Mon,31 August 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Opinion
  3. PCINU AS-Kanada Ajak Umat Islam Maknai Idul Fitri sebagai Momentum Evaluasi Diri

PCINU AS-Kanada Ajak Umat Islam Maknai Idul Fitri sebagai Momentum Evaluasi Diri

pcinu-as-kanada-ajak-umat-islam-maknai-idul-fitri-sebagai-momentum-evaluasi-diri
PCINU AS-Kanada Ajak Umat Islam Maknai Idul Fitri sebagai Momentum Evaluasi Diri
service

Jakarta, NU Online

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Amerika Serikat-Kanada mengajak umat Islam untuk memaknai Idul Fitri sebagai momentum evaluasi diri atas kualitas ibadah selama bulan Ramadhan.

Ajakan tersebut disampaikan oleh Wakil Ketua PCINU Amerika dan Kanada Tgk Aula Andika Fikrullah dalam momentum Idul Fitri 1447 Hijriah, Sabtu (21/3/2026), melalui akun resmi PCINU Amerika Serikat-Kanada. Ia merujuk kepada pandangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, terkait tentang esensi Idul Fitri.

Menurutnya, Idul Fitri tidak seharusnya dimaknai sekadar sebagai perayaan berakhirnya puasa, melainkan sebagai ruang refleksi spiritual atas amal ibadah yang telah dijalani selama Ramadan.

Ia menegaskan bahwa kemenangan tidak cukup diukur dari selesainya ibadah puasa, tetapi dari sejauh mana amal tersebut diterima oleh Allah.

“Pertanyaan yang perlu kita ajukan kepada diri sendiri adalah: apakah kita yakin doa-doa kita diterima? Apakah ketaatan ibadah kita selama Ramadan diterima? Dan apakah dosa-dosa kita telah diampuni?” ujar pria kelahiran Aceh itu.

Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan inti refleksi spiritual seorang Muslim dalam menyambut Idul Fitri.

Ia menjelaskan bahwa keraguan terhadap diterimanya amal bukanlah sesuatu yang negatif, melainkan bentuk kesadaran untuk terus memperbaiki diri.

“Jika kita belum yakin amal kita diterima, maka jalan terbaik adalah melanjutkan kebaikan, memperbanyak ibadah, dan menjaga hubungan dengan Allah secara istiqamah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tgk Aula menekankan bahwa Ramadan bukanlah tujuan akhir, melainkan proses pendidikan spiritual yang harus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa tidak sedikit orang yang menunjukkan semangat tinggi dalam beribadah selama Ramadan, tetapi kembali pada kebiasaan lama setelah bulan suci berakhir.

“Di sinilah letak ujian sebenarnya. Apakah kita mampu menjaga nilai-nilai Ramadan setelahnya atau tidak,” ujarnya.

Ia mengatakan, ukuran kemenangan sejati terletak pada kemampuan seseorang dalam menjaga konsistensi ibadah dan akhlak setelah Ramadan.

“Kemenangan bukan pada hari rayanya, tetapi pada perjalanan setelahnya. Apakah kita tetap menjaga shalat, zikir, sedekah, dan akhlak sebagaimana di bulan Ramadan,” ungkap penerima beasiswa USAID PRESTASI dari seluruh Indonesia.

Ia juga menegaskan bahwa Idul Fitri merupakan momentum untuk kembali kepada fitrah, yakni kesucian hati yang tercermin dalam perilaku nyata sehari-hari.

“Kemenangan bukan diukur dari pakaian baru atau kemeriahan perayaan, tetapi dari perubahan diri yang lebih baik,” ujar akademisi yang kini tengah menempuh studi pascasarjana pada program Master of Science in Instructional Technology di Lehigh University, Amerika Serikat itu.

Lebih jauh, Tgk Aula mengajak umat Islam, khususnya diaspora Indonesia di Amerika dan Kanada, untuk menjadikan Idul Fitri sebagai titik awal dalam memperkuat komitmen menjalani kehidupan yang lebih religius dan berakhlak.

Ia mengatakan, tantangan hidup di luar negeri justru dapat menjadi peluang untuk menunjukkan kualitas keimanan dan keteladanan sebagai Muslim.

“Kita harus mampu menjaga nilai-nilai Islam di mana pun berada. Justru di tengah tantangan, kita dituntut untuk lebih kuat dan konsisten,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga istiqamah dalam menjalankan kebaikan, meskipun dalam bentuk yang sederhana.

“Amal yang kecil tetapi terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amal besar yang tidak berkelanjutan,” ujarnya.

Tgk Aula mengajak umat Islam untuk tidak menjadikan Ramadhan sebagai satu-satunya momentum beribadah, melainkan menjadikan seluruh kehidupan sebagai ladang amal.

“Idul Fitri adalah awal, bukan akhir. Mari kita jaga semangat Ramadan dan membuktikan kemenangan itu dengan amal yang berkelanjutan,” pungkasnya.

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.