Thu,30 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Menkes Ungkap Potensi 28 Juta Warga Alami Gangguan Kesehatan Jiwa

Menkes Ungkap Potensi 28 Juta Warga Alami Gangguan Kesehatan Jiwa

menkes-ungkap-potensi-28-juta-warga-alami-gangguan-kesehatan-jiwa
Menkes Ungkap Potensi 28 Juta Warga Alami Gangguan Kesehatan Jiwa
service

Jakarta, NU Online

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan potensi persoalan kesehatan jiwa di Indonesia masih sangat besar. Mengacu pada rasio global gangguan kejiwaan yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah penduduk Indonesia yang berpotensi mengalami gangguan kesehatan jiwa diperkirakan mencapai puluhan juta orang.

“Tadi juga ditanya, ini yang the tip of the iceberg (puncak gunung es). Karena WHO bilang, masalah kejiwaan itu satu dari delapan sampai satu dari sepuluh penduduk,” kata Budi saat memaparkan hasil pemeriksaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen Parlemen RI, Jakarta, dikutip NU Online (20/1/2026).

Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mendekati 280 juta jiwa, Budi menyebut estimasi minimal warga yang memiliki persoalan kesehatan jiwa berada di angka 28 juta orang.

“Jadi kalau Indonesia 280 juta, ya minimal 28 juta tuh punya masalah kejiwaan. Bisa itu depresi, disorder atau anxiety disorder, yang lebih berat ada skizofrenia, ada ADHD, ada penyakit-penyakit jiwa tuh ada banyak juga,” ujar Budi.

Meski potensi gangguan kesehatan jiwa tergolong besar, hasil skrining kesehatan jiwa melalui program Cek Kesehatan Gratis masih menunjukkan angka yang relatif kecil. Kondisi tersebut dinilai belum sepenuhnya merepresentasikan situasi nyata di masyarakat.

“Nah, kita screen hasilnya seperti ini ya. Dari yang kita screen, masih rendah sekali. Ya jadi masih rendah sekali, angkanya masih di sekitar 5, di bawah 1 persen untuk dewasa dan anak-anak 5 persen. Ya tapi dengan skrining ini kita sudah tahu,” kata Budi.

Ia menegaskan, data skrining tersebut tetap menjadi pijakan awal bagi pemerintah untuk memetakan kebutuhan layanan kesehatan jiwa secara lebih sistematis.

Data CKG: anak dan remaja lebih rentan

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan per 1 Januari 2026, lebih dari 27 juta penduduk telah mengikuti pemeriksaan kesehatan jiwa melalui program CKG. Hasilnya menunjukkan kelompok anak usia sekolah dan remaja memiliki tingkat gejala gangguan kesehatan jiwa yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dewasa dan lansia.

Pada kelompok anak sekolah dan remaja, sebanyak 4,8 persen atau 363.326 orang terdeteksi mengalami gejala depresi. Sementara itu, 4,4 persen atau 338.316 orang menunjukkan gejala kecemasan.

Adapun pada kelompok dewasa dan lansia, persentase gejala depresi tercatat sebesar 0,9 persen atau 174.579 orang. Gejala kecemasan pada kelompok ini tercatat sebesar 0,8 persen atau 153.903 orang.

Penguatan layanan kesehatan jiwa di puskesmas

Budi menyampaikan, hasil skrining tersebut menjadi dasar bagi Kementerian Kesehatan untuk memperluas dan memperkuat layanan kesehatan jiwa, khususnya di fasilitas kesehatan tingkat pertama.

“Dan di halaman selanjutnya, kita juga sudah mulai menurunkan, karena jiwa itu enggak pernah ada di puskesmas tata laksananya,” ujar Budi.

Ia menjelaskan, Kementerian Kesehatan telah menyiapkan tata laksana pelayanan kesehatan jiwa yang mencakup kebutuhan medis maupun layanan psikologis.

“Sekarang kita udah bikin tata laksananya, baik yang membutuhkan farmasi, obat-obatan, atau yang membutuhkan psikologi apa, konseling ya. Kita sekarang sedang bangun sistemnya supaya bisa dilayani di puskesmas-puskesmas,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.