Thu,28 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Top News
  3. Mendengar disabilitas bernyanyi di megahnya Masjid Istiqlal Jakarta

Mendengar disabilitas bernyanyi di megahnya Masjid Istiqlal Jakarta

mendengar-disabilitas-bernyanyi-di-megahnya-masjid-istiqlal-jakarta
Mendengar disabilitas bernyanyi di megahnya Masjid Istiqlal Jakarta
service

sayangnya, hingga hari ini, bantuan tunai khusus disabilitas yang dinantikan itu tak kunjung ada

Jakarta (ANTARA) – Suasana fajar di Stasiun Bojonggede, Bogor, Jawa Barat pagi itu masih berselimut kabut saat Dika dan saudaranya Niar bergegas mengejar kereta komuter paling awal untuk menuju ke Jakarta.

Hari itu bertepatan dengan perayaan Idul Adha 1447 Hijriyah, ketika jutaan orang bersiap berkumpul bersama keluarga, kedua perempuan ini justru memilih menempuh perjalanan puluhan kilometer demi menjemput rezeki yang mekar setahun sekali di jantung Ibu Kota.

Langkah kaki mereka akhirnya tertambat di pelataran gerbang Masjid Istiqlal, persis menghadap ke Gereja Katedral yang berdiri anggun di seberang jalan. Begitu khotbah selesai dan jamaah mulai mengalir keluar, Dika langsung sigap.

Jemarinya yang kokoh mencengkeram erat gagang pengeras suara jinijng, lalu memikulnya ke pundak. Bertumpu pada sebatang tongkat di tangan kanan, perempuan tunanetra ini menarik napas dalam-dalam, mendekatkan mikrofon ke bibir dan mulai bernyanyi.

“Kalau hari raya begini biasanya jamaah jauh lebih ramai, dan pemurah,” bisik Niar sambil sesekali membetulkan posisi berdiri Dika agar tidak terdorong oleh arus manusia yang kian padat.

Bagi Dika, riuh langkah kaki dan wangi parfum hari raya yang berseliweran di sekitarnya adalah penanda bahwa panggunggnya telah dimulai. Melalui indra pendengarannya yang tajam, ia menangkap setiap dinamika di pelataran itu sebagai peluang.

Senandung lagu religi yang keluar dari tenggorokannya mengalun jernih, membelah kebisingan kota hingga seketika mengubah pelataran menjadi ruang penuh kehangatan. Ini adalah tahun ketiga berturut-turut bagi Dika dan Niar menjadikan Istiqlal sebagai tumpuan harapan di hari besar keagamaan.

Modal mereka sebenarnya sangat sederhana, yakni sebuah speaker mini elektrik hasil modifikasi, mikrofon dan bakat vocal kang rapi nan otentik hasil dari latihan keterampilan yang sempat didapatkannya kala diasuh asrama sosial khusus tunanetra beberapa tahun lalu.

Keahlian itulah yang menyelamatkan martabat mereka di kerasnya jalanan Jakarta. Ketimbang menengadahkan tangan memelas iba, Dika memilih bersuara, menawarkan karya yang jujur untuk mengetuk pintu hati sesama.

Pilihan menjadi pemusik jalanan ini adalah langkah paling masuk akal yang bisa diambil Dika demi menyambung hidup keluarga. Di hari-hari biasa, ia dan Niar harus rela berpindah-pindah menysuri kawasan perkantoran dan pasar di Jakarta Timur – Jakarta Selatan. Pendapatanya tak pernah pasti.

“Kalau lagi sepi, dapat Rp100 ribu saja sudah kami syukuri. Tapi kalau hari baik, ya Alhamdulillah bisa lah ngantongin duit Rp300 ribu untuk dibawa pulang,” tutur Niar ramah.

Atmosfer hari raya di Istiqlal selalu menjanjikan cerita berbeda. Kemurahan hati mereka yang baru saja menunaikan ibadah seringkali membuat kotak swadaya mereka terisi tumpukan uang. Belum lagi yang didapatkan dari dompet digital. Rata-rata dalam seharian penuh dermawan memberi mereka uang dengan pemindaian kodebatang di atas Rp5 ribu, secara keseluruhan mereka bisa mengumpulkan Rp500 ribu-600 ribu-an.

Di balik optimisme

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.