Thu,14 May 2026
USD41,57
%0.21
EURO48,55
%0.10
GBP55,54
%0.10
BIST11.258,72
%-1.04
GR. ALTIN5.012,06
%0.23
İstanbul
Ankara
İzmir
Adana
Adıyaman
Afyonkarahisar
Ağrı
Aksaray
Amasya
Antalya
Ardahan
Artvin
Aydın
Balıkesir
Bartın
Batman
Bayburt
Bilecik
Bingöl
Bitlis
Bolu
Burdur
Bursa
Çanakkale
Çankırı
Çorum
Denizli
Diyarbakır
Düzce
Edirne
Elazığ
Erzincan
Erzurum
Eskişehir
Gaziantep
Giresun
Gümüşhane
Hakkâri
Hatay
Iğdır
Isparta
Kahramanmaraş
Karabük
Karaman
Kars
Kastamonu
Kayseri
Kırıkkale
Kırklareli
Kırşehir
Kilis
Kocaeli
Konya
Kütahya
Malatya
Manisa
Mardin
Mersin
Muğla
Muş
Nevşehir
Niğde
Ordu
Osmaniye
Rize
Sakarya
Samsun
Siirt
Sinop
Sivas
Şırnak
Tekirdağ
Tokat
Trabzon
Tunceli
Şanlıurfa
Uşak
Van
Yalova
Yozgat
Zonguldak
  1. News
  2. Lentera
  3. Perempuan Menguatkan Tradisi Keilmuan: Lebih Dekat dengan Hj. Ida Fatimah Krapyak

Perempuan Menguatkan Tradisi Keilmuan: Lebih Dekat dengan Hj. Ida Fatimah Krapyak

perempuan-menguatkan-tradisi-keilmuan:-lebih-dekat-dengan-hj.-ida-fatimah-krapyak
Perempuan Menguatkan Tradisi Keilmuan: Lebih Dekat dengan Hj. Ida Fatimah Krapyak
service

Mubadalah.id – Di tengah perkembangan zaman yang bergerak cepat, pesantren tetap menjadi salah satu benteng penting dalam menjaga tradisi keilmuan Islam di Indonesia. Di balik kuatnya tradisi itu, terdapat banyak sosok perempuan yang selama ini bekerja dalam diam, mengajar tanpa lelah, membimbing santri, dan menjaga nilai-nilai adab agar tetap hidup di tengah masyarakat. Salah satu figur yang memiliki peran besar dalam tradisi tersebut adalah Hj. Ida Fatimah Krapyak.

Nama beliau tidak asing di lingkungan pesantren Krapyak Yogyakarta. Selain terkenal sebagai pengasuh pesantren dan aktivis perempuan NU, beliau juga menjadi bagian dari jajaran A’wan PBNU. Kiprah panjangnya memperlihatkan bagaimana perempuan pesantren mampu menjadi penjaga ilmu sekaligus penggerak sosial di tengah masyarakat.

Hj. Ida Fatimah lahir pada 4 Agustus 1952 dari keluarga religius yang dekat dengan dunia pesantren dan organisasi keagamaan. Ayah beliau, KH. Abdurrohman, dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan, sementara ibunya, Hj. Aisyah, aktif di Muslimat NU. Lingkungan keluarga yang religius inilah yang membentuk karakter beliau sejak kecil.

Sejak muda, Hj. Ida terkenal aktif dalam organisasi. Saat masih sekolah, beliau pernah menjadi ketua IPPNU Komisariat Khadijah dan aktif dalam kegiatan OSIS. Jiwa kepemimpinan dan semangat pengabdiannya tumbuh bersamaan dengan tradisi keilmuan pesantren yang beliau jalani.

