Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Orbiting: Hubungan Usai, Tapi Story Tetap Dipantau

Orbiting: Hubungan Usai, Tapi Story Tetap Dipantau

orbiting:-hubungan-usai,-tapi-story-tetap-dipantau
Orbiting: Hubungan Usai, Tapi Story Tetap Dipantau
service

Bincangperempuan.com- Pernah berhenti komunikasi dengan seseorang entah gebetan atau mantan? Kalian sudah tidak berbicara lagi. Sudah tak berkirim pesan, dan tidak ada upaya memperbaiki keadaan. 

Namun, namanya selalu muncul di daftar teratas unggahan story. Pokoknya dia orang yang terus menekan tombol like di story kamu. Bahkan beberapa kali terlihat mengunjungi akun TikTok milikmu. Sesekali menyukai unggahan lama. Kadang terlihat aktif tepat setelah kamu membagikan sesuatu. Ia tidak menghubungi kamu, tetapi terus memantau akun media sosialmu.

Situasi seperti ini dikenal sebagai orbiting—ketika seseorang menghentikan komunikasi secara langsung, tetapi tetap memantau dari kejauhan melalui media sosial.

Apa Itu Orbiting?

Orbiting adalah kondisi ketika seseorang menghentikan komunikasi langsung, tetapi tetap mempertahankan kehadirannya di media sosialmu. Pelaku tidak mulai bicara atau menyapa, tapi terus memantau dari kejauhan.

Berbeda dengan ghosting yang membuat seseorang menghilang sepenuhnya, orbiting justru mempertahankan jejak. Berbeda pula dengan breadcrumbing yang masih melibatkan pesan singkat atau interaksi kecil untuk menjaga harapan. Dalam orbiting, tidak ada komunikasi langsung, hanya kehadiran yang menggantung.

Kehadiran ini sering kali membuat posisi menjadi tidak jelas. Apakah hubungan benar-benar selesai? Ataukah masih ada kemungkinan? Tidak ada jawaban tegas, hanya tanda-tanda samar yang membuka ruang untuk banyak tafsir.

Baca juga: Ketika Parasocial Relationship Jadi Pedang Bermata Dua

Mengapa Seseorang Melakukan Orbiting?

Menurut penjelasan dari Attachment Project, orbiting umumnya dipicu oleh rasa ingin tahu, kecemburuan, kesepian, atau kesulitan untuk benar-benar melepaskan. Seseorang mungkin belum siap sepenuhnya kehilangan akses terhadap kehidupan mantannya, meskipun sudah memilih untuk berhenti berkomunikasi.

Penelitian tentang perilaku “social media monitoring” oleh Fox (2015) menemukan bahwa tingkat tekanan emosional setelah putus berhubungan dengan kecenderungan untuk terus memantau mantan pasangan secara daring. Semakin besar komitmen dalam hubungan tersebut, semakin tinggi tekanan yang dirasakan saat hubungan berakhir. Pemantauan melalui media sosial menjadi cara untuk tetap merasa terhubung, meski hanya sepihak.

Penelitian lain juga mengaitkan orbiting dengan gaya keterikatan atau attachment style. Individu dengan anxious attachment, yang cenderung merasa cemas akan penolakan dan membutuhkan kepastian emosional, lebih mungkin melakukan orbiting. Sementara itu, individu dengan avoidant attachment cenderung mengambil jarak secara lebih tegas.

Psikolog Vincenzo Maria Romeo menjelaskan dalam Attachment Project bahwa orbiting menciptakan rasa kehadiran yang belum selesai. Orang yang menjadi target orbiting harus menafsirkan sinyal-sinyal tidak langsung tanpa adanya komunikasi terbuka. Kondisi ini dapat menghambat penyelesaian emosional dan memperpanjang perasaan terikat.

Peran Media Sosial

Sebenarnya, perilaku seperti ini bukan hal baru. Sebelum media sosial berkembang, orang mungkin mencari kabar mantan melalui teman bersama atau secara tidak sengaja datang ke tempat yang sama. Namun kini, akses itu menjadi jauh lebih mudah.

Media sosial menghilangkan banyak hambatan antara dorongan dan tindakan. Ketika muncul rasa penasaran, seseorang bisa langsung membuka profil mantan dalam hitungan detik. Tidak perlu usaha besar, untuk berbicara secara langsung.

Kemudahan ini membuat orbiting semakin umum dilakukan. Platform seperti Instagram, Facebook, atau X memungkinkan seseorang tetap berada dalam lingkaran digital tanpa harus menjalin komunikasi yang nyata.

Baca juga: Backburner Relationship, Ketidakjelasan dalam Hubungan

Dampak bagi yang Mengalami

Bagi orang yang menjadi target orbiting, pengalaman ini bisa terasa membingungkan. Pada awalnya, kehadiran mantan di media sosial mungkin memberi sedikit rasa diakui. Ada perasaan bahwa hubungan tersebut belum sepenuhnya dilupakan.

Namun, tanpa komunikasi yang jelas, harapan mudah tumbuh tanpa arah. Seseorang bisa saja menafsirkan orbiting sebagai tanda ingin kembali melanjutkan hubungan, lalu mencoba membuka percakapan. Jika respons yang diterima tetap dingin atau tidak konsisten, luka lama dapat kembali terasa.

Ketidakjelasan yang terus berlangsung dapat menghambat proses pemulihan. Alih-alih benar-benar melepaskan, pikiran justru terus terikat pada pertanyaan yang tidak pernah dijawab.

Dampak bagi Pelaku

Orbiting juga tidak sehat bagi pelakunya. Dengan terus memantau, seseorang sebenarnya sedang mempertahankan keterikatan yang belum selesai. 

Orbiting menjadi cara untuk mencari kepastian secara diam-diam. Apakah si dia sudah bahagia? Apakah sudah memiliki pasangan baru? Apakah keputusan untuk berpisah sudah tepat? Sayangnya, jawaban yang diperoleh dari pengamatan sepihak jarang memberi ketenangan jangka panjang.

Perlukah Membuat Batasan?

Jika kamu merasa tidak nyaman dengan perilaku orbiting, menetapkan batasan bisa menjadi langkah yang perlu dipertimbangkan. Batasan tidak selalu harus dimulai dengan percakapan panjang. Mengatur privasi akun, membatasi akses, atau bahkan memblokir bisa menjadi cara untuk melindungi diri.

Jika komunikasi masih memungkinkan dan dirasa aman, membicarakan perasaanmu juga dapat membantu. Namun yang terpenting adalah memastikan bahwa kebutuhan emosionalmu tetap menjadi prioritas.

Orbiting sering muncul bukan karena niat menyakiti, melainkan karena seseorang belum benar-benar selesai dengan perasaannya atau belum siap melepaskan akses. Namun, apa pun alasannya, dampaknya tetap nyata. Kehadiran yang terus muncul tanpa komunikasi yang jelas dapat mempertahankan kebingungan dan menghambat proses pulih.

Perpisahan membutuhkan kejelasan, bukan sekadar jarak fisik, tetapi juga batas digital. Jika kehadiran yang menggantung justru memperpanjang luka, menetapkan batas bukanlah tindakan berlebihan, melainkan bentuk perlindungan diri. Ruang yang tegas memberi kesempatan untuk benar-benar menutup bab yang lama dan membuka kemungkinan yang lebih sehat di depan.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.