Jakarta, Arina.id—Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang terpilih dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama pada 27—31 Agustus 2026 di Tambakberas Jombang diharapkan memiliki tiga modal utama agar mampu membawa organisasi menjawab tantangan zaman.
Direktur Eksekutif Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengatakan pemimpin NU pertama-tama harus memiliki pemahaman yang kuat terhadap dinamika yang sedang dan akan dihadapi, baik dalam konteks internal NU maupun perkembangan Indonesia secara keseluruhan.
“Dia harus paham dan mengerti tentang apa yang sedang terjadi dan akan terjadi baik dalam konteks NU maupun Indonesia. Dia harus paham kira-kira landscape NU dalam lima tahun, 10 tahun ke depan seperti apa,” ujar Cak Hasan dalam podcast bersama Cak Nanto dikanal Aktual Forum dikutip Rabu (5/8).
Kedua, calon pemimpin NU juga harus memiliki gagasan dan visi yang jelas mengenai arah organisasi. Menurutnya, visi menjadi fondasi penting agar NU mampu beradaptasi dengan perubahan yang terus berlangsung.
“Kedua, harus punya gagasan dan visi di tengah dia paham perubahan yang terjadi. Dia harus paham ide gagasan untuk menjawab NU mau dibawa ke mana. Melihat dari perubahan landscape yang terjadi,” bebernya.
Kriteria ketiga, pemimpin NU punya kemampuan mengorkestrasi seluruh sumber daya yang dimiliki NU, mulai dari sumber daya manusia, perangkat organisasi, badan otonom (banom), hingga berbagai lembaga yang berada di bawah naungan NU.
“Dia harus mampu menggerakkan itu, bisa menjadi orkestrator atas berbagai sumber daya yang ada,” jelasnya.
Ketiga kompenan ini, kata Cak Hasan, harus dikuasai semua bakal calon ketua umum PBNU yang akan maju digelanggang Muktamar NU di Tambakberas Jombang.
“Tiga komponen ini menurut saya tidak bisa hanya dipilih salah satu. Tiga-tiganya harus dimiliki oleh siapapun yang akan memimpin,” jelasnya.
Hasanuddin juga menegaskan bahwa NU tidak bisa menghindari perubahan yang terjadi di masyarakat. NU harus terlibat aktif dalam menjawab berbagai tantangan, termasuk menyiapkan program untuk generasi muda.
“NU mau tidak mau harus terjun ke situ. Contohnya pesantren. Banyak anak muda yang memilih belajar di pesantren, termasuk di Tebuireng. Ini menunjukkan NU memiliki modal besar untuk menyiapkan generasi masa depan,” pungkasnya.





Comments are closed.