Thu,14 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. Misogini Di Balik Stereotip Bimbo: Padahal Perempuan Bisa Tampil Otentik Sekaligus Pintar

Misogini Di Balik Stereotip Bimbo: Padahal Perempuan Bisa Tampil Otentik Sekaligus Pintar

misogini-di-balik-stereotip-bimbo:-padahal-perempuan-bisa-tampil-otentik-sekaligus-pintar
Misogini Di Balik Stereotip Bimbo: Padahal Perempuan Bisa Tampil Otentik Sekaligus Pintar
service

Aya (21) tengah asyik menikmati cemilan sambil menonton video vlog channel Youtube favoritnya. Di dalam kamarnya yang tampak hening dari luar, dia menghadapkan tubuhnya di depan kaca. 

Meski tubuhnya diam, pikirannya berkelana mengingat tentang komentar-komentar yang pernah tertuju ke dirinya. Beberapa yang paling membekas adalah stereotip sebagai perempuan Bimbo: Dia dianggap memenuhi standar sosial soal kecantikan, tapi otaknya kosong. 

“Paling juga menang badan doang”

“Kamu keknya senyum doang udah dikasih nilai bagus” 

Ini yang disesalkan Aya: seolah-olah setiap pencapaiannya tak pernah dianggap serius, tapi selalu dikaitkan dengan penampilan. Padahal, dia kerja keras untuk belajar. 

Baca Juga: Film ‘Barbie’ Disebut Film Klasik ‘Bimbo Feminis’, Apa Itu?

Dalam kesehariannya ke kampus,mahasiswi di salah satu universitas swasta di Yogyakarta itu memang suka menggunakan make up dan berpenampilan yang secara matang dia persiapkan. Itu baginya adalah bentuk mengapresiasi diri dengan berpenampilan yang otentik, cantik versinya. Selain itu, juga bisa membangkitkan mood belajar. Bukan untuk mengejar pujian atau pengakuan dari orang lain agar dianggap memenuhi standar sosial tentang cantik.

Komentar-komentar seperti “Niat banget make up buat ke kampus pagi-pagi” atau “Ke kampus doang dandannya kayak mau ngapain” juga pernah Ia dapatkan. Sesuatu yang menurutnya adalah pengekangan ekspresi dirinya sebagai perempuan. Sebab hal serupa, rasanya tidak atau jarang sekali ditujukan kepada laki-laki. 

Aya merasa, bagi seorang perempuan, dia seolah tidak pernah dipandang cukup. 

“Aku selalu usahain sebisaku buat tampil cantik (versiku), cantik paras cantik otak juga. Sekarang aku ngerasa, aku udah bisa gapai keduanya, even though it’s not that perfect. Tapi, ternyata, semakin dewasa aku nyadar perempuan selalu dipandang not good enough,” cerita Aya kepada Konde.co, Rabu (14/10). 

Sistem patriarki yang masih langgeng, selalu punya celah untuk merendahkan bahkan membenci perempuan (misoginisme). Misogini terjadi ketika perempuan dibenci, karena semata-mata dia perempuan. Ini bisa berupa sikap permusuhan hingga penyerangan terhadap perempuan. 

Memandang rendah perempuan adalah bagian dari misoginis. Seorang Tokoh Publik, Jean-Jacques Rousseau dalam buku ‘Emile, or On Education’ salah satu contohnya, dia menulis bahwa perempuan, “Harus digagalkan sejak usia dini (…) Mereka harus dilatih untuk membatasi (diri).”

Baca Juga: Perempuan Berhak Merayakan Dirinya, Tanpa Embel-Embel Standar “Kecantikan” 

Ini sama halnya yang terjadi pada Aya. Saat dia merasa stereotip perempuan Bimbo yang pernah Ia alami, menjadikannya mempertanyakan dirinya. Dia merasa tidak cukup dan lebih rendah.  

