selama hampir dua dekade mereka menolak membuka daftar anggotanya, mengklaim diri sebagai forum “bipartisan” yang mempertemukan tokoh berpengaruh dari dunia teknologi, politik, akademi, dan keuangan. Kerahasiaan itu runtuh ketika peretas keamanan asal Swiss, Maia Arson Crimew, menemukan kode di situs Dialog yang membocorkan 113 nama tokoh terkemuka. Terpisah, sebuah sumber menyerahkan kepada WIRED daftar registrasi retret 2026 yang memuat 222 nama.
Yang paling menggelitik justru bukan siapa yang hadir, melainkan apa yang mereka bahas. Daftar sesi yang bocor memuat panel-panel berjudul “Money (Does?) Buy Happiness”, “Bring Back Nuclear”, “Navigating WWIII”, dan yang paling mengundang tanya, “Build-a-Cult”, alias cara membangun kultus. Ada pula “How’s Your Sex Life?”.
Sesi tentang membangun gerakan keagamaan konon dipandu pendiri platform Kristen Pray.com, sementara sesi “Build-a-Party” tentang membentuk partai politik dipandu mantan pejabat keamanan nasional Gedung Putih. Perang, teknologi militer, agama, dan pembentukan partai, semuanya dibahas dalam satu akhir pekan, di balik pintu yang sama.
Dengan berbagai panel itu, Dialog bisa saja menjadi wadah diskusi yang kontributif bagi ruang ide dan inovasi masyarakat dunia. Bila benar demikian, mengapa lantas organisasi ini tetap dipersoalkan dan disoroti publik? Mengapa Indonesia juga perlu berhati-hati menghadapi eksistensi Dialog?
Komunitas untuk Dunia Lebih Baik?
Untuk membaca fenomena ini secara jernih, ada baiknya menengok sebuah konsep yang sudah lama dikenal dunia kebijakan, yaitu komunitas epistemik (epistemic community). Istilah ini dipopulerkan ilmuwan politik Peter Haas pada awal 1990-an untuk menamai jaringan para ahli yang berbagi keahlian dan seperangkat keyakinan bersama, lalu membantu pemerintah memahami persoalan rumit yang tidak bisa diurai dengan akal sehat awam semata.
Inti gagasannya sederhana. Ketika pembuat kebijakan menghadapi masalah yang sarat ketidakpastian teknis, mereka bergantung pada kalangan yang benar-benar menguasai persoalan itu. Para ahli inilah yang memasok kerangka berpikir, menakar risiko, dan menawarkan solusi yang kemudian diadopsi menjadi kebijakan.
Contoh paling klasik adalah para ilmuwan iklim dan kimia atmosfer di balik Protokol Montreal 1987. Merekalah yang meyakinkan dunia bahwa lubang ozon nyata dan berbahaya, lalu mendorong lahirnya kesepakatan global untuk menghapus zat perusak ozon. Hasilnya bisa diperiksa siapa pun karena bertumpu pada data yang terbuka dan teruji.
Pola serupa terlihat di banyak arena lain. Ada komunitas ekonom yang merumuskan konsensus soal kebijakan moneter, ada jaringan ahli kesehatan yang menuntun respons pandemi lewat lembaga seperti WHO, dan ada para pakar hukum laut yang membidani lahirnya United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS). Semuanya berbagi satu ciri, yakni otoritas mereka lahir dari keahlian yang bisa diuji, bukan dari jabatan atau kekayaan.
Yang membuat komunitas epistemik sehat bagi demokrasi justru cara kerjanya yang terbuka. Temuan mereka dipublikasikan, dibantah kolega, direvisi bila keliru, dan tunduk pada verifikasi sesama ahli. Pengetahuan yang mereka pasok memperkuat prinsip dasar demokrasi, bahwa keputusan yang mengikat banyak orang semestinya bisa dipertanyakan oleh banyak orang.
Lantas, bila Dialog dimaksudkan untuk membentuk sebuah komunitas epistemik, mengapa organisasi tersebut tetap menjadi kontroversial secara politik? Apa yang membuat Dialog berbeda dari komunitas-komunitas epistemik lainnya yang bergerak di bidang ekonomi dan lingkungan?

