Mubadalah.id – Setiap Agustus, nama-nama pahlawan kembali kita sebut. Kita mengenang orang-orang yang berjuang melawan penjajahan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun, dari sekian banyak nama yang akrab di telinga, ada sosok perempuan yang kisah perjuangannya belum selalu mendapat ruang yang cukup dalam ingatan kita: Opu Daeng Risaju, pejuang perempuan dari Luwu, Sulawesi Selatan.
Nama kecilnya adalah Famajjah. Ia lahir di Palopo pada 1880 dari keluarga bangsawan Luwu. Gelar Opu Daeng Risaju melekat padanya sebagai gelar kebangsawanan. Ia kemudian menikah dengan Haji Muhammad Daud. Meski tidak menempuh pendidikan formal seperti sekolah kolonial, sejak kecil ia mendapatkan pendidikan agama dan mempelajari Al-Qur’an serta berbagai ilmu keislaman.
Latar belakang tersebut tidak membuatnya memilih hidup hanya di ruang domestik. Ia justru terlibat dalam pergerakan politik dan menjadikan pengetahuan serta pengaruh sosial yang dimilikinya sebagai jalan untuk mengajak masyarakat bergerak.
Perempuan yang Memilih Turun Tangan
Keterlibatan Opu Daeng Risaju dalam pergerakan Sarekat Islam bermula ketika ia berada di Parepare. Ia kemudian aktif dalam organisasi yang berkembang menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Bersama suaminya, ia turut mengembangkan pergerakan tersebut di Palopo.
Pada 1930, cabang PSII di Palopo resmi terbentuk. Opu Daeng Risaju kemudian dipercaya menjadi ketuanya. Dari posisi tersebut, ia tidak hanya menjalankan kegiatan organisasi, tetapi juga berusaha membangun cabang dan ranting Sarekat Islam di sejumlah wilayah Luwu. Penelitian sejarah terbitan dalam Al-Qalam menyebut perannya dalam pengembangan Sarekat Islam dan perintisan pergerakan kemerdekaan di Luwu sebagai kontribusi yang penting. Pilihan itu tentu bukan tanpa risiko.
Aktivitas politik Opu Daeng Risaju membuat pemerintah kolonial Belanda menganggapnya sebagai ancaman. Ia beberapa kali berhadapan dengan aparat kolonial dan keluar-masuk penjara karena aktivitas politiknya. Bahkan, ia harus berhadapan dengan tekanan yang tidak hanya mengancam kebebasannya, tetapi juga kedudukannya sebagai bangsawan. Namun, ia tetap memilih bergerak.
Penelitian sejarah mencatat bahwa Opu Daeng Risaju bahkan rela menanggalkan status kebangsawanannya daripada menghentikan aktivitas politik dan pendidikan politiknya kepada masyarakat.
Di sinilah kisahnya menjadi penting. Ia memiliki kedudukan sosial yang bisa saja membuatnya memilih kehidupan yang lebih aman. Tetapi gelar kebangsawanan tidak membuatnya merasa cukup untuk sekadar menikmati kehormatan. Justru menggunakan ruang sosial yang ia miliki untuk terlibat dalam persoalan masyarakat.
Perjuangan yang Tidak Berhenti pada 1945
Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 bukan akhir dari perjuangan Opu Daeng Risaju. Setelah Indonesia merdeka, situasi di berbagai daerah masih belum benar-benar aman. Belanda berusaha kembali menguasai Indonesia dengan membawa Netherlands Indies Civil Administration (NICA), yaitu pemerintahan administrasi sipil yang bentukan Belanda untuk memulihkan kekuasaannya di wilayah bekas Hindia Belanda.
Kedatangan NICA bersama pasukan Sekutu kemudian memicu berbagai perlawanan di sejumlah daerah, termasuk Sulawesi Selatan. Di Luwu, Opu Daeng Risaju kembali terlibat dalam pergerakan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Pada Januari 1946, Opu Daeng Risaju disebut berperan sebagai penasihat bagi pemuda pejuang di Belopa. Ia turut mendorong perlawanan terhadap kekuatan NICA dan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger), yaitu tentara Kerajaan Belanda di Hindia Belanda, yang berusaha mempertahankan kembali kekuasaan Belanda di wilayah tersebut. Setelah peristiwa itu, Opu Daeng Risaju menjadi salah satu orang yang dicari oleh pasukan Belanda.
Kisah ini memperlihatkan bahwa perjuangan perempuan dalam sejarah kemerdekaan tidak selalu berlangsung dalam bentuk yang sama. Tidak semuanya mengangkat senjata atau berada di medan perang. Ada yang mengorganisasi masyarakat, membangun kesadaran politik, mendampingi gerakan pemuda, dan mempertaruhkan keselamatan karena keyakinannya.
Opu Daeng Risaju adalah salah satunya. Ia wafat di Palopo pada 10 Februari 1964. Pemerintah Republik Indonesia kemudian menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2006.
Perempuan Bukan Pelengkap Sejarah
Kisah Opu Daeng Risaju mengajak kita melihat kembali bagaimana sejarah ditulis dan diingat. Ketika membicarakan perjuangan kemerdekaan, nama-nama laki-laki sering kali lebih dominan dalam ingatan publik. Sementara itu, perempuan tidak jarang ditempatkan sebagai pendamping: istri tokoh, ibu para pejuang, atau mereka yang membantu dari belakang layar. Padahal, ada perempuan yang mengambil keputusan politiknya sendiri.
Opu Daeng Risaju tidak hanya hadir sebagai istri Haji Muhammad Daud. Ia memiliki kiprah organisasinya sendiri, dipercaya memimpin PSII di Palopo, mengembangkan jaringan pergerakan, menghadapi pemerintah kolonial, bahkan menanggung risiko kehilangan kebebasan dan kedudukan sosialnya. Penting bagi kita untuk melihat perempuan bukan hanya sebagai pihak yang ikut merasakan dampak sejarah, tetapi juga sebagai subjek yang turut menciptakan sejarah.
Gagasan ini masih relevan hingga hari ini. Perempuan berhak mengambil bagian dalam kehidupan sosial, pendidikan, organisasi, politik, dan berbagai ruang publik. Bukan untuk menggantikan laki-laki, melainkan karena perempuan juga merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki kemampuan, gagasan, dan tanggung jawab untuk ikut membangun kehidupan bersama.
Mengingat yang Sering Terlupakan
Mengenang Opu Daeng Risaju tidak cukup dengan menghafalkan nama, tempat lahir, atau tahun ia ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Yang lebih penting adalah memahami nilai dari perjuangannya.
Ia menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu hadir dalam bentuk senjata. Keberanian juga bisa berupa kesediaan untuk bersuara ketika suara kita tidak diharapkan, mengambil sikap ketika pilihan itu memiliki risiko, dan menggunakan ruang yang kita miliki untuk membuka jalan bagi orang lain.
Ketika merah putih kembali berkibar pada 17 Agustus, barangkali kita tidak hanya perlu mengingat tokoh-tokoh yang namanya sudah sangat dikenal. Kita juga perlu membuka kembali halaman sejarah yang selama ini mungkin jarang kita baca.
Kemerdekaan Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang namanya sering disebut dalam buku sejarah. Ada pula perempuan seperti Opu Daeng Risaju yang memilih untuk tidak sekadar menyaksikan sejarah berjalan. Karena ia memilih menjadi bagian dari mereka yang menuliskannya. []





Comments are closed.