“Setiap kali aku ngaca, aku selalu merasa something wrong with me,” Ujar Aya. 

Aya mengaku tak memungkiri, sempat ada fasenya dia ragu untuk tetap tampil sesuai gayanya. Tapi tak mau berlarut-larut dalam penilaian misoginis orang, dia akhirnya kini memilih untuk tidak peduli. 

“Kalau aku nyaman dan percaya diri, kenapa harus berubah cuma karena orang lain nggak suka? Karena jujur tampil rapi ke kampus itu moodbooster banget gitu loh,” ujarnya. 

Pandangan itu perlahan membentuk cara Aya melihat dirinya sendiri. Ia mulai memahami bahwa menjadi perempuan bukan berarti harus memilih antara tampil menarik atau dianggap cerdas. Keduanya bisa berjalan berdampingan tanpa harus saling meniadakan.

Di tengah lingkungan kampus yang masih sering menilai dari tampilan luar, Aya justru ingin membuktikan bahwa perempuan bisa punya karakter kuat dengan tetap mempertahankan sisi femininnya. Ia tetap datang ke kelas dengan gaya yang ia sukai, tetap aktif dalam organisasi, dan terus berpartisipasi di bidang yang ia tekuni. 

“Aku nggak mau orang lain yang nentuin citra aku,” katanya, seolah menegaskan bahwa kepercayaan diri adalah bentuk perlawanan paling lembut yang bisa ia lakukan.

Baca Juga: Stop Beauty Standard, Jangan Menilai dari Penampilan, Tetapi Juga Kebaikan dan Selera Humor

Ia percaya bahwa kecerdasan tidak hanya diukur dari nilai atau prestasi akademik, tetapi juga dari cara seseorang beradaptasi, berkreasi, dan memberi dampak di lingkungannya. “Kita bisa pintar di banyak hal, asal diberi ruang dan kesempatan (yang adil gender),” tegasnya. 

Serupa dengan Aya, seorang mahasiswi berinisial AJ di kampus yang sama juga pernah mengalami hal yang sama. Dia distereotipkan sebagai Perempuan Bimbo, yang katanya hanya peduli sama penampilan dan tidak pintar. 

Saat Ia semester 3 di kampusnya, AJ juga pernah diejek sebagai yang “niat banget sih”. Saat dia pada sesi pagi ke kampus, menggunakan pakaian hitam panjang, rok dan segala macam. Dia juga catokan dan dandan memakai make up

“Menurutku itu kayak sebenarnya, terus kenapa? Karena menurutku dengan aku berdandan, aku berpenampilan menarik, dan aku niat untuk dandan adalah cara aku untuk kuliahku itu tetap asyik. Jadi selain aku berpenampilan untuk diriku sendiri, caraku untuk belajar juga,’ katanya. 

Dia tegas mengatakan, semestinya perempuan punya hak untuk mengekspresikan dirinya. Tanpa ada kebencian terhadapnya. Apalagi sampai dihubung-hubungkan dengan tingkat kecerdasannya yang gak relevan.  

“Perempuan mau dandan apa enggak, terserah kek kenapa kamu pikirin,” tegasnya. 

Baca Juga: Dear Guru dan Lingkunganku, Remaja Perempuan Dibelenggu Aturan Berpakaian, Tugas Kalian Memperbaiki 

Menegaskan soal langgengnya misoginisme, mahasiswi berinisial DM yang saya wawancarai, melihat stereotip Perempuan Bimbo memang sebagai pandangan misoginis, yang memang sudah melekat pada budaya sosial di masyarakat.

Menurutnya, apapun hal tentang perempuan itu selalu aja ada alasan untuk dibenci. Perempuan selalu dihakimi dengan tubuh, penampilan, pilihan, dan apa-apa yang dilakukannya. Misogini terinternalisasi karena nilai patriarki (internalized misogyny) juga sering terjadi di sekitar kita tanpa kita sadari. Bahkan misoginisme bisa terjadi terhadap sesama perempuan. 

