Mubadalah.id – Jalur perdagangan menjadi rute penyebaran Islam di Nusantara. Jika kita melihat pusat-pusat penyebaran Islam dahulu, banyak berada di dekat pelabuhan yang menjadi tempat singgah kapal-kapal milik pedagang Muslim. Lewat berbagai jalur itu, para pembawa Islam dapat mencapai banyak daerah dalam upaya mereka menyebarkan agama.
Peran jalur perdagangan sebagai rute penyebaran Islam disertai dengan keyakinan banyak sejarawan kalau, para pedagang Muslim ikut mendakwahkan Islam di tempat-tempat yang mereka singgahi. Secara umum interpretasi sejarah ini seolah menempatkan laki-laki sebagai aktor utama dalam kelompok dagang Muslim di Nusantara. Ini dapat kita lihat seperti pada narasi sejarah: “para pedagang menetap dan menikah dengan perempuan lokal sehingga membuat koloni Muslim semakin bertambah.”
Narasi demikian tanpa sadar membawa asumsi sejarah pada pandangan bahwa, para pedagang Muslim di masa penyebaran Islam adalah laki-laki. Para laki-laki Muslim itu menetap, hingga menikah dengan perempuan-perempuan lokal, dan membuat koloni Muslim semakin bertambah. Sebagai fakta sejarah, pernyataan demikian tidak ada masalah. Demikian yang terjadi dalam proses penyebaran Islam di Nusantara. Di mana, pernikahan antara pedagang Muslim dan perempuan lokal menjadi salah satu saluran penyebaran agama.
Namun berhenti pada narasi demikian berpotensi pada, apa yang oleh Bambang Purwanto dalam Menggugat Historiografi Indonesia sebut sebagai, pengingkaran yang menjerumuskan. Kenapa bisa begitu? Sebab, interpretasi sejarah seolah mengatakan bahwa hanya laki-laki yang berdagang dan punya pengaruh dalam jalur niaga Nusantara, sementara perempuan tidak. Konstruksi sejarah jadi mengarah pada kerangka seolah laki-laki sebagai pemeran utama dan perempuan sekadar figuran.
Ini alasan mengapa tidak banyak narasi perempuan dalam sejarah penyebaran Islam melalui jalur perdagangan di Nusantara. Sulit membayangkan, lebih-lebih menelusuri dan mengonstruksi sejarah, figur perempuan yang berdagang dan punya pengaruh dalam jalur perdagangan Nusantara. Sementara, paradigma yang mewarnai interpretasi sejarah cenderung meminggirkan peran perempuan.
Perempuan yang Membangun Jaringan Dagang Gresik
Satu di antara perempuan yang punya pengaruh dalam jalur perdagangan Nusantara di masa penyebaran Islam adalah Nyai Pinatih. Ia merupakan pedagang kaya raya yang hidup di Gresik pada abad 15 M.
Noor Fatia Lastika Sari, dkk., dalam buku Permata di Pesisir Utara Jawa: Gresik dalam Jaringan Perdagangan Maritim Nusantara menjelaskan bahwa, Nyai Pinatih merintis usahanya dari perdagangan skala kecil. Ia kemudian berhasil membangun pasar dagangnya menjadi besar.
Status Nyai Pinatih di Gresik sebenarnya hanya seorang pendatang. Ia mulai menetap di Gresik sejak sekitar tahun 1412. Status pendatang ini menunjukkan bahwa Nyai Pinatih memulai usahanya di Gresik dari awal. Ia mendapatkan sebidang tanah dari Prabu Brawijaya, dan di tanah itu, ia mulai membangun usaha. Ia berdagang dari skala lokal hingga mampu menembus perdagangan global, dan menjadi pengusaha kaya di Gresik yang punya banyak kapal dagang.
Jika kita membaca sejarah Wali Songo, ada cerita tentang Raden Paku, kelak menjadi Sunan Giri, sewaktu masih bayi dibuang di lautan. Bayi itu hanyut ke dekat kapal Nyai Pinatih. Ia kemudian menyelamatkan dan merawat Raden Paku. Cerita ini tidak hanya tentang sejarah Sunan Giri kecil, tetapi juga menunjukkan bahwa di masa itu ada pedagang Muslim perempuan kaya raya yang punya kapal dagang.
Untuk ukuran seorang pedagang yang namanya mahsyur dan punya banyak kapal dagang, tidak berlebihan untuk kita mengasumsikan bahwa, Nyai Pinatih punya jaringan dagang yang luas di jalur niaga pantura Jawa. Dalam hal ini, Nyai Pinatih tidak hanya berdagang tetapi juga mampu membangun jaringan dagang yang terhubung di Gresik pada abad 15 M.
Kuasa Perempuan di Jalur Perdagangan Gresik
Babad Giri Kedhaton, sebagaimana mengutip Sari dkk., menyebut Nyai Pinatih sebagai syahbandar Kerajaan Majapahit di Gresik. Ia menjadi syahbandar sejak tahun 1458 hingga wafatnya tahun 1483. Tentu Prabu Brawijaya tidak sembarangan menunjuk seseorang menjadi syahbandar di jalur niaga pantura Jawa.
Keberhasilan Nyai Pinatih dalam berdagang dan membangun jaringan dagang menjadikan dirinya pantas untuk posisi itu. Dengan kata lain, Nyai Pinatih menduduki jabatan syahbandar bukan semata karena punya relasi dengan istana. Melainkan, karena capaian dan pengaruhnya dalam jaringan dagang Nusantara.
Sebagai syahbandar, Nyai Pinatih jelas punya pengaruh besar di jalur perdagangan Nusantara khususnya Gresik di pantura Jawa. Ia merupakan penguasa Gresik, yang mengatur lalulintas keluar masuk kapal di jalur niaga ini. Gresik sendiri menjadi rute yang penting baik dalam jaringan dagang maupun jaringan dakwah di Nusantara.
Dalam buku Jaringan Ulama dan Islamisasi Indonesia Timur, ada penjelasan Hilful Fudhul Sirajuddin Jaffar. Bahwa, jaringan ulama Giri, yaitu murid-murid Sunan Giri, punya peran penting dalam penyebaran Islam di Indonesia Timur. Jika menghubungkannya dengan sejarah Nyai Pinatih, kita dapat mengatakan bahwa penyebaran jaringan Giri ke Indonesia Timur tidak lepas dari peran Nyai Pinatih yang berhasil menjadikan Gresik sebagai salah satu jalur perdagangan di Nusantara.
Sunan Giri yang mewarisi kekuasaan Nyai Pinatih di Gresik kemudian membangun Giri Kedaton. Ketika ia ingin meluaskan dakwah Wali Songo menembus batas Pulau Jawa, posisi Giri Kedaton di Gresik sangat strategis sebab menjadi bagian dari jalur niaga Nusantara. Posisi ini memudahkan penyebaran jaringan Giri ke berbagai wilayah di luar Jawa. Dengan kata lain, pengaruh Wali Songo dapat menembus batas Pulau Jawa tidak lepas dari peran seorang perempuan yang bernama Nyai Pinatih.
Figur Nyai Pinatih menepis paradigma yang seolah meminggirkan perempuan dari konstruksi sejarah Islam Nusantara. Dari Nyai Pinatih, diketahui bahwa di masa penyebaran Islam, ada perempuan yang punya pengaruh besar dalam jalur niaga Nusantara. []





Comments are closed.