Mubadalah.id – Ada satu kebiasaan yang belakangan ini sering saya sadari. Ketika mendengar sebuah berita, tanpa sadar saya sering bertanya, “Dia dari kelompok mana?” Pertanyaan itu muncul begitu saja. Kadang terkait agama, suku, pilihan politik, bahkan organisasi. Seolah-olah identitas seseorang akan menentukan bagaimana saya memahami cerita tentang dirinya.
Padahal, bukankah setiap manusia selalu lebih besar daripada identitas yang melekat padanya? Pertanyaan itu terus menggelayuti pikiran saya setelah membaca Kita dan Mereka karya Agustinus Wibowo.
Saya mengenal Agustinus sebagai penulis perjalanan. Buku-bukunya membawa pembaca melintasi Afghanistan, Tibet, Nepal, hingga Asia Tengah. Tetapi dalam buku ini, saya merasa ia sedang melakukan perjalanan yang berbeda. Ia tidak hanya berjalan melintasi batas negara, tetapi juga juga melintasi batas-batas yang kita bangun di dalam kepala.
Sebagai seseorang yang sehari-hari bergelut dengan isu perempuan, keberagaman, dan kemanusiaan, saya merasa buku ini seperti sedang mengajak saya berdialog, lalu merefleksikannya dengan aktivitas yang saya jalani selama ini.
Saya teringat berbagai pengalaman ketika mengelola Media Mubadalah. Tidak sedikit tulisan atau konten yang kami terbitkan menuai komentar yang sebenarnya tidak membahas isi tulisan. Ada yang lebih sibuk mempertanyakan latar belakang penulisnya, organisasinya, bahkan identitas agamanya. Seolah-olah sebuah gagasan tidak lagi kita nilai dari argumennya, tetapi dari siapa yang menyampaikannya.
Saya juga beberapa kali menjumpai orang yang langsung memasang jarak ketika mendengar kata “feminis”. Sebagian membayangkan feminisme sebagai gerakan yang memusuhi laki-laki. Ada pula yang menganggap pembicaraan tentang kesetaraan gender pasti bertentangan dengan agama. Padahal, sebelum memulai percakapan, mereka sudah lebih dulu membangun tembok di dalam pikirannya.
Kita dan Mereka
Barangkali, inilah yang ingin dibongkar oleh Agustinus. Dalam buku setebal lebih dari enam ratus halaman ini, Agustinus mengajak pembaca memahami bagaimana manusia sejak lama membelah dunia menjadi dua kubu. Kita dan mereka. Pembelahan itu bisa berupa bangsa, ras, agama, bahasa, warna kulit, ideologi, bahkan identitas-identitas yang tampaknya sepele. Ketika sekat itu semakin tebal, lahirlah prasangka. Dari prasangka tumbuh diskriminasi. Lalu dari diskriminasi, tidak jarang lahir kekerasan.
Yang saya sukai dari Agustinus adalah ia tidak sedang menggurui pembaca. Ia tidak menawarkan resep sederhana tentang bagaimana menghapus prasangka. Ia hanya mengajak kita berjalan bersamanya, mendengar kisah orang-orang yang ia temui, menyaksikan berbagai konflik, lalu perlahan menyadari bahwa manusia di mana pun sebenarnya memiliki kegelisahan yang sama. Mereka sama-sama ingin dicintai, diterima, dan hidup dengan aman.
Sebagai pembaca, saya merasa diajak untuk lebih jujur kepada diri sendiri. Bukankah kita semua pernah mencurigai orang hanya karena identitasnya? Pernah merasa lebih benar karena berasal dari kelompok tertentu? Pernah pula lebih mudah bersimpati kepada orang yang “satu golongan” dibandingkan kepada mereka yang berbeda?
Saya sendiri tidak bisa mengatakan bahwa saya sepenuhnya bebas dari prasangka. Barangkali, tidak ada manusia yang benar-benar bebas darinya. Namun, membaca buku ini membuat saya belajar satu hal. Prasangka tidak boleh kita biarkan menjadi cara memperlakukan orang lain.
Bukan Sekadar Buku tentang Identitas
Di sinilah saya menemukan irisan yang sangat kuat dengan gagasan mubadalah, di mana konsep ini mengajarkan bahwa relasi antarmanusia dibangun atas dasar kesalingan dan pengakuan terhadap martabat yang setara. Tidak ada manusia yang lebih mulia hanya karena jenis kelaminnya, agamanya, sukunya, atau identitas sosialnya. Yang membedakan hanyalah kualitas kemanusiaan dan ketakwaannya, bukan label yang melekat sejak lahir.
Karena itu, saya membaca Kita dan Mereka bukan sekadar sebagai buku tentang identitas. Saya membacanya sebagai pengingat bahwa perjuangan mewujudkan keadilan gender, membela kelompok minoritas, mendampingi penyintas kekerasan, ataupun memperjuangkan hak penyandang disabilitas sesungguhnya berangkat dari akar yang sama. Menolak cara pandang yang membagi manusia menjadi “kita” yang lebih berhak dan “mereka” yang boleh disisihkan.
Mungkin itulah sebabnya buku ini terasa penting terbaca pada hari-hari ketika media sosial dipenuhi polarisasi. Ketika orang lebih senang mencari perbedaan daripada menemukan persamaan. Ketika identitas lebih sering terpakai untuk menyerang daripada saling mengenal.
Saya menutup buku ini dengan satu kesadaran sederhana. Barangkali, tantangan terbesar kita bukanlah menemukan siapa “mereka”. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan bahwa cara kita memandang orang lain tidak pernah menghilangkan kemanusiaannya. Sebab, ketika kita berhenti melihat orang lain sebagai “mereka”, mungkin saat itulah kita benar-benar mulai menjadi manusia. []





Comments are closed.