Organisasi masyarakat sipil ramai-ramai mengkritik dokumen Second Nationally Determined Contribution (SNDC) yang sudah pemerintah serahkan pada Konvensi Kerangka Kerja Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNFCCC), 27 Oktober lalu. Berbagai kalangan menilai, komitmen iklim terlalu teknis dan tidak memiliki target ambisius. Hanif Faisol Nurofiq, Menteri Lingkungan Hidup menyebut, dokumen SNDC justru lebih ambisius ketimbang ENDC, karena mandat dari Dubai Climate Pact. Pemerintah pun, katanya, menyentuh kembali dokumen Long Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience Compatible with Paris Agreement. Kemudian, menentukan angka penurunan emisi untuk tahun 2030 menjadi 1,3 Gt CO2e untuk pertumbuhan ekonomi rendah (low ambition), dan jadi 1,4 Gt CO2e untuk pertumbuhan ekonomi tinggi (high ambition). Angka ini, katanya, lebih ambisius dari ENDC yang hanya mampu turunkan emisi jadi 1,6 Gt CO2e dengan dukungan internasional atau 1,7 Gt CO2e dengan usaha sendiri. Pemerintah sendiri memproyeksikan emisi Business As Usual (BAU) tahun 2030 mencapai 2,8 Gt CO2e. “Kalau kita lihat angkanya, maka angka ini cukup ambisius meskipun belum memenuhi Dubai Climate Pact atau Global Stocktake,” ucapnya di Jakarta, 28 Oktober. Dokumen SNDC, katanya, belum menyatakan Indonesia mencapai puncak emisi di 2035, terutama sektor energi yang baru akan capai puncak emisi pada 2038. Namun, ada penguatan sektor penyerapan di Forest and others Land Use (FoLU). “Jadi FoLU diproyeksikan di tahun 2035 harus mampu -2,06 juta ton CO2e. Artinya harus ada kegiatan reforestasi yang lebih tinggi daripada deforestasinya.” Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq saat membuka acara di Jakarta, 28 Oktober 2025. Dia bilang, Indonesia sudah memberikan NDC Kedua dan target…This article was originally published on Mongabay
Menyoal NDC Kedua Indonesia
Menyoal NDC Kedua Indonesia





Comments are closed.