Ketika Komunitas Pindah ke Ruang Tertutup
Persoalan muncul ketika logika komunitas epistemik dibajak oleh kelompok yang meniru bentuknya tetapi membuang isinya. Di sinilah, kita bisa berbicara soal kartel epistemik, yaitu sekelompok kecil orang berpengaruh yang, di ruang tertutup, memproduksi dan menyepakati “apa yang benar” tentang dunia, lalu membawanya keluar sebagai kebijakan yang menyentuh miliaran orang yang tidak pernah diajak bicara.
Disebut kartel karena logikanya persis kartel ekonomi. Kalau kartel dagang mengendalikan pasokan barang untuk mengatur harga, kartel epistemik mengendalikan pasokan gagasan untuk mengatur arah kebijakan. Bedanya dengan komunitas epistemik terletak pada tiga hal yang menentukan segalanya.
Pertama, transparansi. Komunitas epistemik bekerja terbuka dan temuannya bisa diperiksa publik, sedangkan kartel epistemik bekerja di balik pintu tertutup dengan aturan tutup mulut.
Kedua, dasar otoritas. Komunitas epistemik berbicara atas dasar keahlian yang teruji, sedangkan kartel epistemik berbicara atas dasar kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki anggotanya.
Ketiga, akuntabilitas. Klaim komunitas epistemik tunduk pada verifikasi sesama, sedangkan klaim kartel epistemik tidak tunduk pada siapa pun.
Dialog adalah wujud paling telanjang dari kartel semacam ini. Lihat kembali komposisinya. Panglima NATO duduk semeja dengan miliarder teknologi yang perusahaannya menjual perangkat pengawasan, ditemani senator yang tugasnya justru mengawasi kontrak semacam itu.
Sosiolog asal Amerika Serikat, C. Wright Mills, sudah menamai gejala ini sejak 1956 lewat bukunya The Power Elite, yakni segelintir orang yang menduduki puncak korporasi, militer, dan pemerintahan sekaligus, saling kenal, berpindah posisi antar-ketiganya, dan berbagi cara pandang yang sama.
Dialog sebetulnya bukan spesies baru, melainkan keturunan terbaru dari garis panjang. Bilderberg Group sudah mempertemukan pemimpin Eropa dan Amerika Utara sejak 1954 tanpa notulen publik. Trilateral Commission merajut elite tiga kawasan sejak 1973 dengan pola serupa.
Bahkan, klub-klub gentleman di London abad ke-19 sudah menjadi tempat kesepakatan penting dirumuskan jauh dari mata parlemen. Dialog hanyalah versi Silicon Valley dari naluri yang sangat tua, yaitu kekuasaan gemar berbisik di ruang tertutup.
Perbedaan antara komunitas dan kartel ini bukan soal teori belaka, melainkan menyangkut kesehatan demokrasi itu sendiri. Komunitas epistemik memperkuat demokrasi dengan memasok pengetahuan yang bisa diuji, sedangkan kartel epistemik menggerogotinya dengan memindahkan pengambilan keputusan ke ruang yang tak bisa diintip, apalagi digugat.
Bagi kita di Indonesia, kisah Dialog bukan sekadar drama orang kaya di seberang lautan. Pasalnya, pola elite berkumpul diam-diam untuk menentukan arah bukan hal asing di negeri ini, dari lobi bisnis di balik kebijakan hingga koalisi yang dirakit di meja makan alih-alih di ruang publik.
Setiap masyarakat memang selalu punya kamar tempat keputusan dimatangkan, sehingga yang menentukan bukanlah ada atau tidaknya ruang tertutup, melainkan apakah pengetahuan yang keluar dari sana tunduk pada verifikasi publik dan lahir dari keahlian yang teruji, bukan semata dari kuasa dan modal. Bangsa yang sehat bukanlah bangsa yang menutup semua pintu, tetapi bangsa yang berani menuntut agar apa yang dibisikkan di baliknya bisa dipertanggungjawabkan di terang siang, karena kekuasaan yang paling perlu diwaspadai memang bukan yang berteriak di podium, melainkan yang berbisik di balik pintu sambil berharap kita terlalu sibuk untuk bertanya. (R100)





Comments are closed.