Sebuah studi mendalam mengungkap fenomena unik yang terjadi pada populasi kera Barbary (Macaca sylvanus) di Gibraltar. Para ilmuwan menemukan bahwa monyet-monyet ini secara rutin mengonsumsi tanah atau melakukan perilaku yang dikenal sebagai geofagi. Temuan ini menjadi bukti kuat mengenai bentuk adaptasi cerdas satwa untuk mengatasi gangguan kesehatan akibat pola makan yang tidak alami. Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Scientific Reports menunjukkan hubungan kausalitas yang nyata antara interaksi manusia dan kebiasaan memakan tanah. Tim peneliti dari Gibraltar Macaques Project mencatat bahwa kelompok monyet yang paling sering berada di area wisata memiliki tingkat konsumsi tanah yang jauh lebih tinggi. Sebaliknya, kelompok monyet yang tinggal di area terisolasi dan jarang bersentuhan dengan manusia hampir tidak pernah melakukan perilaku tersebut. Monyet ini memakan makanan olahan yang diberi oleh wisawatan | Foto oleh Martin Nicourt / Gibraltar Macaques Project Para peneliti pertama kali mengamati perilaku ini secara tidak sengaja saat memantau populasi monyet di semenanjung Iberia tersebut. Secara administratif, pemerintah setempat sebenarnya sudah menyediakan pasokan rutin berupa buah-buahan dan sayuran segar bagi 200 hingga 300 ekor monyet yang ada. Namun, arus wisatawan yang masif membawa perubahan besar pada asupan nutrisi mereka. Banyak monyet yang mendapatkan tambahan makanan dari turis baik melalui pemberian langsung maupun dengan cara mencuri tas milik pengunjung. Sylvain Lemoine merupakan seorang antropolog biologi dari University of Cambridge sekaligus penulis senior studi ini. Ia menjelaskan bahwa temuan ini menyoroti bagaimana primata menyesuaikan diri di bentang alam yang didominasi manusia. Fenomena memakan tanah ini sering kali diamati terjadi sesaat setelah monyet mengonsumsi camilan manis…This article was originally published on Mongabay
Monyet-monyet Ini Memakan Tanah, Ilmuwan Ungkap Kaitannya dengan Perilaku Turis
Monyet-monyet Ini Memakan Tanah, Ilmuwan Ungkap Kaitannya dengan Perilaku Turis





Comments are closed.