Sat,11 July 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Menjenguk yang Tabu, Merawat yang Lelah dalam “Bau Tubuh Perempuan”

Menjenguk yang Tabu, Merawat yang Lelah dalam “Bau Tubuh Perempuan”

menjenguk-yang-tabu,-merawat-yang-lelah-dalam-“bau-tubuh-perempuan”
Menjenguk yang Tabu, Merawat yang Lelah dalam “Bau Tubuh Perempuan”
service

Bincangperempuan.com- Ester Pandiangan kembali memperpanjang daftar bibliografinya dengan melahirkan karya ketujuh. Kali ini, ia memilih medium fiksi pendek lewat kumpulan cerita pendek (cerpen) bertajuk “Bau Tubuh Perempuan” dan diterbitkan oleh penerbit Akhirpekan. Melalui antologi ini, Ester tidak sedang mengawang-awang dengan metafora yang rumit atau eksperimen bahasa. Ia justru memilih gaya bahasa yang lugas, membumi, dan mudah dipahami, bahkan bagi pembaca awam yang tidak akrab dengan fiksi sastra sekalipun. Namun, di balik kesederhanaan bahasa tersebut, Ester justru berhasil memotret realitas berlapis yang dihadapi perempuan—mulai dari jebakan domestik keluarga, dinamika relasi romantis yang toksik, hingga potret buram kelompok marjinal.

Dari segi struktur cerita, tidak semua cerpen dalam buku ini menawarkan plot yang meledak-ledak atau penuh kejutan. Ester menaruh perhatian besar pada eksplorasi psikologis tokoh. Beberapa cerita ditulis dengan sudut pandang orang pertama (“Aku”), yang membuat narasinya terasa sangat intim karena dipenuhi oleh solilokui dan isi pikiran terdalam si tokoh utama. Meski di beberapa titik ritme cerita terasa datar, Ester menebusnya dengan kecerdikan struktural di cerpen-cerpen lain. Misalnya dengan membiarkan akhir cerita menggantung secara terbuka (open-ending), memberikan ruang bagi pembaca untuk menebak nasib tokohnya, bahkan tak jarang menyelipkan plot twist yang mengejutkan menjelang halaman terakhir.

Baca juga: Membaca Esok Jilbab Kita Dirayakan: Benarkah Semua Perempuan Punya Kemewahan untuk Merayakannya?

Beban Ganda Anak Perempuan dalam Keluarga

Tema paling krusial dan dominan yang diangkat Ester dalam kumpulan cerpen ini adalah potret anak perempuan yang terjebak dalam peran sebagai perawat utama (caregiver) bagi orang tua yang telah uzur dan sakit-sakitan. Sebagian cerpen menangkap realitas sosiologis yang sering luput dari narasi romantisasi “berbakti kepada orang tua”. Ia membongkar betapa beratnya beban psikologis dan fisik yang dipikul oleh anak perempuan. Di satu sisi, perempuan dituntut untuk mandiri, mengejar karier, atau mengurus kehidupan personalnya sendiri; di sisi lain, ada jerat domestik yang mewajibkan mereka bersiap siaga merawat lansia.

Bahkan ruang personal bagi perempuan caregiver sudah menjadi sebuah kemewahan yang mustahil digapai. Ester menampilkan dualitas emosi yang dirasakan tokohnya: ada rasa bersalah yang akut dan tuntutan utang budi, tapi di saat yang sama berkelindan dengan rasa benci, lelah, serta amarah atas kesalahan atau trauma masa lalu yang disebabkan oleh orang tua itu sendiri. 

​Belum lagi dengan peran merawat orang tua yang sering kali timpang dan dibebankan sepenuhnya pada anak perempuan, atau anak yang belum menikah. Ada ketidakadilan nyata yang dirasakan tokoh perempuan karena adanya perbedaan perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan dalam keluarga. Anak laki-laki lebih sering diberi kelonggaran untuk absen, bahkan semasa mudanya apapun yang diminta dituruti, sementara anak perempuan tidak, karena dianggap tak boleh jauh dengan peran domestik.  

Melalui tema beban perawatan, Ester menunjukkan kompleksitas emosional yang mengikat: mau tidak mau, rasa sayang dan ikatan darah mengalahkan segala pikiran tersebut. Perempuan tetap merawat, tetap menjaga perasaan orang tua mereka, dan tetap menghidupi tanggung jawab itu meski di bawah bayang-bayang ketidakadilan. 

Baca juga: Orgasme Perempuan Itu Bukan Sekadar Urusan Kelamin

Relasi Romantis yang Tabu nan Tragis

Ketika masuk ke tema relasi romantis. Salah satu isu sensitif yang berani ia bedah adalah dinamika menjadi orang ketiga atau pilihan kedua dalam sebuah hubungan—sebuah topik yang jarang dibahas secara empatik.

Ester memotret rasa bersalah yang menghantui perempuan dalam posisi ini, yang sering terjebak bukan karena niat jahat sejak awal, tetapi karena ketidaktahuan yang telanjur berkelindan dengan cinta yang mendalam. Potret cinta yang gagal, relasi yang dicap tidak ideal, hingga cinta tabu yang jalannya ngenes banget—seperti romansa yang membentur tembok heteronormatif, hasrat yang terbungkam hingga terpaksa memilih formalitas demi kompromi sosial, atau getirnya memendam rasa pada orang yang sebenarnya tidak mencintai kita dengan tulus.

​Melalui cerpen yang mengangkat tema relasi, pembaca bakal dibikin bertanya-tanya: siapa sebenarnya yang berhak mengatur kepada siapa seseorang harus jatuh cinta? Ketika sebuah rasa cinta diperlakukan secara diskriminatif hanya karena dianggap melanggar norma moral tertentu, masih bisakah disebut cinta, ataukah sepenuhnya sudah menjadi dosa besar yang layak dihakimi oleh tatapan mata publik?

​Gugatan ini secara langsung menelanjangi kemunafikan sosial yang diam-diam dipelihara oleh masyarakat kita. Ada standar ganda gender bekerja dengan sangat timpang dalam konstruksi sosial kita. Laki-laki lebih mudah mendapatkan pengampunan sosial dan dianggap lebih baik hanya karena mereka berani mengakui kenakalan atau kesalahan masa lalunya. Misalnya mengaku fuckboy banyak tidur dengan perempuan, mereka akan lebih diterima karena mengakuinya.

Sedangkan, ketika perempuan melakukan pengakuan yang sama, mereka langsung dicap liar, murahan, dan kehilangan kehormatan. Pengakuan bagi laki-laki lebih sering dianggap sebagai validasi kedewasaan, sedangkan bagi perempuan, itu justru malah jadi hukuman sosial yang mematikan. 

Secara keseluruhan, “Bau Tubuh Perempuan” adalah sebuah antologi yang sangat menarik untuk dibaca. Kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya membicarakan isu-isu berat—mulai dari ketimpangan gender, beban psikologis peran caregiver, hingga dekonstruksi moralitas relasi—tanpa harus terjebak dalam gaya bahasa yang rumit atau berbelit-belit.

Sebagian besar cerita di dalamnya terasa sangat dekat dengan keseharian kita. Buku ini sangat cocok dibaca di kala santai, tapi bersiaplah untuk terus diganggu oleh pikiran atau pertanyaan yang ditinggalkannya setelah menutup halaman terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.