Dengarkan artikel ini:
Ketika sebagian besar pemimpin dunia memilih bunker komunikasi — berbicara lewat pernyataan tertulis, konferensi pers yang dikontrol ketat, atau diam sama sekali — Reem Al Hashimy, Menteri Negara untuk Kerjasama Internasional UAE, melakukan sebaliknya. Ia tampil langsung. Ia simpul baru kepemimpinan tokoh perempuan di Jazirah Arab.
Dalam mitologi Yunani, ketika dewa-dewa Olympus dilanda krisis paling gelap, bukan Zeus yang turun tangan pertama kali — melainkan Athena. Dewi kebijaksanaan sekaligus perang itu tidak berteriak, tidak mengacungkan pedang dengan nafsu merusak. Ia berdiri, berpikir, lalu berbicara. Dan kata-katanya mengubah arah sejarah.
Ribuan tahun kemudian, pada malam-malam gelap Maret 2026 ketika langit Dubai dihujani ratusan rudal balistik dan ribuan drone Iran, dunia menyaksikan sesuatu yang terasa seperti pengulangan mitos itu — hanya kali ini, Athena mengenakan setelan formal dan berbicara dalam bahasa Inggris fasih di depan kamera CNN.
Namanya Reem Al Hashimy. Dan ia bukan sekadar menteri.
Ketika sebagian besar pemimpin dunia memilih bunker komunikasi — berbicara lewat pernyataan tertulis, konferensi pers yang dikontrol ketat, atau diam sama sekali — Reem Al Hashimy, Menteri Negara untuk Kerjasama Internasional UAE, melakukan sebaliknya. Ia tampil langsung. Duduk di depan kamera Becky Anderson di CNN, dengan latar belakang Abu Dhabi yang masih diliputi ketegangan, dan berbicara dengan kalimat-kalimat yang terukur namun menghantam keras.
Ia menegaskan bahwa UAE tidak akan menerima serangan Iran yang dianggap tidak sah dan tidak berdasar. Ia mengumumkan penutupan kedutaan besar UAE di Teheran. Ia menyerukan Dewan Keamanan PBB untuk bertanggung jawab. Namun di napas yang sama, ia berkata: “The door for diplomacy never closes. Iran is a neighbour to us, will always be a neighbour to us, geographically.”
Inilah paradoks yang hanya bisa dikelola oleh diplomat kelas dunia: keras sekaligus terbuka, tegas sekaligus tidak menutup jalan pulang. Dalam krisis terbesar yang pernah dihadapi UAE dalam sejarah modernnya — lebih dari 1.000 serangan gabungan yang menjadikan negara itu sebagai target paling sering dibanding semua negara Teluk lainnya — wajah yang dipilih pemerintah untuk berbicara kepada dunia adalah wajah seorang perempuan berusia 47 tahun yang tidak pernah mengangkat senjata seumur hidupnya.
Pilihan itu bukan kebetulan. Itu adalah pernyataan.
Perbandingannya menarik jika kita menoleh ke Condoleezza Rice, yang pada 2001 menjadi perempuan pertama menjabat National Security Advisor Amerika Serikat — dan kemudian Secretary of State — di tengah krisis pasca-9/11 yang mengguncang dunia. Rice dikenal karena kemampuannya menjaga kepala tetap dingin di ruang-ruang yang didominasi pria militer dan intelijen.
Reem Al Hashimy adalah Rice versi Teluk Arab: sama-sama beroperasi dalam sistem yang historis maskulin, sama-sama membuktikan bahwa otoritas bukan soal gender — melainkan soal kapabilitas.
Perjalanan Seorang Diplomat yang Tidak Lahir dari Meja Bundar
Untuk memahami mengapa Reem bisa berdiri di titik itu, kita perlu mundur ke belakang.
Ia lahir dalam keluarga yang sudah akrab dengan koridor kekuasaan. Ayahnya, Dr. Saeed Al Hashimy, adalah mantan Menteri Negara UAE — menjadikan Reem generasi kedua keluarga ini dalam kabinet federal. Namun warisan keluarga hanya membuka pintu; yang membuatnya bertahan dan naik adalah perjalanan intelektualnya yang luar biasa.
Reem menempuh sarjana di Tufts University, Amerika Serikat, mengambil Hubungan Internasional dan Bahasa Prancis — sekolah yang melahirkan diplomat-diplomat paling tajam dari ekosistem Barat. Kemudian ia meraih gelar master dari Harvard University, sebelum memilih mengambil doktoratnya di Tsinghua University, Beijing — pilihan yang pada masanya terasa tidak konvensional, namun hari ini terbaca sebagai keputusan visioner. Ia membangun jembatan intelektual ke China jauh sebelum Belt and Road menjadi topik utama geopolitik global.
