Thu,13 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. Muktamar Kebudayaan, KH Abdul Mun’im DZ: NU Lahir sebagai Respons atas Penjajahan Fisik, Ekonomi, hingga Intelektual

Muktamar Kebudayaan, KH Abdul Mun’im DZ: NU Lahir sebagai Respons atas Penjajahan Fisik, Ekonomi, hingga Intelektual

muktamar-kebudayaan,-kh-abdul-mun’im-dz:-nu-lahir-sebagai-respons-atas-penjajahan-fisik,-ekonomi,-hingga-intelektual
Muktamar Kebudayaan, KH Abdul Mun’im DZ: NU Lahir sebagai Respons atas Penjajahan Fisik, Ekonomi, hingga Intelektual
service

Jombang, NU Online

Intelektual Nahdlatul Ulama (NU) KH Abdul Mun’im DZ menegaskan bahwa kelahiran NU merupakan respons para ulama terhadap berbagai bentuk penjajahan yang melanda Nusantara, baik secara fisik, ekonomi, intelektual, maupun spiritual. Hal itu disampaikannya dalam Muktamar Kebudayaan Indonesia Lesbumi NU di Universitas KH A Wahab Hasbullah (Unwaha), Sabtu (13/6/2026).

Menurutnya, saat NU berdiri, Nusantara berada dalam tekanan kolonial yang sangat kuat. Penjajahan tidak hanya hadir dalam bentuk penguasaan wilayah, tetapi juga melalui sistem ekonomi yang melemahkan kehidupan rakyat.

“Ketika NU berdiri, penjajahan sangat masif. Kita dijajah secara ekonomi dengan sistem tanam paksa, rakyat dimiskinkan,” ujarnya.

Tidak berhenti pada aspek ekonomi, KH Abdul Mun’im menjelaskan bahwa penjajahan juga merambah ranah intelektual melalui kebijakan politik multietnis yang diterapkan pemerintah kolonial. Menurutnya, sistem tersebut sengaja dibangun untuk memecah belah masyarakat sekaligus melemahkan kekuatan sosial umat Islam.

Ia menyebut dampak dari situasi tersebut begitu besar hingga membawa masyarakat pada stagnasi peradaban. Bahkan, KH Wahab Hasbullah kala itu menggambarkan Indonesia sedang mengalami kemacetan total akibat penjajahan yang menjangkau berbagai lini kehidupan.

“Bukan hanya ekonomi, tetapi juga penjajahan intelektual dan spiritual. Muncul gerakan-gerakan seperti Freemason yang semakin memperparah stagnasi bangsa,” jelasnya.

KH Abdul Mun’im menambahkan, salah satu dampak paling serius dari politik kolonial adalah melemahnya pesantren sebagai pusat pendidikan dan perlawanan umat. Kondisi itulah yang kemudian mendorong para ulama membangun organisasi sebagai wadah konsolidasi perjuangan.

“NU lahir sebagai respons atas stagnasi dan penjajahan itu. Ulama menyatukan barisan agar pesantren tetap bertahan dan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah tetap terjaga,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa tujuan utama perjuangan ulama bukan sekadar mendirikan negara, melainkan memastikan syariat Islam dapat dijalankan dengan jaminan kebebasan tanpa harus mengubah ideologi bangsa.

Menurutnya, prinsip-prinsip syariat Islam sejatinya telah termuat dalam fondasi konstitusi Indonesia, khususnya melalui rumusan Piagam Jakarta yang kemudian menjadi muqaddimah Undang-Undang Dasar.

“Keinginan untuk menjalankan syariat Islam itu sesungguhnya sudah ada dalam rumusan Piagam Jakarta. Di dalam UUD, unsur menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan keberlangsungan hidup sudah termuat,” tegasnya.

Ia menilai tugas generasi saat ini bukan lagi memperdebatkan dasar-dasar tersebut, melainkan memastikan nilai-nilai syariat yang substantif benar-benar hidup dalam tata kelola bangsa dan kehidupan masyarakat.

Kontributor: Achmad Subakti

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.