Tue,5 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Technology
  3. Mengenal Popcorn Brain: Alasan Kenapa Gen Z Sulit Fokus dan Cara Mengatasinya

Mengenal Popcorn Brain: Alasan Kenapa Gen Z Sulit Fokus dan Cara Mengatasinya

mengenal-popcorn-brain:-alasan-kenapa-gen-z-sulit-fokus-dan-cara-mengatasinya
Mengenal Popcorn Brain: Alasan Kenapa Gen Z Sulit Fokus dan Cara Mengatasinya
service

Foto: Freepik

Teknologi.id  Belum usai perbincangan mengenai brain rot, brain fry, hingga kebiasaan buruk doomscrolling, Generasi Z kini kembali dihantui oleh “penyakit” mental baru di era digital yang dikenal dengan istilah popcorn brain atau “otak berondong jagung”. Fenomena ini merujuk pada kondisi di mana fokus seseorang menjadi sangat rapuh dan mudah melompat-lompat, persis seperti biji jagung yang meletup tak beraturan di dalam pemanggang.

Gejala ini mungkin sudah menjadi bagian dari keseharian banyak orang tanpa disadari. Pernahkah Anda berniat menonton serial di Netflix, namun baru lima menit berjalan, tangan Anda secara refleks meraih ponsel dan tiba-tiba Anda sudah menghabiskan satu jam menonton video pendek di TikTok? Jika situasi ini terasa sangat akrab, besar kemungkinan otak Anda tengah mengalami popcorn brain.

Baca juga: Ahli Saraf Sebut IQ Gen Z di Bawah Milenial Akibat Doomscrolling dan Malas Membaca

Mengenal Mekanisme “Otak Berondong Jagung”

Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh David Levy dalam bukunya yang berjudul “Mindful Tech”. Secara neurosains, fenomena ini menggambarkan kecenderungan pikiran untuk terus berpindah dari satu hal ke hal lain dengan perhatian yang terfragmentasi. Dr. Ashwini Nadkarni, Asisten Profesor Psikiatri di Harvard Medical School, menjelaskan bahwa kondisi ini ditandai dengan tingkat gangguan yang tinggi dan penurunan kemampuan fokus yang drastis.

Meskipun bukan istilah medis resmi, para pakar sepakat bahwa penyebab utamanya adalah konsumsi media digital yang berlebihan. Bagi Gen Z, hidup berdampingan dengan smartphone dan laptop adalah sebuah keniscayaan, namun perangkat inilah yang memaksa otak untuk terus melakukan multitasking. Kebiasaan mengetik tugas sambil membuka aplikasi belanja daring atau membalas pesan WhatsApp secara bersamaan mendorong otak beroperasi tanpa perhatian penuh.

Media Sosial sebagai “Tersangka Utama”

Neuropsikolog Sanam Hafeez menegaskan bahwa platform media sosial berperan besar dalam melatih otak untuk mencari gratifikasi instan. Aliran konten berdurasi pendek yang terus-menerus menuntut perhatian cepat membuat otak kecanduan pada stimulasi bertempo tinggi. Akibatnya, rentang perhatian (attention span) manusia semakin menyusut.

“Kita menjadi sangat kesulitan untuk fokus pada satu hal lebih dari beberapa menit saja,” ujar Hafeez.

Kondisi ini membuat otak selalu berada dalam status waspada tinggi (high alert) karena terus menunggu konten berikutnya. Dalam jangka panjang, overstimulasi ini tidak hanya menguras energi mental, tetapi juga mengikis kemampuan manusia untuk berpikir mendalam (deep thinking) dan memunculkan kreativitas orisinal.

Melatih Kembali “Otot” Perhatian

Foto: Freepik

Dr. Dave Rabin, seorang Psikiater dan Ahli Saraf dari Apollo Neuroscience, menjelaskan bahwa perhatian manusia bekerja layaknya otot. Fokus berada dalam sebuah spektrum, mulai dari perhatian tak terbagi (undivided attention) hingga ketidakpedulian total (inattention). Jika tidak dilatih secara rutin untuk menetap pada satu hal, otot perhatian tersebut akan melemah.

Baca juga: ‘Zero Post’ Jadi Tren Gen Z, Benarkah Mereka Mulai Jenuh dengan Media Sosial?

Kabar baiknya, kondisi popcorn brain ini dapat disembuhkan melalui pelatihan mental yang konsisten. Para pakar menyarankan dua strategi utama untuk melakukan “reset” pada otak yang sudah terlanjur terbiasa meletup-letup:

1. Praktik Mindfulness dan Kesadaran Diri

Langkah pertama yang krusial adalah menyadari saat otak mulai kehilangan kendali. Mindfulness atau praktik memusatkan perhatian pada momen yang ada tanpa penghakiman dapat membantu memperkuat kembali kontrol perhatian. Teknik sederhana seperti body scan, atau menutup mata dan merasakan napas serta bagian tubuh secara bergantian, terbukti efektif. Dr. Rabin juga menyarankan aktivitas fisik seperti yoga atau meditasi rutin untuk memperkuat daya tahan fokus.

2. Menciptakan Lingkungan yang Tenang

Di tengah budaya hustle culture, melambat justru menjadi kunci produktivitas. Meluangkan waktu 5 hingga 10 menit untuk fokus pada pernapasan atau mendengarkan musik tenang sebelum memulai tugas berikutnya dapat membantu mengatur ulang mental. Selain itu, penggunaan Pomodoro Technique (fokus 25 menit dan istirahat 5 menit) sangat disarankan untuk menjaga ritme kerja tetap pada jalurnya.

Langkah terakhir yang paling menantang namun penting adalah membatasi penggunaan gawai. Mulailah berlatih menggunakan hanya satu perangkat dalam satu waktu, mematikan notifikasi yang tidak mendesak, serta melakukan “puasa” media sosial secara berkala. Dengan melatih kembali kendali perhatian, Generasi Z diharapkan dapat merebut kembali kemampuan fokus mereka di tengah kebisingan dunia digital.

Baca Berita dan Artikel lainnya di Google News.

(yna/sa)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.