 “Everything woman does everything we do itu pasti ada sih salahnya di mata mereka gitu. Bahkan ini kadang juga gak cuma laki-laki yang misoginis, perempuan juga bahkan bisa,” Jelasnya.

Bagaimana mestinya kita bersikap? 

Kita bisa belajar salah satunya dari mahasiswa bernama BA. Sebagai laki-laki dia mengajak kita untuk menjadi ally bagi perempuan untuk tanpa kekangan mengekspresikan dirinya. 

Perempuan yang tampil modis di kampus, menurutnya tak perlu dilabeli sebagai mereka yang tak bisa pintar. Sebab itu adalah bagian dari keragaman gaya dan ekspresi yang semestinya bisa dianggap wajar. Jadi, tidak perlu kita komentari, nilai bahkan labeli. 

Baca Juga: Saatnya Kita Bertanya Tentang Remaja Perempuan Yang Hidupnya Tidak Baik-Baik Saja

Apapun gendernya, setiap orang menurutnya punya cara sendiri untuk merasa nyaman dengan dirinya. 

“Kalau ada teman perempuan yang tampil modis atau feminin, ya aku sih biasa aja. Dan itu haknya dia,” ujar dia. 

Baginya, gaya berpakaian hanyalah salah satu bentuk kebebasan yang seharusnya tak dihakimi. Ia sadar bahwa setiap orang punya selera dan referensinya masing-masing, termasuk dirinya sendiri. 

“Aku juga sadar diri, setiap orang kan pasti punya cara berekspresi. Aku pun juga mengekspresikan diri sesuai apa yang aku mau,” lanjutnya.

Dari pengalaman yang dialami Aya dan AJ, kita jadi bisa teringat tentang hal yang sama pernah dialami oleh Cinta Laura, seorang aktris Indonesia. Di salah satu acara talk show Cinta mengatakan:

 “Orang-orang pikir, I’m just like some type of Bimbo, they don’t know who I really I am. Yaa.. I mean, sebelum aku masuk Columbia University orang-orang ngga tau, aku smart,” Ujar Cinta Laura yang kala itu viral dan ramai diperbincangkan.  

Stop Stereotip, Perempuan Bisa Tampil Nyentrik Dan Pintar 

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Atmajaya Yogyakarta, Caecilia Santi Praharsiwi, S.I.Kom., M.A. mengungkapkan, istilah Bimbo awalnya berasal dari bahasa Italia Bambino yang berarti anak kecil. 

Ketika masuk ke budaya Amerika sekitar awal abad ke20 maknanya jadi bergeser, mula mula ditujukan kepada laki laki yang memang dianggap kekanak kanakan atau tidak serius, namun kemudian berubah menjadi label peyoratif bagi perempuan yang dianggap cantik tapi bodoh.

Fenomena Bimbo yang kini kembali ramai di media sosial, menurutnya sebenarnya bukan hal baru. Sejak lama, gaya feminin dan centil sering kali dianggap bertolak belakang dengan kecerdasan, seolah penampilan mencolok menandakan kekosongan isi kepala.

“Narasi ini kemudian membuat kognitif sosial di masyarakat, dimana kemudian cenderung menilai kecerdasan perempuan itu dari penampilannya, bukan dari kapasitas intelektualnya. Dampaknya adalah perempuan yang penampilannya feminin jatuhnya akan dianggap kurang serius atau dinilai kurang kompeten, atau diragukan kemampuannya di ruang publik maupun di bidang akademik atau di kehidupan sehari-hari pada umumnya,” Ujar Caecilia Santi kepada Konde.co, Kamis (15/10).

Baca Juga: Hati-hati, Influencer Misogini Menyerang Remaja Laki-laki

Dia menjelaskan, munculnya stereotip Perempuan Bimbo yang mengarah ke merendahkan itu, ada campur tangan tentang bagaimana media membentuk cara masyarakat memandang perempuan.

