Lantunan selawat menggema di sekitar makam Syeikh Abdullah Selomanik, Kalilembu, Kejajar Wonosobo, Rabu (8/7) malam.
“Ya Rabbi Sholli ‘Ala Muhammad” bersahutan para vokal dan yang mengiringi pada malam itu di sebuah makam yang berada di ketinggian kisaran 2000 MDPL ini.
Silih bergiliran satu persatu warga sekitar mulai mengisi dan berdatangan menuju makam yang bertempat di bukit. Berpakaian rapi, ada yang berpeci dan tidak ketinggalan jaket yang menyertai hingga selimut tipis atau jarik yang tertempel untuk menghangatkan badan.
Seperti khasnya orang pegunungan mensiasati hawa dingin. Tua, muda, bapak-bapak, ibu, bersama anak-anaknya saling mengisi tempat di sekitar cungkup makam Mbah Abdullah Selomanik Kalilembu Kejajar Wonosobo.
Diketahui, Syekh Abdullah Selomanik, atau dikenal juga sebagai Ki Ageng Selomanik, merupakan salah satu tokoh sentral dalam penyebaran dakwah di wilayah Wonosobo, khususnya di dataran tinggi Dieng.
Bisa dibilang beliau termasuk yang mengawali atau membuka tatanan peradaban Islam di lereng Dieng, tentunya ada tokoh lainnya yang persebarannya banyak di beberapa wilayah. Namun pada intinya yang bisa ambil pesannya, Mbah Abdullah Selomanik adalah salah satu sesepuh yang menjaga Iman-Islam pada saat itu dan sampai sekarang.
Mengecek suhu dalam gawai, tampak 16 derajat celsius, dingin yang terasa dalam genggaman tangan, kaki, apalagi akan terasa dingin ketika terkena air.
Menjaga air wudhu seperti “diawet-awet” memang agak membantu, meskipun ketika kita tengah batal dari menjaga air suci, menandakan bahwa dengan ‘dawamul wudhu’ atau ketika kita batal wudhu dan senantiasa melanggengkan wudhu di Kalilembu ini adalah bagian dari tirakat. Mungkin.
Nah, kisaran pukul 20.00 lebih sedikit para warga mulai berdatangan, bahkan dari luar Wonosobo sudah dari jauh-jauh hari. Misalnya dari daerah Banten, Cilacap, Demak, Magelang hingga Semarang sudah standby di makam Mbah Abdullah Selomanik sejak satu hari sebelum haul Mbah Selomanik digelar.
Diketahui, haul Mbah Abdullah Selomanik sendiri dilaksanakan pada hari Kamis, (9/7) pagi untuk pengajian umum dengan dihadiri para mubaligh dari Jakarta dan Magelang.
Yaitu Dr. KH Marsudi Syuhud, M.M dari Jakarta dan KH Ahmad Izzudin, Lc, M.S,I dari Tegalrejo Magelang.
Selawat pun masih dibacakan oleh vokal-vokal pada malam itu, membaca pasal ke pasal atau rowi pada Maulid Al-Barzanji.
Terlihat para hadirin yang berziarah di makam Kalilembu ini menyimak dengan khusyu’ dan khidmat, meresapi rowi-rowi yang dibacakan, sesekali mengucapkan kalimat “Allah” atau “Ya Rasulullah”.
Menjeda pembacaan maulid Al-Barzanji sendiri diselingi lantunan selawat yang digaungkan bersama-sama “Ya Rasulullah” hingga “Laa Ilaha Illa Allah Al-Malikul Haqqul Mubin” dengan nada khas Jawi yang dekat dengan masyarakat pegunungan, seakan nostalgia zaman dahulu.
Hingga sampai pada Mahalul Qiyam, selawat Ya Nabi Salam ‘Alaika juga marhaban, para hadirin yang berziarah masih menyimak dan mengikuti, meski terlihat masih banyak yang menyusul para Zairin (peziarah) berdatangan.
Doa dibacakan oleh salah satu pimpinan rombongan Tahlil dan pembacaan selawat nabi di makam Mbah Abdullah Selomanik, suara amiin ya Allah terdengar lirih, dari masing-masing jamaah yang hadir pada acara tahlilan malam pada haul di Kalilembu malam kemarin.
Sebelum dipungkasi dengan al-Fatihah, masih disambung dengan kalimat toyyibah dan para jemaah yang hadir agak telat pun masih silih bergantian mengisi ruang-ruang sekitar maqbaroh untuk melangsungkan wirid dan umbul dungo.
Di sela-sela menanti acara pada haul Mbah Abdullah Selomanik Kalilembu ini, para warga sekitar pun menyambut dengan gembira dan khidmat tentu.
Wujud gembira adalah dengan menyambut siapa saja yang hadir, dengan “ngampirke” open house bagian dari rasa syukur dan ikromu-duyuf, memuliakan tamu yang hadir dalam haul di lereng jajaran pegunungan Dieng-Gunung Prau.
Hingga hal ini menjadi sebuah kekaguman tersendiri bagi jamaah yang hadir dalam khurmat “Haul Syekh Abdullah Selomanik” dalam obrolan malam itu, jemaah asal Cilacap mengungkapkan bentuk kekaguman warga masyarakat sekitar dalam guyub rukun, tabarrukan, ngalap berkah.
Pada akhirnya ungkapannya menjadi hikmah untuk dirinya dan bagi yang mendengarkan sebagai pesan dengan mengibaratkan seperti pepaya, di daerah dataran rendah pepaya masih besar, ketika menjajaki di Jawa dingin, anggaplah Dieng ini, amsal pepaya ini menjadi kecil, yaitu carica.
Menurutnya, memang kita di suatu tempat terkadang merasa besar, namun di lain tempat-waktu boleh jadi kita tidak ada apa-apanya (kecil) apalagi di hadapan Tuhan.
Lain kisah lagi para jemaah yang hadir pun terkadang memiliki ‘utang rasa’ kepada sahibul haul sehingga tidak mungkin tidak datang ke Kalilembu untuk sowan kembali dan obat klangenan tersendiri.
Bahkan di setiap orang yang hadir memiliki kesan dan pengalaman tersendiri. Tentunya kisah-kisah ini baru sekilas yang bisa digali dari sebuah obrolan singkat di sela haul Syaikh Abdullah Selomanik Kalilembu Kejajar Wonosobo, banyak kisah yang dapat dihimpun dan direnungkan meski sekadar lingkaran singkat menghangatkan suasana dan cuaca dingin Dieng yang agak merasuk menembus jaket atau pakaian.





Comments are closed.