Pemadaman listrik bergilir di sejumlah kota-kota di Jawa, dan Sumatera belum lama ini membuat warga kelimpungan. Sejumlah usaha besar dan kecil termasuk manufaktur mengalami kerugian akibat terputusnya pasokan listrik ini. Berbagai kalangan pun mengingatkan beratap rentan menggantungkan listrik kepada energi fosil dan dorong beralih ke energi terbarukan. “Biaya rumah tangga dan produksi bisa naik, memicu peningkatan biaya, secara makro mempengaruhi kepastian akses investasi,” kata Berly Martawardaya, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) dalam diskusi daring bertajuk “Di Balik Pemadaman Listrik: Menelisik Keandalan Sistem Energi dan Urgensi Transisi Energi Berkeadilan”, Jumat (25/6/26). Bagi dia, fenomena pemadaman listrik sebagai anomali di tengah produksi setrum yang kelebihan kapasitas dalam 10 tahun terakhir. Apalagi, berdasar data INDEF, konsumsi perkapita listrik Indonesia atau rata-rata penggunaan listrik penduduk per kwh per tahun masih di bawah Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Dia soroti sikap pemerintah yang masih memprioritaskan pembangkit berbahan fosil, seperti gas dan batubara ketimbang memberi ruang pada energi terbarukan. Padahal, perhitungan biaya energi terbarukan seperti surya dan angin lebih murah. Dampaknya, ketika harga batubara naik dan pasokan berkurang, produksi listrik turun yang berujung pada pemadaman bergilir. “Batubara kini mahal karena ketidakpastian konflik, supply minyak terganggu. Produsen batubara Indonesia mengekspor dua kali lebih banyak dibanding dalam negeri karena harga jual ke luar lebih mahal,” katanya. Sejak 2019, dalam data terlihat produksi batubara meningkat. Pada 2024 misal, produksi batubara capai 836 juta, 11% di atas target 711 juta ton. Dari angka itu, volume ekspor capai 555 juta ton, pasokan dalam negeri (domestic market obligation/DMO)…This article was originally published on Mongabay
Pemadaman Listrik Bergilir Pertegas Kerentanan Energi Fosil
Pemadaman Listrik Bergilir Pertegas Kerentanan Energi Fosil





Comments are closed.