Tumbuh dari Lingkungan Pesantren dan Tradisi Organisasi

Perjalanan pendidikan beliau kemudian membawanya ke Yogyakarta. Di kota inilah beliau belajar di lingkungan pesantren Krapyak, termasuk di kompleks Nurussalam yang saat itu diasuh Mbah Kyai Dalhar. Setelah itu, beliau juga sempat menimba ilmu di Pesantren Pandanaran. Lingkungan pesantren tidak hanya membentuk kemampuan intelektualnya, tetapi juga memperkuat pandangannya tentang pentingnya pengabdian sosial dan pendidikan umat.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau kemudian menikah dengan KH. Zainal Abidin Munawwir, putra ke-9 KH. Munawwir Krapyak. Pernikahan ini semakin menguatkan keterlibatan beliau dalam dunia pesantren dan pendidikan Islam. Dari keluarga besar Al-Munawwir itulah beliau melanjutkan pengabdian dalam membina masyarakat dan mendidik santri.

Yang menarik dari sosok Hj. Ida Fatimah adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara dunia keluarga, pesantren, dan organisasi. Dalam banyak kasus, perempuan sering dipaksa memilih salah satu peran. Namun beliau menunjukkan bahwa perempuan dapat tetap aktif di ruang publik tanpa meninggalkan tanggung jawab keluarga dan pendidikan pesantren.

Keteguhan seperti ini menjadi penting di tengah masyarakat modern yang sering memandang perempuan pesantren hanya berada di belakang layar. Hj. Ida justru memperlihatkan bahwa perempuan bisa menjadi penggerak sosial sekaligus penjaga tradisi keilmuan Islam yang kuat.

Perempuan Pesantren dan Jalan Pengabdian Sosial

Tradisi pesantren selama ini melahirkan banyak tokoh laki-laki yang dikenal publik. Namun sesungguhnya, di balik kehidupan pesantren terdapat sosok-sosok nyai yang menjadi fondasi penting dalam pendidikan dan pembentukan karakter santri. Peran itu pula yang tampak dalam perjalanan hidup Hj. Ida Fatimah.

Beliau terkenal aktif berdakwah, mengisi pengajian masyarakat, mengajar kitab kuning, dan terlibat dalam berbagai organisasi sosial keagamaan. Selain aktif di Muslimat NU, beliau juga pernah menjadi anggota DPRD Bantul selama dua periode.

Keterlibatan beliau di dunia organisasi dan politik bukan sekadar soal jabatan, tetapi bagian dari pengabdian terhadap masyarakat. Dalam banyak kesempatan, beliau menekankan pentingnya perempuan hadir membawa nilai-nilai kebaikan, kerja sama, dan kepedulian sosial. Menurutnya, perempuan dapat menjadi kekuatan positif dalam kepemimpinan selama tetap menjaga akhlak dan pola pikir yang baik.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa perempuan pesantren tidak hanya bicara soal pendidikan agama, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap persoalan sosial masyarakat. Hal inilah yang membuat figur nyai memiliki kedekatan kuat dengan umat.

Di tengah era modern, ketika banyak orang lebih sibuk mengejar popularitas dan pencitraan, sosok seperti Hj. Ida menghadirkan teladan berbeda. Beliau memperlihatkan bahwa pengabdian tidak harus selalu tampil besar di ruang publik. Kadang justru lahir dari kerja-kerja sunyi. Mendidik santri, mengisi pengajian kampung, membimbing masyarakat, dan menjaga tradisi ilmu agar tidak hilang ditelan zaman.

Kehadiran perempuan ulama seperti beliau juga penting dalam memperkuat wajah Islam yang teduh dan membumi. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan moral dan kemanusiaan. Di sinilah perempuan pesantren memainkan peran yang sangat besar.

Menjaga Warisan Keilmuan Perempuan Ulama

Tradisi keilmuan pesantren selama ini bertahan bukan hanya karena kitab-kitab yang diajarkan, tetapi juga karena adanya keteladanan hidup dari para kiai dan nyai. Santri belajar bukan hanya melalui pelajaran formal, tetapi juga melalui sikap sehari-hari para pengasuh pesantren.

