Jakarta, Arina.id—Pendiri Alvara Research Center Hasanuddin Ali menilai Nahdlatul Ulama (NU) perlu beradaptasi dengan perubahan demografi penduduk Indonesia yang kini didominasi generasi muda dan masyarakat perkotaan.
Hasanuddin mengatakan, saat ini sekitar 54 persen penduduk Indonesia merupakan generasi milenial dan Generasi Z. Selain itu, sekitar 65 persen masyarakat Indonesia kini tinggal di wilayah perkotaan.
“Yang di masyarakat desa sudah minoritas,” kata Hasanuddin dalam bincang bersama Cak Nanto, dikutip Jumat (7/8).
Menurutnya, perubahan demografi tersebut akan memengaruhi seluruh organisasi kemasyarakatan, termasuk NU. Karena itu, ormas Islam harus menyesuaikan strategi agar tetap relevan dengan perubahan karakter masyarakat.
Hasanuddin juga menyoroti adanya perbedaan tingkat pengakuan sebagai warga NU pada setiap generasi. Berdasarkan hasil survei Alvara, sebanyak 67,1 persen generasi baby boomers mengaku sebagai warga NU. Angka itu turun menjadi sekitar 60 persen pada Generasi X dan sekitar 50 persen pada Generasi Z.
“Jumlah ini di bawah rata-rata nasional,” ujarnya.
Ia mengungkapkan bahwa PBNU telah menyusun roadmap NU 25 tahun untuk periode 2026–2050 dan dirinya turut terlibat dalam penyusunannya. Salah satu fokus pembahasan dalam roadmap tersebut ialah Generasi Z.
“Memang ada satu kesadaran di kalangan jam’iyah NU, harus menjadi serius terkait anak muda ini,” katanya.
Menurut Hasanuddin, perhatian terhadap generasi muda juga berkaitan dengan perkembangan teknologi digital. Ia menyebut sekitar 98 persen anak muda telah menggunakan internet sehingga pendekatan NU harus menyesuaikan dengan ekosistem digital.
Dalam beberapa tahun terakhir, kata dia, program-program PBNU yang menyasar anak muda mulai terlihat. Salah satunya melalui Super App NU Online yang menjadi bagian dari upaya mendekatkan NU kepada generasi muda melalui media digital.
Selain itu, transformasi jam’iyah melalui Digdaya juga menjadi bentuk adaptasi NU terhadap ekosistem digital yang terus berkembang.
“Pengurus-pengurus sekarang juga banyak anak muda. Dan mereka setiap hari dengan gadget-nya itu. Ketika dikasih Digdaya itu nyambung,” ujarnya.
Hasanuddin Ali menilai platform Digdaya yang selama ini dikembangkan PBNU untuk kebutuhan internal jam’iyah ke depan akan diperluas menjadi platform layanan.
“Pengembangannya mencakup bidang kesehatan, pendidikan, seperti pesantren dan sekolah Ma’arif, filantropi melalui LAZISNU, serta ekonomi melalui penguatan kapasitas dan pelatihan di bidang ekonomi dan keuangan,” jelasnya.



Comments are closed.