● Keluhan warga terhadap sulitnya menggapai ‘work life balance’ tak pernah surut.
● Padahal seharusnya para pekerja bisa memiliki banyak waktu luang karena penerapan teknologi canggih.
● Logika tersebut akan selalu berlawanan dengan logika organisasi yang amat berorientasi pada profit.
Semangat digitalisasi di semua segi dan lini bisnis diharapkan bisa meningkatkan efisiensi. Logika dasarnya, kemajuan teknologi termasuk akal imitasi (AI) bisa memberikan cuan optimal bagi perusahaan dengan waktu produksi yang lebih singkat.
Namun pada kenyataannya, kenapa jam kerja rasanya tidak ada habisnya?
Koordinasi pekerjaan yang datang dari grup WhatsApp kantor harus dibalas sesegera mungkin meski sudah lewat jam 5 sore. Bahkan yang lebih ekstrem, banyak keluhan warganet yang merasa “diharamkan” untuk meninggalkan pekerjaannya meski sedang cuti atau bahkan ketika sakit.
Laporan Microsoft Work Trend Index Special Report: Breaking Down the Infinite Workday menunjukkan bahwa hari kerja pekerja modern kini dipenuhi email, pesan instan, rapat, dan berbagai interupsi digital.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa kemajuan teknologi memang mengubah cara dunia kerja bekerja. Masyarakat sudah terlanjur menganggap “bisa dihubungi kapan saja dan selalu terhubung dengan kantor” merupakan bagian dari profesionalisme.
Tak heran, topik mengenai work-life balance terus menjadi topik yang hangat dalam perbincangan publik. Pertanyaan yang harus dibahas saat ini adalah, benarkah akar persoalannya terletak pada kemampuan individu mengatur waktu, atau justru pada cara organisasi merancang pekerjaan?
Read more: Banyak orang ingin ‘slow living’, tapi tak banyak yang mampu menggapainya
Teknologi yang justru menambah pekerjaan
Landasan perspektif yang bisa membantu kita memahami kondisi ini adalah Labour Process Theory (proses perburuhan) dari sosiolog Amerika Serikat Harry Braverman.
Harry memandang bahwa teknologi tidak hanya untuk meningkatkan efisiensi produksi, tetapi juga sebagai sarana organisasi mengatur, mengawasi, dan mengendalikan proses kerja.
Efisiensi yang diciptakan oleh kecerdasan buatan (AI), aplikasi kolaborasi, hingga komunikasi instan memang nyaris tak terbantahkan. Dengan AI, pekerjaan yang bersifat mengulang dan administratif dapat tuntas dengan cepat. Otomatisasi dapat mempercepat proses produksi.
Sejalan dengan itu, entitas bisnis juga memiliki (ekspektasi) keberhasilan yang meningkat karena adanya peluang kecepatan, efisiensi, dan kemampuan menghasilkan lebih banyak output dengan sumber daya yang sama. Organisasi memanfaatkannya dalam mengatur pekerjaan, menetapkan tuntutan kerja, dan merespons tekanan kompetisi.
Akhirnya, kantor justru memanfaatkan efisiensi dari teknologi canggih untuk meningkatkan intensitas kerja dan keuntungan, bukan untuk memberi pegawai lebih banyak waktu luang.
Paradoks ini menunjukkan bahwa teknologi bukan penyebab utama memburuknya work-life balance. Hal yang lebih menentukan adalah bagaimana organisasi memanfaatkan teknologi dan mendefinisikan produktivitas.
Read more: Ketimbang memperbaiki sistem kerja yang toksik, kantor justru memilih pelatihan motivasi
Pegawai harus menanggung bebannya
Di sisi pegawai, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) mengingatkan bahwa kemajuan teknologi digital belum otomatis menghadirkan pekerjaan yang lebih berkualitas.
Sebaliknya, pegawai justru makin kehilangan kendali atas waktu kerjanya. Beban kerja yang terus bertambah membuat mereka harus bekerja di luar jam kerja formal.
Read more: Indonesia merugi Rp463 triliun akibat masalah mental pekerja
Perusahaan memang menawarkan fleksibilitas seperti bekerja dari rumah (WFH). Namun, fleksibilitas tersebut tidak serta-merta mengurangi beban kerja dan target yang harus dicapai pegawai.
Era digital memang membuka peluang pekerjaan baru karena meningkatnya kebutuhan akan keterampilan baru untuk mengimbangi perubahan teknologi.
Namun, pekerjaan yang terkonsentrasi pada platform digital dan data ini tak menawarkan kondisi yang lebih baik dari sisi mental dan pengembangan karier.
Kondisi ini menempatkan para pekerja era modern ini berhadapan dengan yang namanya paradoks otonomi (autonomy paradox). Fleksibilitas pekerjaan justru mengikis kendali pekerja atas waktu luangnya.
Makna mahal work life balance
Tuntutan selalu siaga di era modern ini terbukti jadi salah satu penyebab utama banyaknya orang merasa burnout saat ini.
Ironisnya, meskipun akar persoalannya banyak berkaitan dengan desain kerja dan tata kelola organisasi, solusi yang ditawarkan justru lebih sering dibebankan kepada individu. Pelatihan time management, mindfulness, wellness programme, hingga pelatihan resiliensi semakin populer sebagai jawaban atas meningkatnya tekanan kerja.
Read more: Tak ada hidup layak dalam upah minimum 2026
Mengambinghitamkan organisasi memang tidak bisa sepenuhnya dibenarkan. Sebab, meski mengandung risiko, semua keputusan tersebut tetap menjadi hak organisasi (selama tidak mengeksploitasi pekerja dan melanggar hukum).
Karena itu, sudah saatnya perdebatan mengenai work-life balance bergeser. Persoalannya bukan hanya bagaimana pekerja mengatur waktu dengan lebih baik, tetapi juga bagaimana organisasi menetapkan target, membangun budaya kerja, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Pada akhirnya, work-life balance bukan sekadar isu gaya hidup atau kesehatan mental, tetapi juga merupakan persoalan tata kelola organisasi dan cara dunia kerja modern mendefinisikan produktivitas.
Selama keberhasilan organisasi terus diukur dari semakin banyaknya output yang dapat dihasilkan dalam waktu yang sama, teknologi akan lebih sering digunakan untuk memperluas pekerjaan daripada menciptakan lebih banyak waktu untuk hidup.
Read more: Loker di Indonesia: Perusahaan khawatir Gen Z lembek, tapi enggan rekrut senior yang tahan banting





Comments are closed.