Kariernya dimulai sebagai diplomatik bilateral di Washington D.C., lalu naik ke Deputy Chief of Mission di Kedutaan UAE untuk Amerika Serikat. Pada 2008, ia masuk kabinet federal — salah satu dari segelintir perempuan pertama. Namun puncak visibilitasnya datang lewat satu proyek yang mengubah wajah Dubai selamanya: Expo 2020.
Sebagai Director General Expo 2020 Dubai, Reem memimpin pameran dunia pertama yang pernah digelar di Timur Tengah, Afrika, dan Asia Selatan — menghadirkan 24 juta pengunjung dalam enam bulan, di tengah bayangan pandemi yang belum sepenuhnya reda. Tidak ada jabatan yang lebih baik untuk menguji kemampuan manajemen, diplomasi multilateral, dan komunikasi global secara bersamaan.
Jika Rice adalah Reem dalam konteks keamanan militer, maka dalam konteks pembangunan institusional, Reem lebih mendekati Gro Harlem Brundtland — mantan Perdana Menteri Norwegia yang tiga kali menjabat dan kemudian memimpin WHO, dikenal karena kemampuannya membangun konsensus dari kekacauan. Brundtland pernah berkata bahwa kepemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang tidak perlu membuktikan dirinya setiap hari, tapi konsisten menjalankannya. Reem Al Hashimy tampaknya menjalani prinsip itu tanpa pernah mengucapkannya.
Ketika Timur Tengah Menulis Ulang Narasinya Sendiri
Reem bukan anomali. Ia adalah puncak yang paling terlihat dari sebuah gunung es yang sudah lama bergerak di bawah permukaan.
UAE hari ini menempatkan sembilan perempuan dalam kabinet federal dari 33 total anggota — 27 persen, salah satu proporsi tertinggi di kawasan. Setengah dari kursi Federal National Council diisi oleh perempuan. Empat pilot tempur perempuan aktif bertugas di angkatan udara UAE, termasuk yang berpartisipasi langsung dalam operasi militer. Sekolah militer khusus perempuan pertama di Teluk Arab — Khawla bint Al Azwar Military School — berdiri sejak 2014.
Alexander Wendt, teoretikus konstruktivisme dalam hubungan internasional, berargumen dalam Social Theory of International Politics (1999) bahwa identitas negara bukan sesuatu yang given — ia dibentuk secara aktif melalui tindakan, narasi, dan pilihan. UAE secara sadar mengkonstruksi identitasnya sebagai negara yang modern, inklusif, dan kompatibel dengan nilai-nilai global — dan kepemimpinan perempuan seperti Reem adalah bagian integral dari konstruksi identitas itu.
Ini bukan feminisme liberal Barat yang diekspor paksa; ini adalah model yang tumbuh dari dalam, yang menemukan legitimasinya justru dalam kerangka nilai Islam yang menempatkan keadilan dan kepemimpinan berbasis kompetensi di atas segalanya.
Narasi ini terasa semakin kuat ketika dibandingkan dengan tokoh-tokoh perjuangan perempuan dari dunia yang berbeda. Malala Yousafzai, yang pernah ditembak hanya karena ingin bersekolah di Pakistan, pernah berkata: “I raise up my voice — not so I can shout, but so that those without a voice can be heard.” Reem Al Hashimy tidak berjuang untuk haknya bersekolah atau berbicara — ia lahir dalam kondisi yang jauh lebih beruntung. Namun apa yang ia lakukan dengan keberuntungan itu adalah hal yang Malala perjuangkan: membuktikan bahwa suara perempuan bukan hanya layak didengar, tapi diperlukan di meja-meja tempat keputusan paling berat dibuat.
Reem adalah produk dari sistem yang memilih untuk berubah dari atas ke bawah — bukan melalui revolusi, tapi melalui desain. Dan dalam konteks Timur Tengah yang masih bergolak, model itu mungkin justru yang paling bisa bertahan lama.
Athena tidak pernah memohon izin untuk berdiri di Olympus. Ia ada di sana karena memang tempatnya di sana.
Begitu pula Reem Al Hashimy — berdiri di bawah langit Dubai yang baru saja dijaga dari hantaman rudal, berbicara kepada dunia atas nama 10 juta manusia yang mempercayakan keselamatannya pada negara.
Dan negara itu memilih untuk berbicara lewat suara seorang perempuan. (S13)





Comments are closed.