Mubadalah.id – Sepasar hari terakhir, jagad literasi Yogyakarta agak bersuhu tinggi. Satu situasi yang tak biasa. Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Yogyakarta kena semprot habis-habisan. Pasalnya, mereka membikin sebuah unggahan promosi buku di instagram. Kalimatnya lebih kurang begini, “Harga buku lebih murah dari toko langgananmu.”
IKAPI mengunggahnya sebagai bagian dari rangkaian pameran buku yang berlangsung sedari bulan Agustus hingga September 2026 ini. Kegiatan berlaksana di Halaman Grhatama Pustaka DPAD DIY. Menurut Puthut EA, Kepala Suku Mojok, pameran buku tersebut “ada unsur pemda”.
Puthut EA yang merupakan bos Mojok—bisa kita sebut sebagai konsorsium literasi digital yang membidani kanal siniar, penerbit buku, juga penampung artikel-artikel lucu—meradang. Ia tegas menentang sikap promosi IKAPI. Lulusan Filsafat Universitas Gadjah Mada itu menuding IKAPI sekadar fokus pada penerbit dan bisnis.
Puthut EA menilai bahwa IKAPI melupakan pihak-pihak lain yang turut punya kontribusi penting dalam industri buku, yakni penjual ecer (reseller). Ia menyertakan sekelumit kisah perjuangan Penerbit Mojok yang katanya tak jadi “koit” berkat tangan tuhan para reseller. Tentu, penentangannya itu berasa sebuah pembelaan korsa.
IKAPI mungkin luput, tapi Puthut EA bukan nabi
Sikap Puthut EA turut memantik sekam bagi api amarah publik. Akun media IKAPI kena hantam warganet yang menginduk di sebalik ketiak pendapat Mas Puthut. IKAPI sendiri telah meminta maaf. Mereka merasa keliru—atau setidaknya mereka ingin menerima tentangan Puthut EA dan warganet jamak.
Berkat Puthut EA, amarah publik belum lagi mereda. Memang sah-sah saja melempar kritik semacam itu. Tak salah pula menentang. Lagi pun, sebagai pemilik bisnis perbukuan, Puthut EA jelas punya kepentingan. Narasi pembelaan yang ia suarakan tetap saja patut untuk publik pikirkan lebih dari dua tiga kali.
Ia sendiri bukanlah nabi. Kritiknya tak datang dari langit berupa hatif ataupun kalam-kalam suci ilahi. Kritik Puthut datang dari mulutnya sendiri. Karenanya, orang pun bolehlah sangsi. Apalagi, jika agak jeli melihat, pandangannya lebih serupa asumsi personal. Puthut EA menilai (baca: menghakimi) tanpa menyaku bukti atau teori.
Karena, secara teoritis, iklan IKAPI sebetulnya tak melanggar etika promosi (marketing). Joy Crelin (2023) menyebut jika etika promosi mencakup masalah kebenaran (truth), perlindungan privasi pelanggan, keadilan harga, serta transparansi. Jika mengacu pada pendapat Joy Crelin ini, tak tampak indikasi pelanggaran oleh IKAPI.
Membiasakan diri menjauhi glorifikasi
“Prahara” yang menimpa IKAPI dalam gelaran pameran buku tahun ini seyogianya menghadirkan ruang refleksi. Publik tak sebaiknya mudah mengglorifikasi pendapat figur, tanpa mempersangsikan. Kita tahu, semua orang senantiasa punya kepentingan. Kalimat setulus apapun, serupa “I love you” misalnya, tak pernah sungguh-sungguh suci.
Puthut EA barangkali selama ini telah mengemuka sebagai figur yang turut mendidik publik lewat gerakan bisnisnya. Ia pula sosok yang berhasil mengorbitkan figur Agus Mulyadi menjadi penulis tenar sekaligus bintang media sosial. Puthut EA memang orang baik, tapi tak selayaknya berbenalukan glorifikasi.
Glorifikasi berbahaya, baik bagi figur yang kena sematan itu, maupun publik jamak. Bagi Puthut EA, misalnya, glorifikasi yang ia terima bisa bertuah menjadi erosion of trust manakala ia bersikap unethic. Itu berarti bahwa glorifikasi yang ia nikmati sebetulnya tengah memerangkapnya dalam penjara. Sementara, bagi publik awam, menganut-nurut saja pada pendapat seseorang bisa menutup ruang koreksi dan kritik.
Sebagai pamungkas, peristiwa yang terjadi antara IKAPI, Puthut EA, juga penerbit, reseller, atau warganet lain sepekan belakangan ini membawa satu pesan kunci, yakni kesediaan untuk mengoreksi tanpa mengekor pada glorifikasi. Lewat menanggalkan penabian satu figur itulah, kita hidup dalam ruang diskursif yang setara—alih-alih judgmental. []





Comments are closed.