“Media massa terutama film dan iklan kemudian memperkuat stereotip ini dengan menciptakan karakter perempuan yang berpenampilan menarik tapi naif, konsumtif, emosional, atau bahkan melakukan tindakan-tindakan yang bisa dikatakan tidak rasional, tidak masuk akal,” katanya. 

Stereotip ini terus hidup di budaya populer dari era politik Bill Clinton hingga film Mean Girls, Legally Blonde, Gossip Girl, dan Barbie (2023). Di lingkungan kampus pun, bias serupa masih terasa. Mahasiswi yang tampil modis kerap dinilai tidak serius dan kurang mampu menggunakan otaknya, sementara laki-laki dengan gaya serupa jarang mendapat label yang sama.

Menurut Caecilia Santi stereotip Bimbo tidak lahir dari ruang kosong. Ia berakar pada bias gender yang sudah mengakar kuat, yang mengaitkan rasionalitas dan intelektualitas dengan maskulinitas. “Stereotip ini memang berakar pada bias gender yang struktural,” tegasnya. 

“(Di lingkungan) Akademik pun mau tidak mau dibangun dengan norma-norma patriarkal yang sering menilai keseriusan ilmiah dari cara seseorang menampilkan diri. Maka mereka yang tampil feminin atau modis dianggap tidak sesuai dengan citra intelektual yang netral dan serius.”

Baca Juga: Film ‘Barbie’ Mengusung Isu Feminisme dan Menangkal Stereotipe Perempuan

Caecilia menambahkan bahwa pandangan seperti ini justru menjebak perempuan dalam standar ganda. Di satu sisi, mereka dituntut tampil menarik, namun di sisi lain penampilan itu kerap dijadikan alasan untuk meremehkan kapasitas berpikirnya. Padahal fashion, gaya berpakaian, atau tampilan fisik itu tidak ada hubungannya dengan kemampuan berpikir karena keduanya hal yang berbeda. 

“Media massa pun turut memperkuat bias ini. Jarang sekali kita melihat figur perempuan yang cantik dan feminin tapi juga digambarkan sangat cerdas. Yang masih sering muncul justru narasi lama: kalau dia cantik, maka dia akan digambarkan konyol, tidak rasional, atau emosional,” tambahnya.

Caecilia juga mengungkapkan bahwa munculnya Bimbo Feminism tak lepas dari reaksi terhadap pandangan misoginis yang memisahkan kecerdasan dari feminitas. 

“Maka muncul sebagai respon terhadap pandangan misoginis yang memisahkan antara kecerdasan dari feminitas, kalau dia cantik maka dia enggak cerdas, padahal kan harusnya nggak begitu, gerakan ini menegaskan bahwa mencintai mode, make up dan estetika feminin bukan berarti anti intelektual. Hanya karena dia cantik dan bersolek bukan berarti dia tidak pintar,” ujarnya.

“Justru ia mengajak perempuan untuk merebut kembali kontrol atas tubuh dan penampilannya. Bahwa aku bisa mendefinisikan cantikku sendiri dan aku bisa mendefinisikan bagaimana cara aku berpikir,” jelas Caecilia. 

Ia menambahkan, munculnya stereotip Perempuan Bimbo ini, juga bisa kita gunakan untuk membuka percakapan lebih luas tentang beauty privilege yang penting disorot. Di mana perempuan dengan penampilan menarik seringkali memiliki ruang sosial lebih besar, namun juga menghadapi prasangka yang sama kuatnya. Dengan kata lain, beauty privilege bagi perempuan sebenarnya adalah mitos. 

Baca Juga: Komnas Perempuan Tanggapi ‘Rabbani’: Misoginis dan Menyesatkan

Lebih lanjut, Caecilia juga mengingatkan bahwa Bimbo Feminism masih berisiko disalahpahami. “Sebagai bentuk bahwa orang-orang menganggap bahwa dia pengen nonjol aja, udah dandan lalu gaya-gayaan ngomong.”

