Mon,4 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Environment
  3. Pemulihan Bencana Sumatera: Tak Hanya Negara, Korporasi pun Harus Bertanggung Jawab

Pemulihan Bencana Sumatera: Tak Hanya Negara, Korporasi pun Harus Bertanggung Jawab

pemulihan-bencana-sumatera:-tak-hanya-negara,-korporasi-pun-harus-bertanggung-jawab
Pemulihan Bencana Sumatera: Tak Hanya Negara, Korporasi pun Harus Bertanggung Jawab
service

Banjir bandang dan  longsor di Sumatera, sudah lebih sebulan berlalu. Banjir yang datang bersama kayu gelondongan dan lumpur menyisakan masalah besar dan perlu penanganan segera. Ratusan ribu warga masih di tempat-tempat pengungsian darurat karena rumah rusak maupun hilang karena tertimbun, berbagai infrastruktur pun masih rusak. Data BNPB menyebutkan, korban meninggal dalam bencana Sumatera sampai awal Januari 2026 sekitar 1.177 dan 147 hilang. Pengungsi mencapai 242.200 jiwa. Bencana tak hanya di Sumatera, juga Kalimantan, Sulawesi, Papua sampai Maluku Utara. Merujuk data BNPB, sepanjang 2025, bencana di Indonesia 3.233 kali, sebagian besar merupakan bencana hidrologis dengan korban meninggal dan hilang mencapai 1.843 orang. Bencana besar di Sumatera tak imbangi pula dengan respon penanganan oleh pemerintah. Bahkan, pemerintah tidak menetapkan bencana  nasional dan menolak bantuan internasional. Pemerintah berdalih, Indonesia mampu menangani situasi krisis ini. Uli Artha Siagian, dari Walhi Nasional menekankan lagi bahwa penyebab bencana ekologis karena kebijakan pemerintah dan aktivitas korporasi. Pemerintah,  juga harus menegaskan korporasi harus menanggung biaya eksternalitas dari bencana. Negara tidak boleh menanggung biaya eksternalitas itu sendiri. Sebab, anggaran bersumber dari uang pajak rakyat. “Negara juga harus menagih tanggung jawab korporasi untuk memulihkan ekosistem yang telah mereka rusak. Mereka telah menikmati keuntungan besar dari eksploitasi alam, saatnya mereka juga ditagih tanggung jawab untuk memulihkannya.” Sementara Jaya Darmawan, Peneliti Ekonomi Lingkungan Celios mengatakan, besarnya kerugian akibat musibah ini tidak sebanding dengan kapasitas fiskal pemerintah dalam merespons dan memulihkan dampak bencana. Dia bilang, analisis Celios menunjukkan, banjir di Sumatera menyebabkan kerugian ekonomi materiil mencapai Rp68,67 triliun secara nasional. Sementara di Aceh…This article was originally published on Mongabay

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.