- Green jobs masih asing di kalangan anak muda NTT. Padahal, provinsi ini memiliki potensi untuk pekerjaan yang berkelanjutan ini.
- Ridwan Arif, Manajer Riset dan Pengelolaan Pengetahuan Koaksi Indonesia, menilai, penciptaan green jobs di NTT dapat melalui pendekatan implementasi energi terbarukan. Merujuk Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), provinsi ini memiliki potensi energi terbarukan besar, yakni, energi surya 7,2 gigawatt, bayu 10,1 gigawatt, bioenergi 0,24 gigawatt, dan air (minihidro dan mikrohidro) sekitar 95 megawatt.
- Hasil survei Koaksi Indonesia bersama BOI Research pada 2024 menunjukkan minat orang muda terkait pekerjaan hijau sangat tinggi. Namun, pemahaman mereka tmasih belum mendalam. Sebanyak 76% responden menyatakan tertarik untuk berkarier di sektor ramah lingkungan setelah memahami makna dan peluang green jobs.
- Koaksi Indonesia menekankan perlunya implementasi green jobs lewat strategi yang komprehensif dari semua pihak. Untuk itu, peta jalan hingga 2045 dapat menjadi panduan bagi semua pemangku kepentingan untuk melakukan kampanye publik bersama.
Puluhan anak muda berkumpul di pinggir Pantai Lasiana, Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), akhir tahun lalu. Mereka membentuk kelompok-kelompok kecil, berdiskusi, berbagi gagasan, dan bertukar ide ihwal ancaman bencana krisis iklim di daerah masing-masing.
Ada 50 generasi muda dari berbagai komunitas, mahasiswa, akademisi, dan jurnalis yang terlibat dalam kegiatan yang Koaksi Indonesia inisiasi itu. Acara bertajuk Green Jobs Workshop itu, berusaha untuk memanfaatkan peluang transisi energi dengan fokus peningkatan kapasitas dan kepemimpinan anak muda.
Ridwan Arif, Manajer Riset dan Pengelolaan Pengetahuan Koaksi Indonesia, menilai, penciptaan green jobs di NTT dapat melalui pendekatan implementasi energi terbarukan. Merujuk Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), provinsi ini memiliki potensi energi terbarukan besar, yakni, energi surya 7,2 gigawatt, bayu 10,1 gigawatt, bioenergi 0,24 gigawatt, dan air (minihidro dan mikrohidro) sekitar 95 megawatt.
Dia bilang, Koaksi Indonesia pernah melakukan pra-feasibilty study ihwal pembangunan PLTS di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Juga riset potensi akses air bersih dan pembangunan mekanisme komunikasi.
Menurut dia, kehadiran energi terbarukan tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar tapi juga untuk peningkatan taraf hidup masyarakat.
“Potensi energi bayu dan surya adalah yang terbesar di NTT,” katanya.
Hanya saja, NTT masih punya pekerjaan rumah besar karena rasio elektrifikasinya termasuk yang terendah di Indonesia, hanya 89,22%. Masih di bawah Papua Barat dengan 89,80%.
Jika seluruh potensi dari sumber energi terbarukan termanfaatkan dengan baik, maka lapangan pekerjaan akan banyak tercipta dan terserap. Misal,pembangkit listrik mikrohidro membutuhkan 2.870 pekerja untuk setiap 1 gigawatt yang terbangun. Pekerjaan tersebut akan terbagi ke dalam beberapa fokus, di antaranya studi kelayakan, design dasar, EPC, perbaikan, dan operasional.
Selain itu, NTT juga memiliki potensi pariwisata berkelanjutan. Wisata di provinsi ini sudah menjadi salah satu destinasi wisatawan domestik maupun internasional, namun belum terkelola secara berkelanjutan.
Untuk itu, penciptaan lapangan kerja hijau yang berkaitan dengan sektor ini juga penting.
“Jika pariwisata ini dikelola dengan tetap mempertahankan lingkungan, sosial dan budaya masyarakat setempat maka akan menjadi peluang yang besar.”
Sederhananya, pekerjaan hijau akan dekat dengan keseharian anak-anak muda. Misal, mereka yang peduli lingkungan dan menekuni dunia desain grafis, bisa memilih perusahaan atau lembaga yang concern isu lingkungan, sehingga nantinya mereka bisa membuat produk kampanye yang berkaitan dengan pengurangan emisi.
“Namun pilihan lapangan pekerjaan di provinsi ini juga belum banyak, sehingga orientasi masih berkutat masih pada yang penting dapat kerja, kalaupun ada kesempatan, mungkin lebih banyak di luar NTT.”

