Wed,22 April 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. #Aswaja
  3. PB PMII Soroti Ancaman Kedaulatan Agraria di Tengah Bayang-Bayang Militerisme

PB PMII Soroti Ancaman Kedaulatan Agraria di Tengah Bayang-Bayang Militerisme

pb-pmii-soroti-ancaman-kedaulatan-agraria-di-tengah-bayang-bayang-militerisme
PB PMII Soroti Ancaman Kedaulatan Agraria di Tengah Bayang-Bayang Militerisme
service

Jakarta, NU Online

Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) menyoroti ancaman terhadap kedaulatan agraria di tengah menguatnya pendekatan keamanan dalam berbagai konflik agraria di Indonesia.

Hal ini mengemuka dalam Diskusi Nasional bertajuk Kedaulatan di Tanah Sendiri? Menguji Agraria Sejati di Tengah BayangBayang Militerisme yang digelar di Sekretariat PB PMII, Salemba, Jakarta, pada Rabu (11/3/2026).

Direktur LPP PB PMII Muhaemin Abdul Basith mengatakan, kegiatan diskusi ini merupakan bagian dari ikhtiar intelektual PMII untuk terus mengawal arah kebijakan agraria nasional agar tetap berpihak pada rakyat, khususnya petani.

“Isu agraria bukan sekadar persoalan distribusi tanah, tetapi menyangkut masa depan kedaulatan bangsa. Ketika tanah; sebagai sumber kehidupan rakyat berhadapan dengan kepentingan kekuasaan, investasi besar, bahkan pendekatan keamanan, maka yang terancam bukan hanya petani, tetapi fondasi keadilan sosial itu sendiri,” tegas Muhaemin, melalui keterangan yang diterima NU Online, pada Kamis (12/3/2026).

Ia menambahkan, berbagai konflik agraria yang terjadi di Indonesia kerap menunjukkan ketimpangan kekuasaan antara masyarakat dengan kekuatan negara maupun korporasi. Dalam banyak kasus, pendekatan yang digunakan justru lebih bernuansa keamanan dibandingkan upaya penyelesaian yang berkeadilan.

“Kita tidak boleh membiarkan reforma agraria kehilangan rohnya. Jika reforma agraria hanya berhenti pada legalisasi administrasi tanpa menyentuh ketimpangan struktural penguasaan tanah, maka yang terjadi hanyalah reproduksi ketidakadilan dalam wajah yang baru,” lanjutnya.

Menurut Muhaemin, PMII memandang reforma agraria harus ditempatkan dalam kerangka keadilan sosial, perlindungan terhadap petani, serta penguatan kedaulatan pangan nasional.

Ia menegaskan, tanah tidak boleh diposisikan semata sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai ruang hidup yang menentukan keberlanjutan masyarakat desa.

“Negara harus memastikan bahwa kebijakan agraria benar-benar berpihak pada rakyat kecil. Tanah adalah ruang hidup petani, bukan sekadar aset yang bisa diperebutkan oleh kekuatan modal maupun kepentingan politik. Jika negara abai, maka konflik agraria akan terus berulang dan menggerus kepercayaan rakyat terhadap keadilan hukum,” ujarnya.

Muhaemin berharap diskusi nasional yang digelar LPP PB PMII ini dapat melahirkan gagasan, kritik, serta rekomendasi kebijakan yang dapat memperkuat arah reforma agraria di Indonesia. Selain itu, ia berharap pengelolaan tanah tetap berpijak pada prinsip keadilan, keberlanjutan, dan kedaulatan rakyat.

“Kegiatan ini juga menjadi ruang konsolidasi gagasan antara mahasiswa, akademisi, pembuat kebijakan, dan organisasi masyarakat sipil untuk bersama-sama menjaga agenda reforma agraria agar tidak menyimpang dari mandat konstitusi,” jelas Muhaemin.

Sebagai informasi, diskusi nasional ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, antara lain Anggota DPR RI Fraksi PKB Muhammad Khozin, Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika, serta Sekretaris Jenderal Serikat Petani Pasundan Agustiana.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.