Hj. Ida Fatimah menjadi contoh bagaimana perempuan dapat menjadi pusat pendidikan karakter. Kesederhanaan, kedisiplinan, dan konsistensinya dalam mengabdi menjadi pelajaran penting bagi generasi muda hari ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, wacana tentang kebangkitan ulama perempuan semakin menguat. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi perempuan dalam sejarah Islam Indonesia mulai mendapatkan perhatian lebih luas. Namun sebenarnya, perempuan pesantren telah lama menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan ilmu dan pendidikan umat.

Sosok Hj. Ida Fatimah menjadi bukti bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam tradisi Islam Nusantara. Kiprahnya di pesantren, organisasi, dan masyarakat memperlihatkan bahwa perempuan bukan sekadar pendamping, tetapi juga penggerak perubahan sosial dan pendidikan.

Keberadaan beliau di lingkungan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak juga memperlihatkan bagaimana pesantren tetap menjadi ruang penting bagi lahirnya perempuan-perempuan berilmu. Dalam tradisi pesantren, ilmu tidak hanya terwariskan melalui buku, tetapi juga melalui keteladanan hidup dan kedekatan emosional antara guru dan murid.

Warisan terbesar seorang nyai bukanlah kekayaan atau popularitas, melainkan generasi yang tumbuh dengan ilmu dan akhlak yang baik. Dari tangan perempuan-perempuan pesantren lahir ribuan santri yang kemudian menyebarkan nilai-nilai Islam moderat dan penuh penghormatan terhadap sesama.

Di tengah tantangan zaman digital yang serba cepat, figur seperti Hj. Ida Fatimah menjadi pengingat bahwa kekuatan pendidikan tidak selalu lahir dari teknologi atau kemegahan institusi. Kadang kekuatan itu justru tumbuh dari ketulusan mengajar, kesabaran membimbing, dan konsistensi menjaga nilai-nilai moral.

Karena itu, mengenal lebih dekat sosok Hj. Ida Fatimah bukan hanya tentang membaca biografi seorang tokoh perempuan pesantren. Lebih dari itu, ini adalah cara memahami bagaimana perempuan selama ini ikut menjaga denyut tradisi keilmuan Islam di Indonesia.

Di tengah arus modernitas, perempuan pesantren tetap berdiri menjaga cahaya ilmu agar terus menyala. Dan sosok Hj. Ida Fatimah Krapyak menjadi salah satu wajah penting dari perjuangan panjang tersebut. Semoga beliau senantiasa dalam lindungan Allah. []

Sumber:

Azizah, Nur. “Biografi Nyai Hj. Ida Fatimah Zaenal, M.Si.” Tokoh Wanita, 13 Februari 2022. Diakses 12 Mei 2026. tokohwanita.com

LADUNI.ID. “Biografi Nyai Hj. Ida Fatimah Zaenal, M.Si.” Diakses 12 Mei 2026. LADUNI.ID

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pesantren dan Otoritas Perempuan: Studi Pemikiran Nyai Hj. Ida Fatimah Krapyak Yogyakarta. Diakses 12 Mei 2026. Digilib UIN Sunan Kalijaga

0
emoji-1
Emoji
0
emoji-2
Emoji
0
emoji-3
Emoji
0
emoji-4
Emoji
0
emoji-5
Emoji
0
emoji-6
Emoji
0
emoji-7
Emoji
Berlangganan Newsletter Kami Sepenuhnya Gratis Jangan lewatkan kesempatan untuk tetap mendapatkan informasi terbaru dan mulai berlangganan email gratis Anda sekarang.

Comments are closed.

Login

To enjoy kabarwarga.com privileges, log in or create an account now, and it's completely free!

Install App

By installing our application, you can access our content faster and easier.

Ikuti Kami
KAI ile Haber Hakkında Sohbet
Sohbet sistemi şu anda aktif değil. Lütfen daha sonra tekrar deneyin.