Minat tinggi, pemahaman minim
Hasil survei Koaksi Indonesia bersama BOI Research pada 2024 menunjukkan minat orang muda terkait pekerjaan hijau sangat tinggi. Namun, pemahaman mereka tmasih belum mendalam. Sebanyak 76% responden menyatakan tertarik untuk berkarier di sektor ramah lingkungan setelah memahami makna dan peluang green jobs.
Fitrianti Sofyan, Manajer Komunikasi dan Kampanye Koaksi Indonesia, kepada Mongabay mengatakan, anak-anak muda yang memiliki kesadaran dan telah merasakan dampak dari perubahan iklim lebih mudah diajak bergerak secara organik. Untuk itu, peningkatan kesadaran terhadap kondisi lingkungan di sekitar menjadi pekerjaan yang penting.
Jika kesadaran telah terbangun, katanya, anak-anak muda dapat membangun jejaring satu sama lain. Lalu mulai berkontribusi dalam lingkungan masing-masing.
Gluseppina, salah satu generasi muda Kupang, bilang, dulu tak tertarik ihwal green jobs, bahkan tak mencoba untuk mencari tahu lebih dalam. Namun perspektifnya berubah ketika bergabung dengan Koalisi Kopi dan mengikuti Green Jobs Workshop.
“Sekadar tahu kalau green jobs itu pekerjaan hijau, ya pasti pekerjaan yang berhubungan dengan lingkungan,” ucap perempuan 24 tahun itu.
Sebagai lulusan jurusan psikologi yang menyukai riset, dia melihat peluang pekerjaan hijau yang berfokus pada pengembangan riset-riset lingkungan. Dia tertarik membangun sistem dalam masyarakat dengan menggunakan pendekatan psikologi komunikasi dan psikologi sosial lewat riset, untuk mewujudkan kesadaran menjaga lingkungan dalam jangka panjang.
“Dalam berkomunikasi juga saya sering membuat perencanaan program kegiatan, sehingga peluang pekerjaan bisa merancang program untuk menjaga lingkungan.”

Dukungan lintas sektor
Koaksi Indonesia menekankan perlunya implementasi green jobs lewat strategi yang komprehensif dari semua pihak. Untuk itu, peta jalan hingga 2045 dapat menjadi panduan bagi semua pemangku kepentingan untuk melakukan kampanye publik bersama.
Yohanes Paut, Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida NTT, mengatakan, fokus pemerintah daerah yang tertuang pada mitigasi dan adaptasi krisis iklim. Salah satunya melalui penyusunan Rencana Aksi Daerah Adaptasi Perubahan Iklim yang fokus pada enam sektor prioritas, yaitu pertanian, air, kelautan dan perikanan, pesisir, ekosistem, dan kesehatan.
“Jika lingkungan dikelola secara berkelanjutan, masyarakat tidak hanya memperoleh jasa lingkungan, tetapi juga peluang ekonomi seperti pengolahan sampah dan pengelolaan tutupan lahan.”
Menurut dia, sektor hijau di NTT berpeluang membuka ruang kerja baru yang optimal. Terlebih dengan fenomena bonus demografi, sehingga tenaga kerja lokal di NTT bisa mendukung program-program adaptasi dan mitigasi iklim.
Namun, untuk mewujudkan hal itu, perlu dukungan peningkatan kesehatan dan pendidikan vokasi untuk membentuk kapasitas manusia produktif.
“Tanpa itu kita tidak akan mampu memanfaatkan peningkatan jumlah penduduk usia produktif yang signifikan,” ucap Yohanes.
Erich Umbu K Maliwemu, Wakil Dekan Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana (Undana), menambahkan, NTT berpotensi menjadi pusat energi surya dan pusat studi lahan kering bagi Indonesia, bahkan dunia.
Undana telah melakukan banyak riset dan inovasi energi bersih mulai dari desalinasi, pompa hidram, pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar hingga teknologi pascapanen berbasis surya. Semua itu bisa dimaksimalkan untuk mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil.
Di tingkat institusi pendidikan, katanya, universitas di NTT perlu memiliki program studi yang relevan, seperti teknik geologi.
“Harapannya, ketika bauran energi terbarukan di NTT meningkat, tenaga kerja lokal yang pertama terserap,” terangnya.
Yurgen Nubatonis, Dewan Pengawas Koalisi Kelompok Orang Muda untuk Perubahan Iklim (KOPI), dalam kesempatan itu juga menilai hambatan terbesar anak muda di daerah terpencil adalah mengakses informasi, pelatihan, maupun peluang green jobs. Padahal, banyak yang memiliki inisiatif keberlanjutan, mulai dari pertanian hingga komunitas literasi.
“Secara umum kita masih kekurangan program atau aktivitas yang benar-benar mendukung anak muda untuk masuk ke dunia green jobs. Banyak yang punya ide cemerlang, tetapi tidak punya back up untuk mendukung ide tersebut.”

*****





Comments are closed.