Arina.id – Bulan Sya’ban memiliki kedudukan mulia dalam Islam dengan banyak keutamaan yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Pintu-pintu rahmat dan ampunan-Nya terbuka lebar pada bulan ke-8 kalender Hijriyah ini.
Lantas mengapa bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban? Menurut Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki dalam kitabnya berjudul Ma Dza Fi Sya’ban? (1424 H, hlm. 5) dijelaskan:
وَسُمِّيَ شَعْبَانُ لِأَنَّهُ يَتَشَعَّبُ مِنْهُ خَيْرٌ كَثِيرٌ، وَقِيلَ مَعْنَاهُ شَاعَ بَانَ، وَقِيلَ مُشْتَقٌّ مِنَ الشِّعْبِ (بِكَسْرِ الشِّينِ) وَهُوَ طَرِيقٌ فِي الْجَبَلِ فَهُوَ طَرِيقُ الْخَيْرِ، وَقِيلَ مِنَ الشَّعْبِ (بِفَتْحِهَا) وَهُوَ الْجَبْرُ فَيَجْبِرُ اللَّهُ فِيهِ كَسْرَ الْقُلُوبِ، وَقِيلَ غَيْرُ ذَلِكَ
Artinya: “Bulan Sya’ban dinamakan demikian, karena banyak cabang kebaikan yang bercabang darinya. Ada yang mengatakan artinya syâ’a bân (terpancarlah keutamaan). Sebagian ulama berpendapat Sya’ban berasal dari kata as-syi’bu yaitu jalan menuju gunung, yakni jalan kebaikan. Ulama lain menyebut dari as-sya’bu (menambal), karena Allah menambal patah hati hamba-Nya di bulan ini dan ada pula beberapa pendapat lain.”
Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki, menyatakan bahwa di bulan Sya’ban umat Islam diperintahkan untuk membaca istighfar, tobat nasuha, membaca shalawat kepada Nabi SAW, tadarus Al-Qur’an, shalat tahajud, memohon ampunan kepada Allah, dan berpuasa sunnah.
Pernyataan ini bersumber dari keteladanan (uswah) yang dicontohkan Rasulullah kepada umat Islam bahwa beliau memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Dalam salah satu hadits diceritakan oleh Sayyidah Aisyah radliyallahu ‘anha:
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَ رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ
Artinya: “Tidaklah aku melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh kecuali Ramadhan dan aku tidak melihat beliau berpuasa sebanyak pada bulan Sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid disebutkan:
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ!، لَمْ أَرَكَ تَصُوْمُ مِنْ شَهْرٍ مِنَ الشُّهُوْرِ مَا تَصُوْمُ مِنْ شَعْبَانَ؟ قَالَ: ذٰلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ، بَيْنَ رَجَبَ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيْهِ اْلأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ. فَأُحِبُّ أَنْ يُّرْفَعَ عَمَلِيْ وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Usamah bin Zain bertanya: Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu berpuasa sebanyak pada bulan Sya’ban. Nabi bersabda: “Sya’ban adalah bulan yang dilalaikan oleh manusia, yang jatuh antara Rajab dan Ramadhan. Sya’ban juga bulan diangkatnya amal perbuatan secara umum (yang dilakukan selama setahun) ke suatu tempat di langit yang dimuliakan oleh Allah Sang Pemilik alam semesta, dan aku senang jika amal perbuatanku diangkat sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. Ahmad, An-Nasa’i dan Al-Baihaqi)
Dari sini, dapat dipetik beberapa poin penting bahwa terdapat beberapa hikmah dalam bulan Syaban:
- Bercabangnya kebaikan (تشعب الخير), yakni pahala amal shaleh akan dilipatgandakan.
- Terpancar keutamaan (شاع بان) yakni, berkah di bulan Sya’ban sangat melimpah.
- Jalan kebaikan (طريق الخير), yakni pintu taubat terbuka.
- Menambal hati (يجبر كسر القلوب), yakni Allah menyembuhkan luka batin hamba-hamba-Nya
Oleh karena itu, alasan penamaan bulan Sya’ban dikarenakan bulan tersebut memiliki cabang kebaikan yang banyak dan hikmah yang luar biasa. Anjuran untuk memperbanyak amal ibadah, termasuk puasa sunnah di bulan Sya’ban sangat ditekankan pada bulan Sya’ban. Wallahu a’lam.





Comments are closed.