Mubadalah.id – Drama Korea berjudul The Apartment Job, adalah sebuah drama yang menawarkan kombinasi komedi kriminal, satire sosial, dan intrik politik lingkungan apartemen. Premisnya terdengar absurd, seorang mantan bos gangster mencalonkan diri sebagai ketua asosiasi penghuni apartemen demi menguasai dana cadangan miliaran won, namun justru di situlah daya tarik utamanya.
Park Hae-gang (Ji Sung) membutuhkan uang sebesar 10 miliar won untuk menyelamatkan sosok ayah angkatnya. Demi mendapatkan dana tersebut, dia berusaha memenangkan pemilihan ketua penghuni. Namun rencananya berubah ketika menemukan jaringan korupsi yang melibatkan pengelola, pengembang, dan penghuni berpengaruh. Yang paling menarik dari drama ini adalah para penghuni apartemen menciptakan dinamika yang hangat, yaitu “found family” sepanjang ceritanya.
Found Family
Dalam Drama Korea tersebut, teori found family sangat melekat dalam alur ceritanya. Found family atau keluarga pilihan adalah konsep yang menggambarkan sekelompok orang tanpa memiliki hubungan darah atau hubungan keluarga formal.
Kelompok tersebut membangun ikatan emosional yang kuat sehingga berfungsi seperti keluarga. Mereka saling mendukung, melindungi, memberi rasa aman, dan menjadi sumber identitas. Mereka mengisi kekosongan emosional sebagai tempat kembali ketika keluarga biologis tidak mampu memenuhi kebutuhan emosional tersebut.
Dalam film, novel, dan drama Korea, found family sering muncul ketika tokoh utama menemukan “keluarga baru” melalui persahabatan, komunitas, tempat kerja, pesantren, atau kelompok perjuangan bersama.
Contoh dalam Drama Korea, terkait found family mulai dari judul Hospital Playlist: lima dokter yang menjadi sahabat selama puluhan tahun. My Mister: hubungan saling menguatkan antara Park Dong-hoon dan Lee Ji-an serta komunitas tetangga di sekitarnya.
Teori Found Family dalam Fungsinya
Sebenarnya found family bukan teori formal yang berdiri sendiri seperti teori Bandura atau kepemimpinan. Konsep ini berhubungan dengan teori sosial dan psikologi: Teori Kelekatan atau Attachment Theory dari John Bowlby, teori ini menjelaskan bahwa manusia membutuhkan hubungan yang aman atau secure attachment, untuk berkembang secara sehat. Jika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi dalam keluarga biologis, seseorang dapat membangun ikatan kelekatan dengan orang lain tanpa hubungan darah yang berfungsi sebagai keluarga.
Selain itu, Teori Dukungan Sosial atau Social Support Theory, menurut teori ini, kesejahteraan individu sangat dipengaruhi oleh dukungan emosional, informasional, dan instrumental dari jaringan sosial. Found family menjadi sumber dukungan sosial yang penting.
Teori Identitas Sosial atau Social Identity Theory oleh Tajfel & Turner, seseorang membentuk identitas melalui keanggotaannya dalam kelompok. Ketika individu merasa saling menerima dalam suatu komunitas, kelompok tersebut dapat menjadi “keluarga” yang memberikan rasa memiliki atau istilahnya sense of belonging.
Teori Modal Sosial atau Social Capital oleh Pierre Bourdieu & Robert Putnam, hubungan sosial yang kuat menghasilkan kepercayaan, kerja sama, dan sumber daya bersama. Dalam konteks found family, ikatan tersebut menciptakan modal sosial yang membantu individu menghadapi berbagai tantangan hidup.
Manusia Kesepian dan Self Worth
Konsep found family sangat relevan bagi seseorang yang mengalami kesepian atau kehilangan dukungan keluarga. Memulai kembali karier setelah jeda panjang. Berada dalam lingkungan baru. Mencari komunitas yang mendukung pertumbuhan diri. Dalam konteks ini, found family membantu membangun, rasa berharga (self-worth), rasa diterima (acceptance), kepercayaan diri, dan ketahanan psikologis (resilience).
Secara akademik, jika kita ingin memahami konsep found family, teori yang paling sering berguna sebagai landasan adalah Attachment Theory, Social Support Theory, dan Social Identity Theory, karena ketiganya menjelaskan bagaimana hubungan non-biologis dapat berfungsi layaknya keluarga dan memengaruhi kesejahteraan individu. Ya, kita membutuhkan hubungan yang menyerupai found family di dunia kerja, tetapi dalam bentuk yang sehat dan profesional.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa manusia tidak hanya bekerja untuk mendapatkan penghasilan, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan akan rasa memiliki (belonging), dukungan sosial, pengakuan, dan makna. Ketika seseorang merasa berkumpul dengan orang yang menganggap keberadaannya seperti di tengah rekan kerja, cenderung lebih termotivasi, lebih tahan terhadap stres, dan lebih puas dengan pekerjaannya.
Namun, found family di tempat kerja tidak berarti semua rekan kerja harus menjadi sahabat dekat atau keluarga pengganti. Yang lebih penting adalah terciptanya lingkungan yang memiliki karakteristik, saling menghormati dan mendukung. Aman untuk menyampaikan pendapat dan kesalahan (psychological safety). Terdapat mentor atau senior yang peduli pada perkembangan junior. Rekan kerja saling membantu saat menghadapi kesulitan. Keberhasilan dan kegagalan adalah sebuah sebagai tanggung jawab bersama.
Perempuan Hiatus Kembali Bekerja di Usia Tak Muda
Bagi perempuan yang memasuki kembali dunia kerja setelah jeda panjang karena mengurus keluarga, found family sering menjadi faktor yang sangat membantu.
Dukungan dari atasan, mentor, atau rekan kerja dapat meningkatkan kepercayaan diri, mengurangi perasaan tertinggal, mempercepat adaptasi terhadap perubahan, dan memberi ruang untuk berkembang tanpa merasa terdiskriminasi.
Dalam banyak kasus, seorang mentor yang percaya pada kemampuan kita bisa menjadi sosok yang sama pentingnya dengan keluarga dalam membangun kembali identitas profesional.
Konsep “keluarga” di tempat kerja juga memiliki risiko secara berlebihan. Beberapa perusahaan menggunakan narasi “kita adalah keluarga” untuk mendorong loyalitas tanpa batas, sehingga karyawan merasa bersalah jika menolak lembur, mengambil cuti, atau menetapkan batasan pribadi. Karena itu, hubungan kerja yang sehat sebaiknya adalah: “Kita saling peduli seperti menjaga keluarga, tetapi tetap menghormati batas profesional.”
Dari perspektif self-worth, salah satu pelajaran penting adalah bahwa self-worth tidak boleh bergantung sepenuhnya pada penerimaan di tempat kerja. Found family dapat menjadi sumber dukungan yang berharga, tetapi nilai diri tetap perlu berakar pada keyakinan bahwa kita berharga sebagai manusia. Bukan hanya karena kinerja, jabatan, atau pengakuan dari rekan kerja. Kita bekerja seperti membangun keluarga.
Ya, kita membutuhkan rasa kebersamaan dan dukungan yang menyerupai found family di dunia kerja, tetapi dengan batas yang sehat dan profesional. Hubungan seperti itu dapat menjadi sumber kekuatan, terutama ketika seseorang sedang membangun kembali karier, menghadapi perubahan hidup, atau mencari makna dalam pekerjaannya seperti dari drama Korea The Apartement Job. []





Comments are closed.