“Dan ini kadang-kadang pun juga sayangnya muncul dari sesama perempuan itu sendiri, ketika mereka bukannya mengapresiasi apa yang dipikirkan oleh sesama perempuan, tapi tidak jarang itu justru dianggap sebagai bumerang atau dianggap sebagai ketidakcocokan gitu, dianggapnya cuma cantik doang juga banyak juga,” tambahnya.

Di balik beauty privilege yang sering dipandang sebagai keuntungan, ada realitas yang justru melelahkan bagi banyak perempuan. Mereka yang tampil modis sering kali harus berjuang lebih keras untuk menunjukkan bahwa di balik penampilannya ini, ada kapasitas intelektual yang dimiliki.

“Dia harus menunjukkan bahwa dia itu cerdas dia harus bekerja ekstra gitu loh untuk menunjukkan dia itu cerdas untuk mendapatkan pengakuan dibandingkan dengan anak anak yang secara penampilan dia nggak modis tapi orang sudah lebih percaya bahwa yang penampilannya biasa-biasa dan tidak modis ini kecenderungannya lebih pintar padahal pada kenyataannya nggak gitu,” jelas Caecillia Santi.

Dalam pandangannya, bias ini membuat perempuan cantik sering kali ditempatkan di ruang-ruang kerja yang fokus pada visual, bukan pada ide dan gagasan yang menantang.

Dalam dunia pekerjaan sekalipun Caecillia mengungkap bahwa “Beauty” ini juga kemudian menimbulkan bias-bias antara yang cantik-cantik diberi pekerjaan yang intelek di dunia kerja, atau yang cantik-cantik ini kemudian diarahkan pada pekerjaan-pekerjaan yang fokusnya visual, bukan pekerjaan-pekerjaan yang berpikir secara konsep secara ide gagasan yang menantang.

Baca Juga: ‘Who is Victoria and What is Her Secret?’: Victoria’s Secret, Dalam Standar Kecantikan Toksik dan Kultur Misogini

Baginya, perubahan harus dimulai dari ruang akademik yang seharusnya menjadi tempat paling terbuka bagi semua bentuk ekspresi. 

“Kampus itu harus inklusif terhadap semua bentuk ekspresi gender apapun gendernya apapun pilihan-pilihan fashion yang dia pilih entah dia milih tampil feminin dan cantik, lalu kemudian besoknya dia milih buat gembel tidak mandi tidak pakai make up ya gak papa gitu, itu pun juga dengan berbagai macam ekspresi gender yang lain harusnya kampus inklusif terhadap itu semua,” jelasnya.

Hal itu, menurutnya juga berlaku bagi dosen. Supaya dosen tidak hanya menilai atau melakukan judgement kepada mahasiswa-mahasiswa yang tampil modis, lalu dicap dia pasti tidak pintar. 

Tak hanya itu, media juga punya peran penting untuk memberikan narasi yang adil gender. 

“Mengubahnya dengan cara tadi itu, gerakan-gerakan terus mungkin liputan-liputan media seperti yang kamu lakukan ini, karena cara berpikir secara mayoritas itu masih orang menganggapnya ya ketika kamu perempuan maka dianggapnya less valuable,” pungkasnya. 

Sebagai refleksi bagi kita para perempuan: memperjuangkan ruang untuk diakui bukan hanya soal kecantikan, tapi tentang melawan konstruksi yang selama ini mengatur bagaimana mereka seharusnya dipandang.

Pada akhirnya, perjuangan melawan stereotip bukan hanya soal bagaimana perempuan dipandang, tetapi bagaimana mereka mendapat ruang untuk menjadi dirinya sendiri, berpikir, bersuara, dan tampil tanpa harus menyesuaikan diri dengan standar yang dibuat oleh dunia yang bias.

(Editor: Nurul Nur Azizah)

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.