Mubadalah.id – Hampir setiap tahun, pemandangan yang sama terulang di lingkunganku, ibu-ibu berkumpul di satu-satunya sumber air di kampung. Mereka akan mulai berdatangan mulai dari matahari baru terbit hingga langit mulai gelap.
Mereka mengantre bukan cuma untuk mengambil air bersih, tapi juga sambil mengerjakan pekerjaan domestik, mulai dari mencuci baju, mencuci piring, memandikan anak dan menuntaskan pekerjaan-pekerjaan domestik lainnya.
Bahkan belakangan aku baru sadar bahwa sebagian dari mereka harus berjalan kaki sekitar 30 menit hingga 1 jam untuk bisa sampai ke sumber air tesebut.
Di sisi lain, mereka juga harus melewati jalan yang menanjak sambil menggendong anak atau membawa ember-ember besar berisi pakaian dan alat-alat dapur.
Dulu aku menganggap bahwa pemandangan tersebut terlihat sangat wajar. Seolah-olah alam secara natural memang akan kehilangan sumber dayanya dengan cepat, dan sumur yang makin sering kering itu cuma bagian dari siklus alam yang mesti diterima begitu saja.
Tapi belakangan, setelah aku mulai membaca tulisan-tulisan tentang isu kerusakan lingkungan. Maka aku jadi paham bahwa musim kemarau yang tahun ke tahun makin panjang dan makin parah di kampungku itu enggak terjadi begitu saja, itu merupakan salah satu bentuk dari perubahan iklim.
Bahkan di berbagai belahan dunia, dampak krisis iklim sudah sangat mengkhawatirkan. Mulai dari suhu ekstrem yang makin sering terjadi, kebakaran hutan yang meluas, gletser yang meleleh. Hingga krisis pangan dan kelaparan yang mengancam jutaan orang. Termasuk kehidupan perempuan.
Dampak Perubahan Iklim pada Perempuan dan Anak
Laporan terbaru UN Women memperkirakan bahwa pada 2050, sekitar 158 juta perempuan dan anak perempuan akan terjerumus ke dalam kemiskinan akibat perubahan iklim, jumlah ini 16 juta lebih banyak dibanding laki-laki dan anak laki-laki yang mengalami nasib serupa.
Angka itu bukan kebetulan. Dalam banyak realitas sosial, termasuk di kampungku, perempuan selalu dituntut untuk menanggung beban menyediakan kebutuhan dasar keluarga, mulai dari menyediakan air bersih, pangan, energi rumah tangga.
Seringkali pekerjaan ini dianggap sepele, tetapi nyatanya perempuan banyak menghabiskan waktu dan tenaganya dalam menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan domestik ini.
Sehingga, ketika krisis iklim memicu kekeringan atau gagal panen, kehidupan perempuan makin berat. Mereka harus bekerja lebih lama, berjalan lebih jauh, demi memastikan kebutuhan air dan pangan tersedia di dalam rumah.
Beberapa kajian menyebutkan bahwa perubahan iklim turut berkontribusi pada putus sekolahnya anak perempuan. Ketika sumber daya makin terbatas, anak perempuan biasanya yang lebih dulu diminta membantu ibunya mengerjakan pekerjaan domestik.
Hal serupa terjadi di kampungku. Sebagian anak perempuan tidak melanjutkan sekolah karena harus membantu ibunya mengurus rumah tangga. Sebagian lain memilih bekerja ke kota sebagai asisten rumah tangga, dan ada juga yang menikah di usia muda.
Pilihan-pilihan ini umumnya bukan murni pilihan mereka sendiri, melainkan dampak dari kondisi ekonomi keluarga. Semakin banyak keluarga di kampungku yang tadinya mengandalkan hasil pertanian kini menghadapi gagal panen yang lebih sering akibat perubahan iklim.
Rentan Mengalami Kekerasan
Ketika penghasilan dari bertani tidak lagi bisa ia andalkan, keluarga mencari berbagai cara untuk bertahan. Salah satunya dengan membiarkan anak perempuan bekerja atau menikah lebih awal, agar beban ekonomi keluarga sedikit berkurang.
Akibatnya seperti yang Layyin Lala sampaikan dalam tulisannya yang berjudul “Menilik Perempuan Sebagai Dampak Utama Perubahan Iklim” di Mubadalah.id, kondisi-kondisi tersebut membuat perempuan kian rentan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.
Hal ini terjadi karena ketika kebutuhan kelurga dasar tidak terpenuhi, ia seperti tidak pandai mengurus keluarga, tidak pandai mengatur keuangan, dan menjadi pelampiasan anggota keluarga lain.
Melihat dampak-dampak tersebut, mengatasi krisis iklim tidak cukup hanya lewat pembangunan infrastruktur atau pengurangan emisi. Kebijakan iklim juga perlu mengintegrasikan perspektif gender, agar perempuan dan anak perempuan terlindungi, memiliki akses yang setara terhadap hak-hak dasar. Serta dapat berpartisipasi secara bermakna dalam perumusan dan pelaksanaan aksi iklim. []





Comments are closed.