Mon,27 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Patriarki yang Diam-Diam Hidup dalam Pikiran Perempuan

Patriarki yang Diam-Diam Hidup dalam Pikiran Perempuan

patriarki-yang-diam-diam-hidup-dalam-pikiran-perempuan
Patriarki yang Diam-Diam Hidup dalam Pikiran Perempuan
service

Bincangperempuan.com– Ketika seorang ibu mengunggah momen liburan atau merawat diri, narasi yang muncul justru, “Anaknya kok nggak dibawa?” Atau ketika ada yang bercerita tentang relasi pernikahan yang sudah tidak sehat, komentar yang datang malah menuduhnya mengumbar aib suami dan menyuruh bertahan.

Bahkan dalam pengalaman melahirkan pun, ada standar yang dianggap paling benar. Persalinan normal dipuji sebagai perjuangan, sementara operasi sesar kerap dipandang kurang “keibuan” atau kurang berjuang. Perempuan yang belum menikah pun tidak luput dari nasihat serupa seperti diminta memaklumi pasangan yang jelas-jelas tidak sejalan. “Memang kebanyakan laki-laki begitu,” katanya. Seolah-olah sikap pasangan yang tidak hadir secara emosional adalah sesuatu yang wajar.

Bahkan dalam kasus kekerasan seksual, respon serupa sering muncul. Korban justru dipertanyakan hubungan atau kedekatannya dengan pelaku, apakah pernah tertarik, mengapa masih berhubungan setelah kejadian. Alih-alih fokus pada tindakan pelaku, sorotan beralih pada perilaku korban.

Pernyataan-pernyataan berulang dalam percakapan sehari-hari. Bahkan sering kali justru diucapkan oleh perempuan kepada perempuan lain. Mengapa ini bisa terjadi? Bukankah sesama perempuan harus saling mendukung satu sama lain?

Baca: Queen Bee Syndrome: Fenomena Sosial di Tengah Dominasi Maskulinitas

Kenapa Perempuan Bisa Menjatuhkan Sesamanya?

Dalam artikelnya di Forbes Shawn Andrews—konsultan kepemimpinan dan pakar isu gender serta kecerdasan emosional—membahas fenomena mengapa perempuan tidak selalu mendukung perempuan lain. 

Ia mengutip konsep “power dead-even rule” dari Pat Heim dalam buku Hardball for Women: Winning at the Game of Business. Aturan tak kasatmata ini menggambarkan kecenderungan dalam relasi perempuan untuk menjaga keseimbangan harga diri dan kekuasaan agar tetap “setara”. 

Ketika ada perempuan yang dianggap melampauinya (lebih sukses, lebih terlihat, lebih berani bersuara) reaksi yang muncul bisa berupa gosip, pengucilan, atau meremehkan. Semua itu terjadi secara tidak sadar sebagai cara mempertahankan keseimbangan tersebut.

Selain itu, Andrews juga menyinggung Queen Bee Syndrome, yaitu ketika perempuan yang sudah berada di posisi tinggi justru tidak banyak mendukung perempuan lain. Dalam lingkungan yang didominasi laki-laki, sebagian perempuan merasa perlu tampil lebih tegas, kompetitif, dan menjaga jarak agar bisa diterima. Akibatnya, solidaritas dengan perempuan lain menjadi bukan prioritas.

Selain itu, ketika ruang atau posisi strategis bagi perempuan masih terbatas, persaingan menjadi lebih ketat. Jika kesempatan dianggap sempit, kecenderungan untuk membawa perempuan lain naik bisa menurun karena sistemnya memang mendorong kompetisi, bukan kolaborasi.

Patriarki yang Terinternalisasi dalam Pikiran Perempuan

Namun, persoalannya tidak berhenti di dinamika relasi semata. Tetapi berakar lebih dalam pada sistem nilai yang kita warisi yaitu patriarki. Gupta, Madabushi, dan Gupta (2023) dalam jurnal Cureus menjelaskan bahwa penindasan sistemik terhadap perempuan dan diskriminasi berbasis gender memiliki akar historis yang panjang serta berdampak pada perkembangan psikologis dan kesehatan mental perempuan.

Bias yang lahir dari sistem ini sering bekerja secara sadar maupun tidak sadar, tertanam dalam budaya, praktik sosial, dan bahkan cara kita memandang diri sendiri.

Proses mengadopsi nilai patriarki ini tidak terasa seperti tekanan dari luar. Social conditioning bukan suara asing yang terdengar jelas di kepala. Lebih seperti kebiasaan berpikir yang sudah tertanam lama, lalu terasa seolah-olah itu memang pikiran kita sendiri.

Sejak kecil kita mendengar pesan yang sama berulang-ulang—perempuan harus sabar, harus bertahan, jangan terlalu vokal. Lama-kelamaan pesan itu jadi otomatis. Saat melihat perempuan lain mengambil keputusan berbeda, reaksi menghakimi muncul begitu saja, tanpa sadar bahwa itu hasil pola yang sudah dibentuk sejak lama.

Otak juga cenderung mempertahankan keyakinan yang sudah ada. Kita lebih mudah menerima hal yang sesuai dengan kepercayaan kita, dan cenderung menolak yang bertentangan. Akhirnya, keyakinan itu terasa seperti kebenaran mutlak.

Inilah mengapa narasi seperti perempuan baik harus bertahan, harus memprioritaskan rumah atau korban pasti punya andil bisa terdengar wajar. Dalam konteks kekerasan seksual, pola ini berbahaya. Ketika korban diminta menjelaskan pakaian, kedekatan, atau respon setelah kejadian, beban pembuktian bergeser dari pelaku ke korban. 

Padahal banyak riset menunjukkan bahwa kekerasan seksual kerap terjadi dalam relasi yang sudah dekat. Kedekatan bukanlah persetujuan. Bertahan dalam hubungan bukan berarti tidak ada pelanggaran. 

Standarnya hampir perempuan ideal adalah yang tahan, mengalah, dan berkorban. Ketika perempuan ikut mengulang standar itu kepada perempuan lain, kita melihat bagaimana patriarki bekerja secara internal. Ia tidak selalu dipaksakan; sering kali ia diteruskan karena dianggap normal.

Baca: Women Rage: Mengapa Kemarahan Perempuan Sering Diabaikan?

Bagaimana Mengubah Pola Pikir Patriarki?

Namun, pola pikir ini bukan sesuatu yang tak bisa diubah. Perubahan memang tidak instan, dan mungkin terasa tidak nyaman. Menggugat keyakinan yang sudah lama dipegang akan memicu resistensi, bahkan dari diri sendiri. Tetapi langkah pertama adalah dengan menyadari bias-bias ini.

Menyadari pesan-pesan apa yang selama ini kita terima tentang menjadi perempuan. Menyadari standar mana yang benar-benar kita yakini, dan mana yang sebenarnya hanya kita warisi. Menyadari bagaimana komentar yang terdengar ringan bisa memperkuat sistem yang merugikan perempuan lain dan pada akhirnya, diri kita sendiri.

Pembebasan bisa dimulai dari berhenti menghakimi, menahan diri untuk tidak berkomentar yang menyudutkan, memilih bertanya dengan empati alih-alih curiga. Satu pikiran yang dikaji ulang, satu asumsi yang dipertanyakan, satu narasi yang diubah.

Mengubah cara pandang yang sudah lama tertanam butuh waktu dan kesadaran. Tapi perubahan biasanya dimulai dari hal yang kecil—dari mau berhenti sejenak sebelum menghakimi, dan berani mempertanyakan ulang keyakinan yang selama ini dianggap normal.

Referensi:

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.